https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/issue/feedApplicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)2026-02-03T11:58:06+07:00Sekretariat AVoERavoer@ft.unsri.ac.idOpen Journal Systems<p align="justify">Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Masyarakat <strong><em>Applicable Innovation of Engineering and Science Research</em></strong> (<strong>AVoER)</strong> merupakan wadah untuk mendiskusikan hasil-hasil penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh para akademisi dan praktisi dari berbagai bidang sains, teknologi, dan lingkungan untuk mendukung pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. Forum ini merupakan ajang pertemuan komunikasi dan informasi untuk membahas perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang sains, teknologi, dan lingkungan dan penerapannya kepada kehidupan masyarakat. Lebih lanjut, forum ini juga merupakan ajang para akademisi dan praktisi untuk melakukan kajian terhadap kebijakan, perencanaan, pengelolaan pada bidang sains dan teknologi dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan. <a href="https://issn.brin.go.id/" target="_blank" rel="noopener">ISSN (online) : 2987-2480</a> terdaftar tahun 2023.</p>https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3131PENGARUH FLY ASH SEBAGAI MATERIAL PENUTUP TERHADAP LAJU OKSIDASI PIRIT PADA SKENARIO PERLAPISAN DENGAN PENDEKATAN UJI KINETIK DAN PEMODELAN GEOKIMIA2025-12-25T09:52:35+07:00Sri Desdita Komarisridesditaa@gmail.com<p>Kegiatan penambangan batubara merupakan salah satu penyebab terpaparnya sulfur dan mineral sulfida (<em>pyrite)</em>, sehingga terjadi kontak langsung dengan udara bebas yang selanjutnya terjadi pelarutan akibat adanya air dan membentuk Air Asam Tambang (AAT). Proses ini menghasilkan air dengan pH rendah serta kandungan ion Fe dan sulfat tinggi, sehingga berdampak negatif terhadap kualitas lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh <em>fly ash</em> (FA) terhadap laju oksidasi pirit pada material <em>Potentially Acid Forming</em> (PAF). Metode yang digunakan adalah kombinasi uji kinetik <em>Free Draining Column Leach Test (FDCLT)</em> dan permodelan geokimia dengan <em>software </em>PHREEQC. Laju oksidasi ditentukan berdasarkan perhitungan mol Fe dan mol SO₄ dalam air lindian. Hasil menunjukkan bahwa penambahan <em>fly ash</em> dapat menurunkan laju oksidasi pirit secara signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan konsentrasi Fe terlarut dan sulfat pada kolom PAF-FA dibanding PAF murni. Analisis rasio Fe-SO₄ juga mendukung bahwa reaksi oksidasi pirit lebih terkontrol pada skenario perlapisan. Dengan demikian, <em>fly ash</em> berpotensi digunakan sebagai material penutup yang efektif untuk pengendalian Air Asam Tambang.</p>2025-12-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3197KONVERSI MINYAK SAWIT, MINYAK JAGUNG DAN MINYAK BIJI BUNGA MATAHARI SEBAGAI ALTERNATIF PLASTICIZER MELALUI PROSES DEKARBOKSILASI2026-01-23T11:34:21+07:00budi santosobudisantosokimia@gmail.comPutri Agustryaniputri.agustryani@rmg.itera.ac.idaprilena bondanbenaprio@gmail.comRachmawati Aprianirachmawati@itsb.ac.id<p>Plasticizer berupa minyak mineral sebagian besar dihasilkan dari proses pengolahan berbasis minyak bumi yang terdiri dari minyak parafinik, naftenik, dan aromatik. Minyak nabati berpotensi menjadi sumber alternatif bahan baku plasticizer berbasis biologi, dengan cara dimodifikasi secara kimia untuk mendapatkan hidrokarbon yang setara dengan minyak bumi, salah satunya dengan dekarboksilasi. Penelitian ini menggunakan minyak nabati yang terdiri dari minyak sawit, minyak jagung, dan minyak biji bunga matahari. Proses dekarboksilasi dilakukan secara batch dengan kondisi terbuka menggunakan katalis heterogen jenis TiO<sub>2</sub> <sub>, </sub>dengan suhu reaksi 250° °C, 300 °°C, dan 350 °°C. Parameter uji untuk mengamati reaksi dekarboksilasi adalah sifat fisis dan kandungan kimia hidrokarbon yang dihasilkan. Densitas terkecil diperoleh dari minyak bunga matahari pada suhu 350° °C yaitu sebesar 0,9262 g/mL. Viskositas tertinggi diperoleh dari minyak sawit pada suhu 350ºC yaitu sebesar 137,8377 cSt. Sementara viskositas terkecil diperoleh dari minyak bunga matahari pada suhu 320 °°C yaitu sebesar 43,3433 cSt. Persentase konversi minyak tertinggi yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 95,5803% dari minyak sawit pada suhu 350 °°C, sedangkan konversi terendah adalah 86,1483% dari minyak bunga matahari pada suhu 250 °°C. Rendemen tertinggi sebesar 93,6552% diperoleh dari minyak sawit pada suhu 250° °C. Analisis GC-MS minyak bunga matahari pada suhu 300°C merupakan yang terbaik dari semua sampel, ditunjukkan dari fraksi C12C24 yang merupakan gugus olefin, dan fraksi C15-C24 yang cenderung merupakan gugus parafin. Reaksi dekarboksilasi tidak menghasilkan fraksi ringan dan memimpin proses fraktur hidrokarbon. Dengan demikian, minyak sayur ditemukan cocok untuk digunakan sebagai alternatif plasticizer berbasis bio sebagai pengganti plasticizer berbasis minyak bumi.</p>2026-01-23T11:33:44+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3124PENENTUAN BENTUKLAHAN BERDASARKAN ASPEK GEOMORFOLOGI DAERAH BATU AMPAR DAN SEKITARNYA, KABUPATEN BENGKULU SELATAN, PROVINSI BENGKULU2026-01-23T11:49:55+07:00Yisha Ayu Y. Sinagayishaayuy06@gmail.comZaki Nurul Zaidzakinurulzaid@gmail.com<p class="AvoerAbstrak"><span lang="IN">Secara administratif daerah penelitian berada di Desa Batu Ampar, Kecamatan Kedurang, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu termasuk dalam Cekungan Bengkulu atau di kategori terletak pada Cekungan Depan Busur (<em>Fore Arc Basin</em>) pada zonasi setting tektoniknya. Berdasarkan kenampakan topografi dan morfologinya daerah Batu Ampar memiliki bentuk lahan yang bervariasi dikarenakan indikasi faktor geomorfik dan kondisi geologi yang mempengaruhinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk lahan berdasarkan aspek geomorfologi dan untuk mengetahui karakter dan klasifikasi morfologi yang berkembang, baik yang terbentuk oleh proses endogen seperti tektonik dan vulkanisme, maupun proses eksogen seperti erosi, pelapukan, dan sedimentasi. Penelitian dilakukan dengan pendekatan analisis morfometri, morfografi, dan morfogenetik untuk mengidentifikasi tipe bentukan relief dan distribusi litologi penyusun pada setiap satuan geomorfologi. Hasil analisis menunjukkan bahwa wilayah studi terbagi menjadi empat jenis bentuklahan utama, yaitu fluvial, denudasional, karst, dan struktural. Bentuklahan fluvial meliputi satuan <em>Channel Irregular Meander</em> (CIM), <em>Channel Bar</em> (CB), dan Dataran Banjir (DB) yang terbentuk akibat proses sedimentasi dan dinamika aliran sungai. Bentuklahan denudasional terdiri atas Perbukitan Rendah Denudasional (PRD) dan Perbukitan Denudasional (PD), sedangkan bentuklahan karst diwakili oleh Perbukitan Karst (PK) hasil pelapukan dan erosi batuan karbonat jangka panjang. Adapun bentuklahan struktural ditandai oleh Perbukitan Struktural (PS) yang terbentuk karena aktivitas tektonik berupa pelipatan dan pensesaran. Seluruh hasil klasifikasi tersebut mengindikasikan bahwa evolusi geomorfologi di wilayah Batu Ampar dipengaruhi secara dominan oleh kondisi geologi regional, aktivitas tektonik, serta proses eksogen yang terjadi secara terus-menerus. </span></p>2026-01-23T11:49:15+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3036GEOLOGI DAERAH KEDUNGPOH DAN SEKITARNYA, KABUPATEN GUNUNGKIDUL, PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA2026-01-23T11:30:13+07:00Suci Febria Lestaririsasuci0203@gmail.comHarnaniharnani@ft.unsri.ac.id<p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Pemetaan geologi di daerah Kedungpoh dan sekitarnya, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik geologi yang meliputi geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi, serta sejarah geologi pembentukannya. Metode yang digunakan meliputi pemetaan geologi permukaan, pengamatan lapangan, pengukuran struktur, pengambilan sampel batuan, serta analisis laboratorium petrografi dan paleontologi. Berdasarkan hasil penelitian, daerah ini dibagi menjadi tujuh satuan geomorfik yang terdiri dari bentuk lahan denudasional, struktural, fluvial, dan vulkanik. Urutan stratigrafi daerah penelitian tersusun atas Formasi Kebobutak (Oligosen Akhir–Miosen Awal), Formasi Semilir (Miosen Awal), Formasi Nglanggran (Miosen Awal), Formasi Sambipitu (Miosen Awal), Formasi Oyo (Miosen Tengah–Akhir), dan Formasi Wonosari (Miosen Tengah–Akhir). Struktur geologi yang berkembang berupa Sesar Pilangrejo dan Sesar Pengkol dengan arah tegasan utama barat–timur yang terbentuk pada kala Plio–Pleistosen akibat aktivitas tektonik kompresional. Secara umum, sejarah geologi menunjukkan proses sedimentasi berkesinambungan dari lingkungan laut dalam hingga laut dangkal yang kemudian diikuti oleh pengangkatan dan deformasi tektonik.</span></span></p>2026-01-23T11:27:45+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3029IDENTIFIKASI PERMASALAHAN, POTENSI DAN STRATEGI KORIDOR JALAN JENDRAL SUDIRMAN DI KOTA PALEMBANG BERDASARKAN 8 ELEMEN URBAN DESIGN2026-01-23T11:28:19+07:00Husnul Masyitohhusnulmasyitoh@unsri.ac.id<p><strong>ABSTRAK: </strong>Penelitian ini membahas identifikasi permasalahan, potensi, dan strategi pengembangan koridor Jalan Jenderal Sudirman Kota Palembang berdasarkan delapan elemen perancangan kota (urban design) menurut Hamid Shirvani (1985), yaitu tata guna lahan, bentuk dan massa bangunan, sirkulasi dan parkir, ruang terbuka, area pedestrian, signage, pendukung kegiatan, serta konservasi. Metode analisis dilakukan dengan pengamatan kondisi eksisting kawasan dan interpretasi teori desain kota terhadap fungsi ruang publik, aktivitas masyarakat, dan elemen fisik kawasan. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa koridor Jalan Jenderal Sudirman merupakan kawasan komersial utama yang padat aktivitas, didominasi oleh bangunan ruko dan fasilitas publik seperti hotel, kantor, pasar, dan tempat ibadah. Pedestrian Sudirman memiliki potensi tinggi sebagai ruang interaksi publik, dengan keberadaan pepohonan, kursi taman, serta kegiatan budaya masyarakat. Namun, ditemukan pula permasalahan seperti ketidakteraturan parkir, ketidakselarasan signage toko, dan keterbatasan ruang parkir yang mengganggu fungsi pedestrian. Strategi pengembangan diarahkan pada penataan ulang fungsi bangunan komersial, penyediaan kantong parkir tambahan, serta peningkatan keseragaman visual dan fungsi ruang publik agar kawasan lebih tertata, nyaman, dan mendukung identitas Kota Palembang sebagai kota heritage.</p> <p>Kata Kunci: Urban Design, Jalan Jenderal Sudirman, Palembang, Pedestrian, Ruang Publik</p> <p><em><strong>ABSTRACT: </strong>This study identifies the problems, potentials, and development strategies of the st. Jenderal Sudirman corridor in Palembang City is based on the eight elements of urban design proposed by Hamid Shirvani (1985), which include land use, building form and massing, circulation and parking, open space, pedestrian areas, signage, activity support, and conservation. The analysis was conducted through direct observation of the existing conditions and theoretical interpretation of urban design principles related to public space functions, community activities, and the physical characteristics of the corridor. The findings reveal that Jalan Jenderal Sudirman functions as a major commercial corridor with dense activities, dominated by shop houses and public facilities such as hotels, offices, markets, and mosques. The Sudirman Pedestrian area has high potential as a public interaction space, enhanced by greenery, benches, and various cultural events. However, several issues were identified, including irregular parking practices, uncoordinated commercial signage, and insufficient parking spaces that interfere with pedestrian comfort. Development strategies focus on reorganizing commercial activities, providing additional parking facilities, and improving visual coherence and the functionality of public spaces to create a more organized, comfortable, and culturally distinctive urban corridor that supports Palembang’s identity as a heritage city.</em></p> <p><em>Keywords: Urban Design, Jalan Jenderal Sudirman, Palembang, Pedestrian, Public Space</em></p>2026-01-23T11:27:26+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2778ANALISIS SPASIAL KETERJANGKAUAN LOKASI KAWASAN PERMUKIMAN TERHADAP JARINGAN JALAN DI KABUPATEN BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU2026-01-23T11:04:53+07:00Arif Roziqinarifroziqin@polsri.ac.idDinna Anggia Suheridinna.3321701019@students.polibatam.ac.id<p><em>Bintan Regency in 2020 had a population of 160,921 people, and is expected to continue to increase in the following year. The increase in population in the Bintan Regency area will have an impact on the increase in the need for land for the development of residential areas. The increase in population is not in line with the limited availability of land. Unplanned development of residential areas can result in land conversion and land and environmental damage. Geographic Information Systems (GIS) have an important role in conducting spatial studies on locations for the development of residential areas in Bintan Regency. This study is to examine the spatial accessibility of residential area development locations to the road network in Bintan Regency. The road network used is limited to arterial and collector roads. The road network parameters are subjected to a buffer process to determine the distance of the residential area to the road network. The results of spatial analysis show that the distance of residential areas to the road network is divided into 5 classes, namely 17,969 ha of very close areas (0-500 m), 15,060 ha of close areas (500 - 1000 m), 12,891 ha of medium areas (1000 - 1500 m), 10,976 ha of far areas (1500 - 2000 m), and 46,443 ha of very far areas (≥ 2000 m). Based on the distance class of residential areas to the road network, most residential areas have a very long distance to the main road network.</em></p>2026-01-23T11:02:18+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3118IDENTIFIKASI LITOLOGI BERDASARKAN GAMMA RAY DAN COREBOX PADA SUMUR BOR TLM_29, PT. BUKIT ASAM TBK2026-01-23T11:48:50+07:00Ridho Rizky Amandaridho.ra29@gmail.com<p><strong>ABSTRAK: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi litologi bawah permukaan Sumur Bor TLM_29 di PT Bukit Asam, Sumatera Selatan, dengan mengintegrasikan data Log Gamma Ray dan observasi langsung dari batuan inti. PT Bukit Asam secara rutin melakukan kegiatan eksplorasi menggunakan metode pemboran full coring yang memungkinkan pengambilan semua batuan bawah permukaan, memberikan data litologi yang paling akurat. Meskipun demikian, data Log Gamma Ray berperan sebagai instrumen utama untuk interpretasi litologi secara kontinu. Nilai Gamma Ray pada Sumur Bor TLM_29 bervariasi dari 0 hingga 82 API. Berdasarkan nilai rujukan, batubara dan batuan reservoir seperti batupasir/batulanau diidentifikasi memiliki nilai Gamma Ray rendah, sementara batulempung menunjukkan nilai Gamma Ray yang tinggi karena kandungan radioaktif alaminya. Hasil korelasi menunjukkan bahwa sumur ini didominasi oleh batulempung. Terdapat juga lapisan batulanau sebagai perselingan, dan ditemukan beberapa lapisan batubara, yang terkadang memiliki sisipan batupasir. Kombinasi data Gamma Ray dan Corebox ini memberikan identifikasi litologi yang akurat, serta membantu penentuan ketebalan dan kandungan batuan di sekitar Sumur Bor TLM_29.</p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>This study aims to identify the subsurface lithology of Borehole TLM_29 at PT Bukit Asam, South Sumatra, by integrating Log Gamma Ray data and direct observation from rock core samples. PT Bukit Asam regularly conducts exploration activities using the full coring method, which allows for the recovery of all subsurface rocks, providing the most accurate lithological data. Nevertheless, the Gamma Ray Log serves as the primary instrument for continuous lithological interpretation in the borehole. The Gamma Ray values in Borehole TLM_29 range from 0 to 82 API. Based on the reference values, coal and reservoir rocks like sandstone/siltstone are identified as having low Gamma Ray values, while claystone exhibits high Gamma Ray values due to its natural radioactive content. The correlation results show that the borehole is dominated by claystone, which is indicated by high gamma ray values. Siltstone layers are present as interbeds. Several coal seams are also found, sometimes interbedded with sandstone. The combination of Gamma Ray and Corebox data provides accurate identification of subsurface lithology , helping to determine the thickness and content of the rock layers around Borehole TLM_29.</p> <p> </p>2026-01-23T11:48:14+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3112SISTEM MONITORING FREKUENSI BERBASIS ALGORITMA FAST FOURIER TRANSFORM DAN POWER SPECTRAL DENSITY2026-01-23T11:19:58+07:00Sendita Yolandia Anugrahyolandiaanugrah@gmail.comWildan Athif Mutaqienmuttaqien.wildan12@gmail.comWildan Athif Mutaqienmuttaqien.wildan12@gmail.comFery Hasanyolandiaanugrah@gmail.comMelia sariyolandiaanugrah@gmail.comIwan Pahendra Anto Saputrayolandiaanugrah@gmail.comAbdul Harris Dalimuntheyolandiaanugrah@gmail.comPuspa Kurniasariyolandiaanugrah@gmail.comDesi Windisariyolandiaanugrah@gmail.comRoby Prasetyoyolandiaanugrah@gmail.com<p>Sistem pengolahan audio sering mengalami gangguan berupa tumpang tindih frekeuensi yang menurunkan kejerniahan suara, maka dari itu perlu adanya pemantauan frekuensis sebagai sarana analisis, sementara metode monitoring yang tersedia sering kali hanya terbatas pada aspek audio tanpa memberikan analisis kuantitatif terkait spectrum dan distribusi daya. Untuk menjawab permasalahan tesebut, penelitian ini berfokus pada rancang bangaun sistem monitoring melalui pengamatan frekuensi menggunakan algoritma Fast Fourier Transform dan Power Spectral Density yang mampu menampilkan visualisasi spectrum frekuensi sekaligus etimasi distribusi daya sinyal. Pengembangan utama dari penelitian ini adalah integrasi perangkat keras dan perangkat lunak yang sederhana namun efisien, diman sumber sinyal frekuensi diatur melalui Generator Frekuensi, kemudian disalurkan ke rangkaian Band Pass Filter untuk menyaring frekuensi tertentu, dan diteruskan ke modul ESP32 sebagai converter analog ke digital. Data digital hasil konversi diproses menggunakan algoritma FFT dan PSD melalui pemrograman Javascript, kemudian dikirimkan ke website berbasis Lavarel untuk divisualisasikan dalam bentuk grafik interaktif. Cara kerja sistem secara menyeluruh mmeiputi input frekuensi melalui jackpod, penyaringan dengan BPF,, konversi ke data digital oleh ESP32, pemrosesan analisis dengan FFT dan PSD, hingga visualisasi pada website. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem berhasi dijalankan sesuai harapan, dengan kinerja stabil dalam menampilkan spektru frekuensi dan distribusi daya sinyal frekuensi.</p>2026-01-23T11:19:32+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2941Pengaruh Waktu Rendam dan Massa Karbon Aktif Kulit Buah Maja pada Pemurnian Minyak Jelantah2026-01-23T11:04:50+07:00Asyeni Miftahul Jannahasyeni@ft.unsri.ac.idRien Hairunnisahrhnisah1501@gmail.comLutfia Syifa Auliarhnisah1501@gmail.comNurul Azizahrhnisah1501@gmail.com<p>Used cooking oil, commonly known as waste frying oil, is categorized as household waste that can cause adverse effects on human health and the environment when reused without proper purification. This research was conducted to investigate the effect of soaking time and the mass of activated carbon derived from Maja fruit peel on the improvement of waste cooking oil quality through the adsorption process. Activated carbon was prepared from Maja fruit peel and was applied in the purification of waste cooking oil with variations in soaking duration and adsorbent mass. The oil quality parameters that were analyzed included volatile matter, moisture content, ash content, and fixed carbon of the produced adsorbent, as well as the free fatty acid (FFA) content in the purified oil. The optimum condition was obtained at a soaking time of 24 hours using 20 grams of activated carbon, resulting in a 76.19% reduction of FFA level. The findings indicated that Maja fruit peel can be utilized as an efficient and environmentally friendly source of activated carbon for waste cooking oil purification. Moreover, the use of this local biomass was considered to support the development of sustainable and energy-efficient purification technology for reused oil.</p>2026-01-23T11:03:42+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3146Analisis Lingkungan Pengendapan Batuan Karbonat di Kecamatan Lengkiti dan Sekitarnya, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan2026-01-23T11:54:26+07:00Akram Nugrahaakramnugraha4@gmail.comHarnani Harnaniharnani@ft.unsri.ac.id<p>Kecamatan Lengkiti dan sekitarnya terdiri dari dua formasi karbonatan seperti Formasi Baturaja berumur Miosen Awal dan Formasi Gumai berumur Miosen Awal-Miosen Tengah. Litologi Formasi Baturaja terdapat Batugamping sedangkan Formasi Gumai terdiri Batupasir. Metode yang digunakan dalam penelitian berupa pengambilan data di lapangan secara langsung, analisis petrologi pada sampel batuan, analisis paleontologi untuk mengetahui jenis fosil serta analisis lingkungan pengendapan batuan karbonat pada daerah penelitian. Cakupan penelitian meliputi tentang geologi daerah penelitian berupa peta lintasan, stratigrafi daerah penelitian, dan peta geologi. Pada analisis petrologi didapatkan nama <em>Sparse Biomicrite</em>, sedangkan untuk analisis paleontologi didapatkan fosil planktonik dengan umur <em>Middle Miocene-Late Miocene</em> (N14-N15) dan fosil benthonik dengan lingkungan batimetri Neritik Tepi-Neritik Tengah. Terakhir lingkungan pengendapan pada Formasi Baturaja berada pada <em>Shallow Marine</em> sedangkan Formasi Gumai di <em>Delta Front</em>.</p>2026-01-23T11:53:33+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2963Kajian Kesiapan Geometrik dan Implikasi Kapasitas Terhadap Penetapan Zona Parkir On-Street di Kota Bandung2026-01-23T11:15:21+07:00Siti Raudhatul Fadilahsrfadilah@unsri.ac.idKiagus Muhammad Aminuddinkmaminuddin@ft.unsri.ac.id<p>Parkir tepi jalan (<em>on-street parking</em>) merupakan elemen penting dalam sistem transportasi perkotaan, namun penerapannya sering menimbulkan kompromi antara aksesibilitas dan kapasitas lalu lintas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesiapan geometrik ruas jalan di Kota Bandung untuk penerapan parkir <em>on-street</em> melalui pendekatan deskriptif kuantitatif yang meliputi analisis geometrik, perhitungan kapasitas jalan, dan pemodelan regresi logistik biner. Audit dilakukan terhadap 100 ruas jalan dengan mempertimbangkan lebar jalur, sudut parkir, dan jumlah sisi parkir. Hasil menunjukkan bahwa hanya 30% ruas memenuhi kriteria geometrik, dengan kapasitas efektif rata-rata menurun sekitar sepertiga dari kapasitas dasar. Berdasarkan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI), penurunan kapasitas berkisar antara 28–47%, di mana konfigurasi parkir bersudut ≥45° memberikan dampak paling signifikan terhadap degradasi arus. Analisis regresi logistik mengonfirmasi bahwa lebar jalur berpengaruh positif terhadap peluang kelayakan, sedangkan sudut parkir yang lebih besar dan penerapan dua sisi secara signifikan menurunkan probabilitas tersebut. Implikasi kebijakan menunjukkan bahwa parkir paralel satu sisi masih dapat diterapkan pada ruas selebar ≥ 9 m, sementara parkir bersudut ≥ 45° hanya layak pada ruas ≥ 12 m dengan volume lalu lintas rendah. Studi ini menegaskan pentingnya audit geometrik berbasis data sebagai prasyarat dalam penetapan zona parkir <em>on-street</em> agar kebijakan tidak menurunkan kinerja jaringan jalan perkotaan.</p>2026-01-23T11:14:35+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3158GEOLOGI DAERAH ULAK LEBAR, KABUPATEN LAHAT, SUMATERA SELATAN2026-01-23T11:14:46+07:00Peyyi Pranikapeyyipranika@gmail.comHarnani Harnaniharnani@ft.unsri.ac.id<p><strong>ABSTRAK:</strong> Penelitian yang dilakukan di Daerah Ulak Lebar dan sekitarnya, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Secara geologi, daerah penelitian terdiri atas Formasi Air Benakat, Formasi Muara Enim yang merupakan pembawa batubara di Cekungan Sumatera Selatan. Tujuan penelitian Adalah memahami kondisi geologi daerah melalui geomofologi, stratigrafi, dan struktur geologi, serta karakteristik petrografi batuan. Metode penelitian yang dilakukan adalah studi literatur, observasi lapangan dan uji laboratorium, yang kemudian akan direkonstruksi ke dalam sejarah geologi dengan metode seperti metode observasi lapangan, analisis laboratorium, dan uji laboratorium dan penyusunan laporan. Berdasarkan aspek geomorfologi, wilaya ini terbagi menjadi satuan <em>Channel Irregular Meander</em> (CIM), Perbukitan Rendah Denudasional (PRD), Perbukitan Denudasional (PD). analisis petrografi dilakukan untuk mengidentifikasi sifat megaskopis dan mikroskopis batuan, serta menafsirkan proses geologi yang terjadi. Studi ini juga membantu memahami perubahan lingkungan pengendapan melalui analisis sumber material pembentukan batuan sedimen di Sungai lematang desa ulak lebar.</p>2026-01-23T11:14:15+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2964ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PENAMBANGAN BATU GAMPING DI TAMBANG 3 PT. SEMEN BATURAJA (Persero) Tbk.2026-01-23T11:17:32+07:00Qurratul Ayunqurratul.121014@gmail.comBochoriBochori@ft.unsri.ac.id<p>Studi kelayakan investasi proyek penambangan batu gamping di wilayah Rencana Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP) Tambang 3 milik PT Semen Baturaja (Persero) Tbk, yang terletak di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan. Batu gamping atau batu kapur merupakan batuan sedimen yang tersusun terutama oleh mineral kalsit (CaCO₃), dolomit [CaMg(CO₃)₂], dan aragonit (CaCO₃). Pembentukannya dapat terjadi melalui proses organik, mekanik, maupun kimia. Sebagai salah satu komponen utama dalam industri semen, sehingga ketersediaannya menjadi faktor penting dalam menjamin kontinuitas produksi. Penelitian ini menggunakan metode Discounted Cash Flow (DCF) dengan indikator penilaian finansial berupa Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PBP), serta analisis sensitivitas untuk mengukur dampak perubahan biaya produksi dan harga jual terhadap kelayakan suatu proyek. Hasil analisis menunjukkan bahwa proyek ini layak secara ekonomis dengan nilai NPV sebesar Rp 66.677.183.980, IRR sebesar 15,87%, dan Payback Period selama 8 tahun 5 bulan. Namun, sensitivitas terhadap kenaikan biaya produksi atau penurunan harga jual sangat tinggi, perubahan sebesar 5% dapat menyebabkan nilai NPV menjadi negatif. Sehingga dapat di tegaskan bahwa pentingnya pengendalian biaya dan strategi mitigasi risiko dalam pelaksanaan proyek. Oleh karena itu, pengambilan keputusan investasi harus mempertimbangkan dinamika pasar serta ketahanan finansial proyek terhadap berbagai skenario.</p>2026-01-23T11:16:59+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2987EVALUASI OPTIMALISASI BATUBARA SIDEWALL PIT X BERDASARKAN KAJIAN GEOTEKNIK METODE LIMIT EQUILIBRIUM 2026-01-23T11:21:47+07:00Muhammad Zelandimuhammadzelandi@unja.ac.idHeriyanto Panggabeanheriyanto.panggabean@suthraresources.comIndraindra@suthraresources.com<p>Optimalization in coal mining needs to consider geotechnical aspect, especially of slope stability analysis, for maximize the result and preventing the slope from landslide due to the activities. This research were done by collecting lithological samples at Pit X’s Sidewall surrounding area, thus conduct geotechnical test to collect physical and mechanical properties data of the Sidewall Samples, then slope stability analysis with limit equilibrium method simulation in 4 assumptions: initial condition, design-based-cut condition, cut of slpe with slope angle 70<sup>0</sup> condition, and single slope 20 m height condition. Based on the analysis, the factor of safety that occurs shows the design-based-cut condition area the most safety (FoS = 1,111) with mineable coal about 9427 MT (Metric Tonnes). Then the simulation has been held for the optimalization activity which separate into 2 phase. First phase are overburden removal about 10.475 BCM (Bank Cubic Meter) and 9.427 MT coal getting while observe deformation of the slope using monitoring prism. The second phase held by dispose overburden from another front about 10.475 BCM to strenghten the sidewall against landslide potential.</p>2026-01-23T11:20:37+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3168PENDAMPINGAN PROSES PEMBUATAN DAN PEMASARAN BATIK CAP PADA KELOMPOK PEREMPUAN BATIK GEOPARK DI DESA AIR BATU, KECAMATAN RENAH PEMBARAP, KABUPATEN MERANGIN2026-01-23T11:55:48+07:00Anggi Deliana Siregaranggidelianas@unja.ac.idD. M. Magdalena Ritongamagdalenaritonga@unja.ac.idHari Wiki Utamaanggidelianas@unja.ac.idSarwo Sucitra Aminanggidelianas@unja.ac.idJuventaanggidelianas@unja.ac.idDinda Novia Ramadaninoviadindanov@gmail.com<p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Kelompok Perempuan Batik Geopark di Desa Air Batu, Kabupaten Merangin, memiliki potensi besar dalam pengembangan batik cap dengan motif berbasis kekayaan Geopark Merangin. Namun, kelompok ini menghadapi dua kendala utama yaitu aspek produksi belum optimalnya efisiensi dan konsistensi kualitas dalam proses pencapan dan pewarnaan dan aspek pemasaran keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam memanfaatkan platform digital sehingga jangkauan dasar produk masih terbatas. Program pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan teknis kelompok dalam standarisasi dan efisiensi produksi batik, memfasilitasi pengembangan motif inovatif yang terinsipirasi dari Geopark Merangin, dan memberdayakan kelompok dalam menerapkan strategi pemasaran digital untuk memperluas akses pasar produk mereka. Metode yang diterapkan adalah pendampingan pastisipatif yang dikombinasikan dengan metode pelatihan dan pemaksaan. Hasil pengabdiian menunjukkan adanya peningkatan kapabilitas yang nyata pada kelompok mitra. Kelompok mampu menyusun prototipe topi dengan motif yang beragam dan berhasil mencapai konsistensi warna yang lebih baik. Dari sisi pemasaran, kelompok telah meluncrkan akun media sosial resmi brand batik mereka. Program ini berhasil menciptakan fondasi yang kuat bagi kelompok perempuan batik geopark air batu untuk bertransformasi menjadi unit usaha yang lebih produktif dan kompetitif di era digital.</span></span></p>2026-01-23T11:55:12+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2975PERBANDINGAN ISOTROPIC RECEIVE LEVEL DAN FREE SPACE LOSS PADA SATELIT GEOSTASIONER BERDASARKAN VARIASI JARAK DAN RENTANG PITA FREKUENSI KOMUNIKASI SATELIT2026-01-23T11:19:28+07:00Fery Hasanferyhasan0603@gmail.comPuspa Kurniasaripuspakurniasari@ft.unsri.ac.idIwan Pahendra Anto Saputrapuspakurniasari@ft.unsri.ac.idAbdul Haris Dalimunthepuspakurniasari@ft.unsri.ac.idMelia Saripuspakurniasari@ft.unsri.ac.id<p>Perhitungan rugi-rugi jalur propagasi sinyal pada sistem komunikasi satelit sangat penting dalam menganalisis performa transmisi sinyal dari satelit ke stasiun bumi. Rugi jalur propagasi berdampak pada kuat sinyal terima di stasiun bumi. Penelitian ini membahas perbandingan <em>Isotropic Receive Level </em>dan <em>Free Space Loss</em> pada kerja satelit geostasioner dengan variasi jarak 36000 hingga 41000 km serta rentang pita frekuensi <em>L-band</em> hingga <em>Ka-band</em>. Metode penelitian menggunakan model propagasi <em>free space path loss</em> berbasis parameter jarak dan frekuensi dengan nilai <em>Effective Isotropic Radiated Power</em> sebesar +40 dBW. Hasil kalkulasi menunjukkan peningkatan jarak segmen bumi menyebabkan kenaikan <em>Free Space Loss</em> dari 197,39 dB menjadi 198,52 dB. Namun, peningkatan frekuensi memberi pengaruh signifikan terhadap redaman. Pada pita L di 1 GHz diperoleh <em>Free Space Loss</em> 183,57 dB dan <em>Isotropic Receive Level</em> −143,57 dBW sedangkan pada pita Ka di 26 GHz diperoleh <em>Free Space Loss</em> meningkat menjadi 211,87 dB dan <em>Isotropic Receive Level</em> menurun menjadi −171,87 dBW. Berdasarkan hasil tersebut, frekuensi memiliki pengaruh lebih besar terhadap penurunan daya sinyal dibanding jarak segmen bumi. Studi ini memberikan deskripsi kuantitatif sensitivitas jarak orbit dan frekuensi kerja terhadap kualitas sinyal sehingga dapat dijadikan acuan dalam perencanaan sistem komunikasi satelit.</p>2026-01-23T11:18:41+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3171GEOLOGI DAERAH SELEMAN DAN SEKITARNYA, KECAMATAN PENGANDONAN, KABUPATEN OGAN KOMERING ULU, PROVINSI SUMATERA SELATAN2026-01-23T11:42:23+07:00Rayhan Khairunnan Abiyyurayhanabiyyu8@gmail.comHarnani Harnaniharnani@ft.unsri.ac.id<p>Pemetaan geologi telah dilakukan di daerah Seleman, Kecamatan Pengandonan, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan, dengan cakupan area seluas 81 Km² pada skala 1:25.000. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi kondisi geologi lokal melalui analisis geomorfologi, satratigrafi, dan struktur geologi berdasarkan hasil observasi lapangan, analisis petrografi, paleontologi, serta studi laboratorium dan studio. Hasil analisis geomorfologi menunjukan bahwa wilayah penelitian terbagi atas lima satuan bentuk lahan utama, yaitu Perbukitan Rendah Denudasional (PRD), Dataran Rendah Denudasional (DRD), <em>Point Bar</em> (PB), <em>Channel Bar</em> (CB), dan <em>Channel Irregular Meander</em> (CIM). Secara startigrafi, daerah penelitian tersusun atas lima formasi utama, yaitu Formasi Gumai (Tmg, Miosen Awal-Miosen Tengah) yang didominasi batupasir, Formasi Air Benakat (Tma, Miosen Tengah-Miosen Akhir) yang tersusun oleh batulempung, Formasi Muara Enim (Tmpm, Miosen Akhir-Pliosen) dengan litologi batupasir tuffan, Formasi Kasai (Qtk, Pliosen-Plistosen) batpasir, serta Formasi Alluvium (Qa, Holosen) yang tersusun oleh endapan bongkah. Struktur geologi utama yang berkembang adalah sesar turun berarah Barat Laut-Tenggara (NW-SE), dikenal sebagai Sesar Seleman, yang terbentuk pada Miosen hingga Pliosen. Berdasarkan rekonstruksi sejarah geologi, pengendapan dimulai pada Miosen Awal dengan Formasi Gumai, diikuti oleh Formasi Air Benakat, Formasi Muara Enim, Formasi Kasai, dan diakhiri dengan pengendapan Formasi Alluvium serta aktivitas tektonik dan proses geomorfik permukaan pada kala kuarter.</p>2026-01-23T11:41:15+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3174ANALISIS KINERJA STRUKTUR GEDUNG BERATURAN DAN TIDAK BERATURAN MENGGUNAKAN BASE ISOLATOR HIGH DAMPING RUBBER BEARING2026-01-23T11:39:41+07:00Mohammad Rifqimohammadrifqi970@gmail.comAnthony Costaanthonycosta@ft.unsri.ac.idRosidawanirosidawani@unsri.ac.idDendy Adantadendyadanta@ymail.com<p>Land scarcity in Indonesia has led to the construction of irregular building structures that are vulnerable to earthquakes. The purpose of this research is to analyze and compare the performance of regular and irregular building structures with the criterion of area 720 m² as high as 10 floors against seismic loads. The analysis process is also carried out on structures equipped with and without base isolators in the form of High Damping Rubber Bearings (HDRB). The analysis procedure was carried out using the Response Spectrum Analysis (RSA) method with the assistance of ETABS software, following SNI 1726:2019, SNI 1727:2020, and SNI 2847:2019 standards, as well as the Bridgestone base isolator specifications from 2022. The results showed that in the presence of HDRB base isolator components, there was an increase in structural performance from buildings without base isolators to buildings with base isolators in terms of structural period by 85.3-94.5%, base shear force by 31.7-34.4%, and deviation between floors by 73.93-75.53% in regular building types. Meanwhile, the irregular building experienced an increase in performance of 78.3-93.5% in structural period, 24.7-34.6% in base shear force, and 70.24-73.6% in deviation between floors. In addition, the value of building performance is demonstrated by fulfilling the deflection limit requirements for both regular and irregular structural elements. Based on this, the presence of HDRB components proved to be effective in enhancing the seismic performance of both regular and irregular buildings, although its effectiveness was slightly reduced in irregular structures.</p>2026-01-23T11:38:44+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3020KAJIAN PENYEDIAAN SARANA PRASARANA PADA PERUMAHAN MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENCAH (MBR) DI PALEMBANG2026-01-23T11:12:35+07:00Tutur Lussetyowatituturlusetyowati@ft.unsri.ac.id<p><strong>ABSTRAK:</strong> Penyediaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Kota Palembang telah banyak dilakukan dengan peningkatan kuantitas yang signifikan. Namun, permasalahan yang muncul saat ini adalah kualitas sarana dan prasarana perumahan MBR yang masih belum memadai dan perlu ditingkatkan. Penyediaan sarana dan prasarana yang tidak memadai dapat berdampak negatif pada kesehatan, keselamatan, dan kenyamanan penghuni perumahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam penyediaan sarana dan prasarana, serta rekomendasi untuk meningkatkan kualitas dan ketersediaan sarana prasarana pada perumahan bagi MBR. Lokasi penelitian adalah di perumahan bagi MBR di dua kecamatan yaitu Kecamatan Alang-Alang lebar dan Kecamatan Gandus. Metode penelitian menggunakan metode penelitian campuran dengan strategi penelitian campuran konkuren yang terdiri dari metode penelitian studi kasus dan metode penelitian survei. Hasil dari penelitian menunjukkan Penyediaan prasarana standar minimal untuk perumahan seperti jalan, air bersih, drainase, persampahan, listrik dan telekomunikasi sudah terpenuhi, yang belum terpenuhi adalah prasarana pengolahan limbah dan pemadam kebakaran. Untuk penyediaan sarana, sebagian besar sudah terpenuhi, hanya saja terdapat sarana pada skala pelayanan di lingkungan permukiman yang belum terpenuhi, yaitu untuk PAUD dan sekolah TK, taman lingkungan, taman bermain dan ruang terbuka hijau.</p> <p> </p> <p>Kata Kunci: perumahan MBR, sarana, prasarana</p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong><em>: The provision of housing for low-income people (MBR) in Palembang City has expanded significantly in quantity. However, a pressing issue is the inadequate quality of facilities and infrastructure for MBR housing, which urgently needs improvement. The lack of proper facilities and infrastructure can have a negative impact on the health, safety, and comfort of residents. The purpose of this study is to identify and to analyze the problems in providing these facilities and infrastructure, and to offer recommendations for improving their quality and availability in MBR housing. The research was conducted in MBR housing areas in two sub-districts: Alang-Alang Lebar and Gandus<strong>.</strong> This study used a mixed-methods approach with a concurrent mixed research strategy, that combined case study and survey research methods. The results show that the minimum standard infrastructure, such as roads, clean water, drainage, electricity, and telecommunications, has been fulfilled. However, infrastructure for waste processing and fire extinguishing remains unmet. While most facilities have been provided, some service-level facilities are still lacking, including early childhood education (PAUD) and kindergartens, neighborhood parks, playgrounds, and green open spaces.</em></p> <p><em>Keywords: low-income housing, facilities, infrastructure</em></p>2026-01-23T11:12:05+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3181a PENYELIDIKAN TOPOGRAFI UNTUK PROYEK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (PLTS) DAN ARCHIPELAGO HYBRID SOLUTION (AHS)-PHOTOVOLTAIC DI HALMAHERA2026-01-23T11:24:17+07:00roy reeverdyroyrvds@unsri.ac.id<p>Penelitian ini membahas hasil kegiatan survei topografi yang dilakukan untuk mendukung perencanaan proyek <em>Archipelago Hybrid Solution (AHS) PV + Battery Power Plant</em> di Halmahera. Tujuan utama kegiatan ini adalah menghasilkan peta topografi berskala 1:1.000 sebagai acuan untuk desain dan konstruksi sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan sistem baterai hibrida di lokasi proyek. Survei dilakukan melalui kombinasi metode pengukuran terestrial, <em>Global Positioning System (GPS) Geodetik</em>, serta <em>Aerial Photogrammetry</em> menggunakan wahana nirawak (<em>drone</em>). Data yang dikumpulkan mencakup informasi elevasi, kontur, kondisi vegetasi, infrastruktur permukaan, serta jaringan utilitas bawah tanah. Hasil pengolahan menunjukkan akurasi pengukuran yang tinggi dengan koneksi terhadap sistem geodesi nasional Indonesia. Analisis <em>cut and fill</em> dilakukan berdasarkan kondisi topografi eksisting dengan acuan pada <em>Highest Astronomical Tides (HAT)</em>, yang menghasilkan rekomendasi kemiringan optimal area PV sebesar 2,53° ke arah selatan. Temuan ini menjadi dasar bagi perencanaan desain PLTS dan infrastruktur pendukung yang lebih efisien dan presisi.</p>2026-01-23T11:23:34+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3184Pengenalan Fosil Formasi Mengkarang kepada Siswa SMPN 46 Merangin sebagail Pembekalan Eduwisata2026-01-23T11:37:14+07:00Febiyora Chandra Kiranafebiyorachandrakirana@unja.ac.idRisnaliyah Nuriil Tadersirisnaliyahnuriil@unja.ac.idAnggi Deliana Siregaranggidelianas@unja.ac.idD.M. Magdalena Ritongamagdalenaritonga@unja.ac.idHari Wiki Utamah.wikiutama@unja.ac.idAndrea HasbullahAndreahasbullah@unja.ac.id<p>Kegiatan pengenalan fosil Formasi Mengkarang kepada siswa SMPN 46 Merangin dilaksanakan sebagai upaya peningkatan pengetahuan mengenai fosil serta penguatan potensi eduwisata berbasis geologi di Desa Air Batu yang merupakan Kawasan Inti UNESCO Global Geopark Merangin (UGGpM) Kabupaten Merangin. Formasi Mengkarang merupakan satuan batuan berumur Paleozoikum yang tersingkap luas di wilayah Merangin dan mengandung berbagai jenis fosil laut dangkal dan fosil flora yang bernilai ilmiah tinggi. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan karakteristik fosil Formasi Mengkarang, memahami proses terbentuknya, serta menumbuhkan kesadaran pelestarian warisan geologi sejak usia dini. Metode yang digunakan meliputi penyampaian materi melalui ceramah interaktif, demonstrasi identifikasi fosil, dan pengamatan langsung terhadap sampel representatif di lingkungan sekitar sekolah dan desa. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan terhadap literasi geologi tentang fosil dan konsep geologi, disertai meningkatnya minat siswa terhadap kegiatan pembelajaran berbasis alam dan lingkungan. Temuan ini menunjukkan bahwa kegiatan pengenalan fosil dapat berperan sebagai media edukatif yang efektif sekaligus mendukung pengembangan potensi eduwisata di kawasan Geopark Merangin sebagai bagian dari pelestarian warisan geologi.</p>2026-01-23T11:36:03+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3025INOVASI MATERIAL BERKELANJUTAN: PENGARUH SUBSTITUSI ABU SEKAM PADI SEBAGAI FILLER TERHADAP VARIASI KADAR ASPAL PADA CAMPURAN ASPAL BETON LAPIS AUS (AC-WC)2026-01-23T11:26:09+07:00Selen Beliaramadhaniuiba.ac.id@gmail.comRamadhani Ramadhaniramadhaniuiba.ac.id@gmail.comHendrik Jimmyantohendrikjimmyanto@univ-tridinanti.ac.idKiagus Muhammad Aminuddinkmaminuddin@ft.unsri.ac.id<p>As traffic volume increases, the quality of road infrastructure must be improved through innovations in filler materials within asphalt mixtures to achieve better performance and sustainability. This study aims to analyze the influence of rice husk ash (RHA) as a substitute for conventional filler on Marshall parameters in asphalt concrete wearing course (AC-WC) mixtures. Activated RHA, produced through high-temperature combustion, was used as filler at proportions of 50%, 75%, and 100% as a replacement for traditional filler. Aggregate characteristic tests, physical properties of the filler, and Marshall parameters all indicate that the materials meet applicable standards. The analysis results show that increasing the proportion of RHA affects Marshall parameter values, including a decrease in VIM and an increase in asphalt content, which causes a shift in the range of the Optimum Asphalt Content (OAC). Overall, the use of RHA extends the OAC range and can improve mixture flexibility, although adjustments to asphalt content are necessary to meet stability and strength requirements.</p>2026-01-23T11:25:24+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3051Geomorfologi Daerah Banjaranyar Dan Sekitarnya Kabupaten Ciamis Jawa Barat2026-01-23T11:32:27+07:00Felix Mateus Exaudi Gultomrstiff797@gmail.comYogie Zulkurnia Rochmanayogie.zrochmana@ft.unsri.ac.id<p>Penelitian ini berfokus pada analisis geomorfologi di Daerah Banjaranyar dan sekitarnya, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Pada daerah penelitian menunjukkan keragaman bentuk lahan yang dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik, tektonik, dan proses denudasional yang intensif. Oleh karena itu diperlukan identifikasi dan klasifikasi bentuk lahan, serta penentuan proses geomorfologi yang membentuk bentang alam tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi satuan geomorfik yang ada dan menjelaskan proses-proses geomorfologi yang bekerja dalam pembentukan bentang alam di daerah penelitian. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan langsung (survei lapangan) untuk observasi dan pengambilan data posisi (GPS). Pendekatan ini didukung oleh metode pendekatan tidak langsung yang melibatkan studi literatur, interpretasi citra satelit resolusi tinggi dan peta topografi, serta analisis data spasial (SIG) untuk delineasi batas-batas satuan geomorfologi dan penyusunan peta. Proses geomorfologi yang dominan meliputi erosi permukaan (denudasional) pada lereng terjal dan pelapukan yang cukup intensif. Daerah penelitian didominasi oleh bentuk lahan Perbukitan Struktural dicirikan oleh kemiringan lereng yang curam dengan batuan penyusun yang telah terdeformasi, menjadikannya zona yang sangat rentan terhadap gerakan tanah (longsor), terutama saat curah hujan tinggi. Satuan Dataran Aluvial terbentuk akibat proses sedimentasi sungai yang lambat, memiliki potensi kesuburan tinggi untuk pertanian. Geomorfologi Daerah Banjaranyar dan sekitarnya, Kabupaten Ciamis dicirikan oleh interaksi kompleks antara faktor litologi, struktur geologi, dan proses geomorfologi.</p>2026-01-23T11:31:57+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3052Identifikasi Struktur Bawah Permukaan Menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas di Desa Bentayan, Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan2026-01-23T11:17:27+07:00Lusitania Lusitanialusitania@ft.unsri.ac.idMuhammad Agni Gustamaagnigustama@ft.unsri.ac.id<p><strong>ABSTRAK: </strong>Penelitian geolistrik tahanan jenis (resistivitas) dilaksanakan di Desa Bentayan, Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur bawah permukaan serta menilai potensi akuifer dangkal. Akuisisi data dilakukan pada enam lintasan (1a, 1b, 1c, 2a, 2b, 2c) sepanjang ±128 m menggunakan konfigurasi Wenner–Schlumberger. Data tersebut diolah menggunakan perangkat lunak RES2DINV untuk memperoleh penampang resistivitas dua dimensi. Korelasi pengukuran geolistrik dengan kondisi geologi berada pada formasi muaraenim dan endapan rawa. Hasil interpretasi menunjukkan daerah penelitian didominasi oleh material jenuh air berupa lapisan lempung dan lempung berpasir dengan resistivitas rendah hingga sedang (±5–25 Ωm). Pada kedalaman 15–35 m terdapat selang-seling batubara muda dan lanau keras dengan resistivitas 60–200 Ωm yang berperan sebagai lapisan kompak (aquitard). Berdasarkan analisis terdapat indikasi keberadaan bidang gelincir dan tekanan air pori lateral yang berpotensi memengaruhi kestabilan pondasi akibat adanya dua lintasan (1a dan 2a) sejajar dengan lokasi tiang dermaga.</p> <p>Kata Kunci: geolistrik, tahanan jenis, resistivitas 2D, akuifer dangkal, Musi Banyuasin</p>2026-01-23T11:16:51+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3053PREDIKSI POROSITAS DENGAN METODA FUZZY LOGIC PADA LOG SUMUR FORMASI TALANG AKAR NON MARINE, NORTH WEST JAVA BASIN2026-01-23T11:36:24+07:00Meutia Fitri Hasanmeutiafitrihasan@gmail.comBochoribochori@ft.unsri.ac.id<p><strong>ABSTRAK: </strong>Porositas merupakan salah satu parameter fisik batuan reservoir yang digunakan untuk simulasi reservoir migas, baik itu secara statis maupun dinamis. Penelitian ini akan memprediksi nilai porositas well log dengan menggunakan metoda <em>Fuzzy Logic</em>. Data yang digunakan pada penelitian adalah data <em>Routine Core Analysis</em> (RCAL) dan well log dari Lapangan ’Mangga’ yang terletak di lepas pantai North West Java Basin, dan bagian dari Formasi Talang Akar Non Marine. Litologi daerah penelitian terdiri atas perselingan batupasir dan batulempung, yang merupakan bagian dari fasies <em>braided channel</em>. <em>Input</em> yang digunakan untuk proses <em>fuzzification</em> (training data) adalah data porositas RCAL, log Gamma Ray (GR), log Neutron (NPHI), log Density (RHOB) dan log Sonic (DT). Hasil prediksi log porositas <em>fuzzy logic</em> lalu diverifikasi dengan data porositas c<em>ore</em> dari Sumur Mangga-2 dan Mangga-5. Perbandingan metoda <em>fuzzy logic</em> untuk prediksi porositas terhadap porositas <em>core </em>menunjukkan angka koefisien korelasi ()yang cukup baik pada Sumur Mangga-2 dan Mangga-5 yaitu 0,74 dan 0,79. Hal ini menunjukkan bahwa metoda <em>Fuzzy Logic</em> dapat digunakan untuk prediksi porositas dengan catatan terdapat cukup data RCAL untuk training data.</p> <p>Kata Kunci: <em>fuzzy logic</em>, porositas, talang akar non marine, <em>well log</em></p> <p><em><strong>ABSTRACT: </strong>Porosity is one of the important physical properties for static and dynamic reservoir simulation. In this study, Fuzzy logic is used as method for predicting porosity from well log. Routine Core Analysis (RCAL) samples and well log came from ‘Mangga’ Field, located at offshore ONWJ Basin, and member of Talang Akar Non Marine Formation. The lithology consists of sandstone-shale interbedding, which is part of braided channel facies. Input parameter for fuzzification process (training data) are RCAL porosity data, Gamma Ray (GR) log, Neutron (NPHI) log, Density (RHOB) log and Sonic (DT) log. Result of porosity prediction validate by porosity core data from RCAL data of well Mangga-2 and Mangga-5. The result shows coefficient correlation of 0,74 and 0,79 from Mangga-2 and Mangga-5 well. The result will be better with more RCAL samples for training data.</em></p> <p><em>Keywords: fuzzy logic, porosity, non marine talang akar, well log</em></p>2026-01-23T11:35:46+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3082Efektivitas Teknologi Membran Ultrafiltrasi dan Kombinasi Adsorben Zeolit-Batu Karang Jahe terhadap Penurunan pH, TDS, EC dan Suhu pada Air Sumur menjadi Air Bersih2026-01-23T12:13:09+07:00Susi Susantisusisusanti@ft.unsri.ac.id<p>ABSTRAK: Air sumur merupakan salah satu sumber utama air bagi masyarakat, terutama di daerah pedesaan. Namun, kualitas air sumur sering kali tidak memenuhi standar air bersih karena mengandung kontaminan seperti logam berat, zat organik, serta nilai pH, TDS, dan EC yang tidak sesuai. Oleh karena itu, diperlukan sistem pengolahan air yang efektif, efisien, dan ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas integrasi teknologi membran ultrafiltrasi dengan kombinasi adsorben zeolit dan batu karang jahe dalam menurunkan nilai pH, TDS, dan EC pada air sumur. Proses penyaringan dilakukan secara bertahap, dimulai dengan penggunaan adsorben zeolit dan batu karang jahe yang berfungsi mengadsorpsi ion logam dan senyawa organik melalui mekanisme pertukaran ion serta gaya Van der Waals. Selanjutnya, air hasil pra-penyaringan dialirkan melalui membran ultrafiltrasi untuk memisahkan partikel tersuspensi dan mikroorganisme berdasarkan ukuran pori membran. Integrasi teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penurunan kontaminan secara signifikan. Keterbaharuan penelitian ini terletak pada penggunaan kombinasi variasi massa adsorben, yaitu 100 g zeolit, 100 g batu karang jahe, dan campuran 50:50 g, dipadukan dengan membran ultrafiltrasi untuk meningkatkan efisiensi penghilangan polutan pada air sumur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi adsorben zeolit dan batu karang jahe dengan teknologi ultrafiltrasi mampu meningkatkan kualitas air sumur sehingga dapat memenuhi standar baku mutu air bersih. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengolahan air serta mendukung pencapaian tujuan pembangunan global SDGs ke-6 tentang penyediaan air bersih dan sanitasi layak.</p> <p><strong>Kata kunci: </strong>air sumur, zeolit, batu karang jahe, membran ultrafiltrasi, pemurnian air, kualitas air, TDS, EC, pH.</p>2026-01-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3132PERENCANAAN TEKNIS SEQUENCE DAN SCHEDULING PENAMBANGAN BATUBARA PER KUARTAL TAHUN 2025 DENGAN CONSTRAINT IN PIT DUMP UNTUK MEMENUHI TARGET PRODUKSI DI PT. DUTA BARA UTAMA2026-01-23T11:53:04+07:00Rian Zikririan.zikri1110@gmail.com<p>PT. Duta Bara Utama targets coal production of 2,250,000 tons with an SR < 3.5. Actual production in January <br>2025 was 112,480.03 tons coal and 230,486.10 BCM overburden. The outo pit dump disposal could not accommodate the <br>planned volume of overburden; therefore, dumping was carried out in the pit dump. Equipment requirements were planned <br>using Microsoft Excel 2021, mining scheduling was done using Spry software, while pit and disposal designs were created <br>using Minescape 5.7 software. In Q1, the planned production was 374,881.49 tons of coal and 1,219,000.96 BCM of <br>overburden with an SR of 3.25. In Q2, the planned production was 544,345.39 tons of coal and 2,015,154.65 BCM of <br>overburden with an SR of 3.70. In Q3, the planned production was 641,818.95 tons of coal and 2,275,999.62 BCM of <br>overburden with an SR of 3.70. The Q4 production plan is 707,918.65 tons of coal and 1,978,860.85 BCM of overburden with <br>an SR of 2.80. The total production plan for 2025 is 2,263,888.79 tons of coal and 7,589,016.09 BCM of overburden with an <br>SR of 3.34, which has met the production target. Then, mining scheduling is created using a trial and error method in the <br>Spry software until a scenario is found that aligns with the production targets and coal exposed balance. The design plans <br>for the pit and disposal in Q1, Q2, Q3, and Q4 are designed based on the planned coal tonnage and overburden volume.</p>2026-01-23T11:52:37+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3153PENGOLAHAN BIJI ALPUKAT (Persea americana) MENJADI PRODUK OLAHAN BERNILAI TAMBAH DI PONDOK PESANTREN NUURUL HIKMAH SUNGAI PINANG2026-01-23T11:24:46+07:00Enggal Nurismanenggalnurisman@ft.unsri.ac.id<p>ABSTRAK: Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan santri, guru pendamping serta masyarakat di lingkungan Pondok Pesantren Nuurul Hikmah, Sungai Pinang, Banyuasin, dalam memanfaatkan limbah biji alpukat menjadi produk olahan pangan bernilai ekonomi, yaitu kopi dan teh biji alpukat. Metode kegiatan meliputi sosialisasi, demonstrasi, dan praktik langsung kepada 60 peserta. Hasil uji organoleptik dalam skala penilaian 1-5 menunjukkan bahwa kopi biji alpukat memperoleh nilai rata-rata aroma (3,8), rasa (3,5), warna (3,1), tekstur (3,2), dan penerimaan umum (4,2), sedangkan teh biji alpukat memperoleh nilai aroma (3,0), rasa (2,8), warna (3,0), tekstur (2,8), dan penerimaan umum (2,9). Respon positif peserta menunjukkan tingginya antusiasme terhadap inovasi pangan berkelanjutan berbasis bahan lokal. Kegiatan ini tidak hanya memberikan keterampilan praktis dalam pemanfaatan limbah organik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran santri akan pentingnya inovasi pangan berkelanjutan berbasis konsep Go Green dan zero waste. Langkah berikutnya perlu dilakukan pengujian lanjut terhadap mutu fisikokimia (kadar air, pH, dan kestabilan warna) serta uji preferensi konsumen yang lebih luas sebagai dasar pengembangan produk menuju skala usaha mikro berbasis pesantren.</p> <p>Kata Kunci: biji alpukat, kopi herbal, teh herbal, pengabdian masyarakat, inovasi pangan berkelanjutan.</p> <p> </p>2026-01-23T11:24:11+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3140SISTEM MONITORING KEBAKARAN MENGGUNAKAN SENSOR FLAME DETECTOR DENGAN TEKNOLOGI ZIGBEE IEEE 802.15.42026-01-23T11:52:30+07:00aginda bagindabaginda29@gmail.com<p>Kebakaran adalah salah satu bencana yang sering terjadi yang menyebabkan kerugian pada material dan korban jiwa. Kebakaran ini disebabkan oleh karena tidak adanya alat pendeteksi kebakaran pada suatu tempat tinggal. Oleh karena itu diperlukan suati Sistem monitoring kebakaran. Salah satunya menggunakan sensor <em>flame detector </em>yang tujuan adalah untuk menghindari kebakaran yang menyebabkan kerugian secara materil . Penelitian ini ini menggunakan teknologi <em>Wireless Sensor Network </em>(WSN) dimana perangkat ini menggunakan protocol ZigBee untuk komunikasi data secara nirkabel. Sistem monitoring ini dipasang <em>flame detector sensor </em>dan <em>wireless camera </em>sebagai pemantau. Proses pertukaran data dilakukan oleh XBee series 2 data akan disimpan pada komputer sehingga dapat terlihat apakah terjadi kebakaran dalamn satu ruangan . Keuntungan ZigBee adalah lisensi yang sangat mudah dan membutuhkan daya yang sangat rendah. Teknilogi ini dapat digunakan dalam sistem monitoring</p>2026-01-23T11:51:29+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2958Implementasi Kendali Cerdas Berbasis Jaringan Syaraf Tiruan Untuk Navigasi Mobile Robot Di Lingkungan Indoor2026-01-23T11:12:34+07:00Rendyansyah Rendyansyahrdyrsyh@gmail.comIrmawanirmawan@unsri.ac.idCarolinecaroline@unsri.ac.idOriz Djati Laksonooriz@gmail.comCarolin Inggrit Adityacarolin@gmail.com<p>Penelitian ini membahas implementasi Jaringan Syaraf Tiruan (JST) sebagai sistem kendali cerdas pada mobile robot berpenggerak diferensial untuk mendukung navigasi otonom di lingkungan indoor yang kompleks dan dinamis. JST digunakan untuk mengolah data dari lima sensor jarak yang dikonversi melalui proses kuantisasi, kemudian dilatih menggunakan 53 dataset dengan parameter learning rate 0,2, epoch 30.000, dan target Mean Squared Error (MSE) 0,01. Arsitektur jaringan terdiri atas 5 neuron input, 8 neuron pada lapisan tersembunyi (hidden layer), dan 3 neuron output yang merepresentasikan aksi gerak robot, yaitu maju, belok kiri, dan belok kanan. Hasil pelatihan menunjukkan konvergensi yang stabil, dan model bobot hasil training diimplementasikan pada mikrokontroler Arduino untuk pengujian nyata. Eksperimen dilakukan dalam arena berukuran 500 cm × 500 cm dengan berbagai konfigurasi rintangan. Hasil pengujian menunjukkan tingkat keberhasilan sistem mencapai 96%, dengan kegagalan minor akibat keterbatasan deteksi sensor. Penelitian ini membuktikan bahwa pendekatan JST efektif dalam meningkatkan kemampuan adaptasi, akurasi, dan kemandirian navigasi mobile robot di lingkungan indoor.</p>2026-01-23T11:11:47+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3121INOVASI TEBU MENJADI BAHAN BAKAR ENERGI BIOETANOL2026-01-23T11:48:03+07:00Yolanda SapitriyolandaSAPITRI01@gmail.comTaufik Ariefarieftaufik901@gmail.comMuhammad Febrian Haidarifebrianhaidari17@gmail.comM. Farhan CakrawangsaFarhanckr3107@gmail.clmMuhammad Kaezha Aurellio Lafflykaezhaurellioo@gmail.com<p> </p> <p><strong>ABSTRAK:</strong> Indonesia berkomitmen pada penurunan emisi gas rumah kaca dan menargetkan bauran energi terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025. Salah satu strategi konkret adalah substitusi bahan bakar fosil cair dengan bioetanol (C<sub>2</sub>H<sub>5</sub>OH) dari tebu. Pemanfaatan tebu ini strategis karena biomassa adalah satu-satunya EBT yang dapat dikonversi menjadi bahan bakar cair bermutu tinggi, dan produksi bioetanol dari tebu menyumbang sekitar 40% dari total global. Metode konversi nira tebu menjadi bioetanol di Indonesia melibatkan dua tahap utama: hidrolisis sukrosa menjadi glukosa, dan fermentasi glukosa menggunakan ragi <em>Saccharomyces cerevisiae</em>. Proses fermentasi menghasilkan etanol dan CO<sub>2</sub>. Bioetanol yang dihasilkan perlu dimurnikan hingga kemurnian minimal 99% (<em>fuel-grade</em>) agar kompatibel sebagai campuran bahan bakar, seperti E10. Pengembangan bioetanol berbasis tebu harus menjaga keseimbangan antara ketahanan energi dan ketahanan pangan (gula). Meskipun berpotensi besar, Indonesia masih defisit gula, sehingga pengelolaan lahan berkelanjutan dan pemanfaatan optimal produk sampingan (molase) menjadi kunci. Dukungan regulasi, terutama Peraturan Presiden No. 40 Tahun 2023, telah menetapkan <em>road map</em> ambisius, termasuk penambahan 700.000 hektar lahan tebu dan peningkatan produksi bioetanol minimum 1.200.000 kL. Inovasi ini menciptakan pasar ganda, menstabilkan pendapatan petani tebu, memperkuat ekonomi pedesaan, dan mendukung transisi energi bersih nasional.</p> <p> </p> <p>Kata Kunci: Bioetanol, Tebu, Fermentasi, Ketahanan Pangan, Molase.</p> <p><strong><em>ABSTRACT: </em></strong><em>Indonesia is committedto reducing greenhouse gas emissions and targeting a renewable energy mix (EBT) of 23% by 2025. One concrete strategy is thesubstitution of liquid fossil fuels with bioethanol (C2H5OH) from sugarcane. The use of sugarcane is strategic because biomass is the only EBT that can be converted into high-quality liquid fuel, and the production of bioethanol from sugarcane accounts for about 40% of the global total. The method of converting sugarcane juice into bioethanol in Indonesia involves two main stages: hydrolysis of sucrose into glucose, and fermentation of glucose using Saccharomyces cerevisiae yeast. The fermentation process produces ethanol and CO2. The bioethanol produced needs to be purified to a minimum purity of 99% (fuel-grade) to be compatible as a fuel blend, such as E10. The development of sugarcane-based bioethanol must maintain a balance between energy security and food security (sugar). Despite its great potential, Indonesia still has a sugar deficit, so sustainable land management and optimal utilization of by-products (molasses) are key. Regulatory support, particularly Presidential Regulation No. 40 of 2023, has established an ambitious road map, including the addition of 700,000 hectares of sugarcane land and an increase in bioethanol production of at least 1,200,000 kL. This innovation creates a dual market, stabilizes the income of sugarcane farmers, strengthens the rural economy, and supports the national clean energy transition.</em></p> <p><em>Keywords: Bioethanol, Sugarcane, Fermentation, Food Security, Molasses.</em></p>2026-01-23T11:47:07+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3084Geologi Daerah Kecamatan Langkaplancar dan Sekitarnya, Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat2026-01-23T11:42:29+07:00Rizky Andra Prasetyarizkyandrap12@gmail.comBudhi Setiawanbudhi.setiawan@unsri.ac.id<p>Daerah penelitian terletak di Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangdaran, Jawa Barat. Secara fisiografi regional, daerah penelitian termasuk kedalam Zona Pegunungan Selatan Jawa Barat yang terbentuk akibat proses pengangkatan pulau Jawa sebagai produk subduksi antara lempeng benua Eurasia dan Lempeng samudera Indo-Australia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evolusi geologi dan lingkungan pengendapan berdasarkan hasil pemetaan geologi skala 1 : 25.000 dengan luasan daerah penelitian 81 km<sup>2</sup>. Berdasarkan hasil pemetaan geologi maupun analisis laboratorium dan studio menunjukkan empat satuan batuan utama, yaitu Formasi Jampang (Oligosen Akhir – Miosen Awal), Anggota Tuff Napalan Formasi Pamutuan (Miosen Tengah), Formasi Kalipucang (Miosen Tengah), dan Formasi Halang (Miosen Akhir). Berdasarkan data litologi, struktur sedimen, dan mikrofosil, Formasi Jampang (Tomj) diinterpretasikan sebagai hasil endapan turbidit vulkanogenik laut dalam yang berasosiasi dengan sistem kipas bawah laut pada kala, Anggota Tuff Napalan Formasi Pamutuan (Tmpt) sebagai endapan vulkanogenik turbidit pada kala Miosen Tengah, Formasi Kalipucang (Tmkl) sebagai endapan terumbu pada kala Miosen Tengah, dan Formasi Halang (Tmph) sebagai endapan turbidit laut dalam pada kala Miosen Akhir. Struktur geologi daerah penelitian merupakan struktur geologi orde I dan orde II sebagai hasil gaya kompresi yang membentuk struktur lipatan berupa Sinklin Jadikarya, Antiklin Kalijaya, Sinklin Kalijaya yang terbentuk pada orde I dengan arah tegasan utama utara timur laut – selatan barat daya (NNE – SSW). Struktur sesar orde I berupa Sesar Jadikarya, Sesar Cigayam, Sesar Banjaranyar yang memiliki arah tegasan utama timur laut – barat daya (NE – SW). Berikutnya, struktur geologi yang terbentuk pada orde II yaitu Sesar Cibabakan dengan tegasan utama berorientasi timur timur laut - barat barat daya (ENE - WSW) dan Sesar Cikupa dengan arah tegasan utama barat barat laut – timur tenggara (WNW – ESE).</p>2026-01-23T11:41:08+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3207PENGARUH PROSES DELIGNIFIKASI DAN BLEACHING SEBEGAI PROSES PRETERATMENT UNTUK BAHAN BAKU BIOPLASTIK BERBASIS PATI-SELULOSA DARI LIMBAH KULIT DURIAN2026-01-28T10:01:56+07:00Randi Akbarakbarrandi71@gmail.comathaya salsabilaathayasalsabila135@gmail.comRahmatullahrahmatullah@ft.unsri.ac.idRizka Wulandari Putrirahmatullah@ft.unsri.ac.idBudi Santosorahmatullah@ft.unsri.ac.idHarry Waristianrahmatullah@ft.unsri.ac.idRianyza Gayatrirahmatullah@ft.unsri.ac.id<p>Limbah kulit durian berpotensi sebagai bahan baku bioplastik karena kandungan serat yang tinggi. Selain itu<br>limbah kulit durian dapat dijadikan tepung yang kaya akan kandungan pati. Namun serat dan pati dalam limbah kulit durian<br>masih bercampur dengan lignin. Lignin merupakan penghalang utama bagi ekstraksi serat selulosa yang efisien untuk proses<br>selanjutnya baik untuk pulp dan kertas, biofuel, dan bioplastik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana pengaruh<br>proses delignifikasi dan bleaching dalam mengurangi kandungan lignin pada limbah kulit durian sebegai proses preteratment<br>untuk bahan baku bioplastik berbasis pati-selulosa. Metode pretreatmen islolasi selulsa dan pati dilakukan melalui 2 tahap.<br>Tahap pertama delignifikasi dengan larutan NaOH 6%, dan tahap ledua bleaching dengan larutan NaOCl 5,25%. Tepung<br>kulit durian kemudian dianalisa kandungan selulosa dan pati, serta dikarakterisasi fisik untuk tepung dan sampel bioplastik<br>yang dihasilkan. Hasilnya menunjukkan terjadi peningkatan kandungan selulosa 1% menjadi 6,55% setelah delignifikasi,<br>kemudian menjadi 18,41% setelag dibleaching. Namun terjadi penurunan kadar pati pada tepung kulit durian setelah proses<br>delignifikasi dan bleaching, dari 68,67% menjadi 26,19%. Tepung dan sampel bioplastik yang dihasilkan setelah proses<br>delignifikasi dan bleaching berwarna bening dan elastis layaknya bioplastik pada umumnya</p>2026-01-23T11:31:27+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3107PERENCANAAN SEKUEN DAN JADWAL PENAMBANGAN SELAMA UMUR TAMBANG DI PIT UTARA PT MERAPI ENERGY COAL2026-01-29T20:41:02+07:00M. Rafly Alfiansyah03021182126002@student.unsri.ac.id<p class="AvoerAbstrak"><span lang="IN">Perencanaan tambang merupakan salah satu tahapan penting untuk mengoptimalkan pemanfaatan cadangan batubara serta memastikan kegiatan operasional yang efisien, terarah, dan berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan di PT Merapi Energy Coal, Merapi Barat, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, dengan tujuan untuk menntukan kebutuhan alat gali muat dan angkut, merancang <em>sequence </em>penambangan, serta menyusun jadwal penambangan selama umur tambang. Analisis dilakukan dengan mengintegrasikan data sekunder dan primer menggunakan perangkat lunak <em>Deswik 2025.1</em>, <em>Minescape 5.7</em>, dan <em>Spry</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan alat untuk mencapai target produksi tahunan mencakup kombinasi <em>Excavator</em> Komatsu PC200-8, PC300-8, PC400-8, Serta <em>dump truk </em>SANY SYZ308C-8(V). <em>Sequence </em>penambangan dirancang berdasarkan target produksi tahunan dan pembagian kuartal, sehingga diperoleh rencana penjadwalan yang selaras dengan desain <em>pit </em>dan <em>disposal</em>. Umur tambang dihitung dengan mempertimbangkan <em>volume overburden</em> sebesar ±1,44 juta BCM dan batubara sebesar ±0,91 juta ton. Dengan perencanaan <em>sequence </em>dan jadwal yang sistematis, PT Merapi Energy Coal dapat mencapai target produksi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional</span></p>2026-01-29T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3117OPTIMASI DESAIN PIT BERDASARKAN BATAS WILAYAH KERJA DAN TARIF KONTRAK BATUBARA DI PT ULIMA NITRA, TBK.2026-01-29T20:46:53+07:00Muhammad Davin Al Hafizh03021282126028@student.unsri.ac.id<p><strong>ABSTRAK: </strong>Optimasi desain <em>pit</em> merupakan tahap penting dalam kegiatan penambangan karena berperan dalam menentukan batas akhir tambang yang optimal secara teknis dan ekonomis. Penelitian ini dilakukan di PT Ulima Nitra, Tbk., Site Wiraduta Sejahtera Langgeng, <em>Pit</em> Blok 2 DUE, Muara Enim, Sumatera Selatan. Tujuan penelitian ini adalah merancanga desain <em>pit</em> yang teroptimasi dengan mempertimbangkan batas wilayah kerja (boundary) dan tarif kontrak batubara guna memaksimalkan keuntungan perusahaan. Metode yang digunakan adalah Incremental <em>Pit</em> Expansion dengan melakukan evaluasi bertahap terhadap beberapa scenario <em>pit</em> berdasarkan stripping ratio dan profit margin. Hasil penelitian menunjukkan desain <em>pit</em> optimal pada tahun 2025 memiliki potensi produksi batubara sebesar 436.897 ton dan overburden sebesar 1.422.893 BCM, dengan stripping ratio 3,25 dan potensi keuntungan mencapai Rp. 94.797.694.507. perencanaan ini membuktikan bahwa penentuan batas <em>pit</em> yang terintegritas dengan batas wilayah dan tarif kontrak harga batubara sangat penting dalam memaksimalkan efisiensi operasi serta profitabilitas dalam periode produksi tahunan.</p> <p>Kata Kunci: optimasi <em>pit</em>, stripping ratio, profit margin, batubara, boundary.</p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>Pit design optimization is a crucial stage in mining operations as it determines the final pit limit that is technically and economically optimal. This study was conducted at PT Ulima Nitra, Tbk., Wiraduta Sejahtera Langgeng Site, Pit Block 2 DUE, Muara Enim, South Sumatra. The aim of this research is to design an optimized pit by considering the mining boundary and coal contract price to maximize company profits. The Incremental Pit Expansion method was applied by conducting a step-by-step evaluation of several pit scenarios based on stripping ratio and profit margin. The results show that the optimal pit design for 2025 has a potential coal production of 436,897 tons and overburden removal of 1,422,893 BCM, with a stripping ratio of 3.25 and a potential profit of approximately IDR 94,797,694,507. This planning demonstrates that determining pit limits integrated with boundary conditions and coal contract rates is essential to maximizing operational efficiency and profitability within an annual production period.</p> <p>Keywords: pit optimization, stripping ratio, profit margin, coal, boundary.</p>2026-01-29T20:46:53+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3111ANALYSIS OF THE EFFECT OF FLY ASH SUBSTITUTION WITH SHELL WASTE MATERIAL AND CEMENT ON THE COMPRESSIVE STRENGTH OF GEOPOLYMER MORTAR2026-01-29T20:50:31+07:00Roger Einsteinrogereinstein201@gmail.com<p>This study aims to analyze the effect of substituting cement and shell waste from mollusks on the compressive strength of geopolymer mortar. The utilization of shell waste rich in CaO as a substitute for fly ash and cement is expected to enhance sustainability and material efficiency in construction materials. The methodology employed is experimental, with variations in material proportions, including fly ash substitution levels of 10–30% and cement addition of 5–10%. Compressive strength tests are conducted at ages 3, 7, and 28 days following ASTM C109 standards, along with microstructural analysis to understand the interactions among the materials. Results indicate that the optimal combination, achieving the highest strength, is 60% fly ash, 30% shell waste, and 10% cement, with a compressive strength of<br>41.28 MPa at 28 days. This research supports sustainable development by valorizing industrial waste, reducing reliance on traditional cement, and advancing eco-friendly construction materials.</p>2026-01-29T20:50:30+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3109Sistem Fluvial Sungai Musi Sebagai Indikator Tata Ruang Risiko Banjir: Studi Kasus Kota Palembang2026-01-29T20:52:06+07:00Harnaniharnani@ft.unsri.ac.idPradnya Paramarta Raditya Rendraraditya.rendra@unpad.ac.idBudhi Setiawanbudhi.setiawan@unsri.ac.idDede Nurohimdedenurohim@ft.unsri.ac.idDwi Vina Febrimdwivinafebrim@ft.unsri.ac.id<p>Kota Palembang merupakan wilayah dataran rendah yang dilintasi oleh Sungai Musi dan anak-anak sungainya, membentuk sistem geomorfologi fluvial yang kompleks dan dinamis. Urbanisasi yang pesat telah mengubah penggunaan lahan dan memperbesar volume limpasan permukaan, sehingga meningkatkan risiko banjir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis geomorfologi fluvial sebagai indikator spasial risiko banjir, dengan pendekatan kuantitatif dan geospasial. Metode yang digunakan meliputi klasifikasi bentuk lahan fluvial (dataran banjir, meander, rawa), analisis topografi dan elevasi, interpretasi citra satelit (Landsat 8) serta validasi lapangan di zona genangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Sungai Musi berada pada stadia geomorfik dewasa hingga menjelang tua, dengan pola meander aktif dan percabangan anastomatik yang stabil. Zona rawan banjir teridentifikasi di sisi dalam meander, area rawa yang terkonversi, dan wilayah <em>anabranching</em> aktif. Strategi mitigasi diarahkan pada konservasi dataran banjir, pelestarian vegetasi riparian, dan desain drainase berbasis kontur geomorfik. Kajian ini mendukung perencanaan tata ruang yang adaptif dan selaras dengan prinsip SDGs, khususnya dalam pengelolaan risiko bencana dan konservasi ekosistem fluvial.</p>2026-01-29T20:52:06+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3105THE INFLUENCE OF CURING CONDITIONS WITH LOW NAOH MOLARITY ON THE MECHANICAL PROPERTIES OF GEOPOLYMER CONCRETE2026-01-29T20:53:39+07:00Ivan Nichollasivan.nichollas000@gmail.com<p><em>This study aims to analyze the effect of curing conditions and low NaOH molarity on the mechanical properties of fly ash–based geopolymer concrete as an environmentally friendly alternative to conventional concrete. The NaOH molarity variations used were 6 M, 8 M, and 10 M, with two curing methods: oven curing at 90°C and 120°C, and ambient curing. Compressive strength tests were conducted at 3, 7, and 28 days. The results showed that the highest compressive strength was achieved under oven curing at 90°C, reaching 40.514 MPa at 28 days, while the lowest value of 7.992 MPa occurred under ambient curing. The increase in compressive strength from ambient curing to oven curing at 90°C reached 173.82% at 3 days and 135.16% at 28 days. Furthermore, increasing the NaOH molarity from 6 M to 10 M significantly improved compressive strength, with an average increase of 32.25% at 3 days and 44.84% at 28 days. Overall, oven curing at 90°C provided the most optimal results, while curing at 120°C produced slightly lower performance. This study highlights that controlling curing temperature and activator molarity plays a crucial role in optimizing the strength of fly ash–based geopolymer concrete.</em></p>2026-01-29T20:53:38+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3059PENGARUH RASIO AGREGAT/BINDER DENGAN PENAMBAHAN EARLY STRENGTH AGENT TERHADAP KUAT TEKAN BETON GEOPOLIMER2026-01-29T20:54:59+07:00Zalfa Annisazalf4annisa@gmail.com<p style="font-weight: 400;"><em>Geopolymer concrete is an innovative alternative to conventional concrete that supports sustainable and environmentally friendly construction. This study aims to determine the effect of varying aggregate-to-binder ratios (65:35, 70:30, and 75:25) with the addition of Triethanolamine (TEA) as an early strength agent (0%, 0.2%, and 0.4%) on the compressive strength of fly ash-based geopolymer concrete. Compressive strength tests were conducted at 1, 7, and 28 days of age. The results show that both the aggregate-to-binder ratio and the TEA dosage significantly affect compressive strength. The optimal compressive strength at aged 1 day was obtained at a 65:35 aggregate-to-binder ratio with 0.4% TEA additio</em><em>n:23,59 MPa</em><em>. The use of TEA effectively accelerated the geopolymerization process and enhanced early-age strength. This research demonstrates that a proper ratio combination and the inclusion of early strength agents can improve the mechanical performance of geopolymer concrete, making it a promising alternative for sustainable construction.</em></p>2026-01-29T20:54:59+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3096PERENCANAAN DAN PEMBUATAN JALAN ALL WEATHER ROAD (AWR) CARDIFF DI PIT MTB PT. BUKIT ASAM, TBK2026-01-29T20:56:31+07:00Jepry Andriantojepryandrianto@gmail.com<p>ABSTRAK: Perencanaan dan pembuatan Jalan <em>AWR</em> Cardiff sepanjang 2,1 km dilaksanakan sebagai pengganti Jalan Line C yang telah masuk ke dalam sekuen timbunan di area Pit MTB PT Bukit Asam, Tbk. Pembangunan jalan ini bertujuan untuk menjaga kesinambungan kegiatan penambangan serta mendukung kegiatan pemindahan infrastruktur MTB yang berpotensi <em>opportunity loss </em>volume batubara di IUP MTB sebesar 2,5 juta ton pada tahun 2025 dan 3,2 juta ton pada tahun 2026. Tahapan pekerjaan dimulai dengan analisis kondisi <em>subgrade</em> eksisting sebagai dasar dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan jalan. Berdasarkan hasil analisis tersebut, dilakukan pembentukan <em>subbase layer</em> dengan metode <em>fill</em> menggunakan material pilihan yang dipadatkan sesuai spesifikasi teknis agar diperoleh kestabilan yang memadai sebelum tahap perkerasan. Setelah pekerjaan <em>subbase</em> selesai, tim geoteknik melakukan pengujian <em>Dynamic Cone Penetrometer (DCP)</em> untuk menentukan nilai <em>California Bearing Ratio (CBR)</em> dengan standar minimal <em>CBR</em> ≥ 30%. Apabila hasil pengujian memenuhi syarat tersebut, segmen jalan diserahkan kepada tim <em>Mining Support</em> untuk dilanjutkan ke tahap pembatuan sesuai rancangan lapisan perkerasan. Proses perkerasan jalan menggunakan metode makadam dengan tiga lapisan utama, yaitu <em>base layer</em> berupa batu pecah ukuran 200 mm, <em>filler layer</em> dengan batu pecah ukuran 60 mm, serta <em>surface layer</em> menggunakan batu pecah split ukuran 20 mm sebagai lapisan permukaan akhir. Pelaksanaan pekerjaan dilakukan secara segmentasi dengan panjang 300 meter per segmen. Penerapan sistem segmentasi dan kontrol mutu berbasis uji <em>CBR</em> terbukti efektif dalam memastikan kualitas, efisiensi waktu, serta ketahanan jalan tambang terhadap beban operasional alat angkut di area Pit MTB.</p> <p>Kata Kunci: Jalan tambang, perkerasan makadam, CBR, DCP, Pit MTB, PT Bukit Asam</p>2026-01-29T20:56:31+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3100EVALUASI KUALITAS AIR TANAH DANGKAL DAN KANDUNGAN BAKTERI Escherichia Coli PADA SUMUR YANG BERDEKATAN DENGAN TANGKI SEPTIK DI DESA BURAI, KECAMATAN TANJUNG BATU, KABUPATEN OGAN ILIR2026-01-29T20:58:03+07:00Yogie Zulkurnia Rochmanayogie.zrochmana@ft.unsri.ac.idM Alfath Salvano Salnimuhammadalfathsalvanosalni@ft.unsri.ac.idDede Nurohimdedenurohim@ft.unsri.ac.idBudhi Setiawanbudhi.setiawan@unsri.ac.idIdarwatiidarwati@ft.unsri.ac.idHarnaniharnani@ft.unsri.ac.idDwi Vina Febrimdwivinafebrim@ft.unsri.ac.idEdy Sutriyonoedy_sutriyono@unsri.ac.idIka Juliantinaikajuliantina@ft.unsri.ac.idMuhammad Akmal Dwi Antoroakmldws24@gmail.comRehan Riad Fajrirehanriad9903@gmail.comAndri Usmi Pratamaandriusmipratama@gmail.comZhura Salsabilla Putrisalsabillazhura@gmail.comKalyana Silmi Nayyaraksilminayyara@gmail.com<p>Ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan dasar masayarakat, namun di beberapa wilayah pedesaan seperti Desa Burai, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, kualitas air tanah dangkal sering terancam kedekatannya dengan sistem sanitasi yang tidak memadai. Permasalahan utama berupa potensi kontaminasi air tanah oleh bakteri <em>Escheria coli</em> yang berasal dari tangki septik rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh jarak antara tangki septik terhadap kualitas air tanah dangkal dan kandungan bakteri <em>Escherichia coli</em> pada sumur warga di Desa Burai, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir. Metode penelitian mencakup survei lapangan untuk menentukan posisi sumur gali dan tangki septik serta mengukur jarak horizontal antara keduanya. Pengambilan sampel air dilakukan pada beberapa titik representatif berdasarkan variasi jarak terhadap tangki septik. Analisis laboratorium meliputi parameter fisik (pH, suhu, warna, bau, dan kekeruhan) untuk menilai kondisi kualitas air secara umum, serta parameter biologis dengan metode SM 9222 J guna mengidentifikasi dan menghitung jumlah koloni <em>Escherichia coli</em> menggunakan teknik <em>membrane filtration</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tangki septik yang lebih dekat berpengaruh terhadap penurunan kualitas air secara fisik, seperti peningkatan kekeruhan atau perubahan bau, serta peningkatan jumlah koloni <em>Escherichia coli</em>. Hal ini menandakan adanya infiltrasi limbah fekal ke dalam akuifer dangkal. Temuan ini diharapkan menjadi dasar rekomendasi bagi pemerintah desa dan masyarakat dalam menentukan jarak minimum aman antara tangki septik dan sumur gali, guna menjaga kualitas air tanah dan mencegah risiko penyakit berbasis air di wilayah pedesaan.</p>2026-01-29T20:58:03+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3122OPTIMASI PIT PENAMBANGAN NIKEL LATERIT DI PT XYZ2026-01-29T20:59:41+07:00Nadya Putri Hanifanadyahanifa2003@gmail.com<p class="AvoerAbstrak"><span lang="IN">Indonesia merupakan produsen nikel terbesar dunia dengan produksi 1,6 juta metrik ton pada 2022 (48,48% produksi global) dan cadangan 17,7 miliar ton bijih atau 177,8 juta ton logam. Sebagian besar nikel laterit terdapat di wilayah timur, khususnya Morowali, Sulawesi Tengah, sementara potensi greenfield tersebar di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. PT XYZ memiliki dua anak perusahaan dalam satu IUP di Desa Laroenai, Morowali, yaitu PT Cikara Bhuana (CB) dan PT Mitra Mineral Pelita (MMP). Untuk menjaga stabilitas produksi dan kualitas, PT XYZ menerapkan strategi optimasi pit guna meningkatkan efisiensi penambangan berkelanjutan. Penelitian ini melakukan perancangan ulang pit tambang terbuka nikel laterit dengan optimasi menggunakan software Geovia Whittle 4.7 pada blok A (CoG 1.1) dan B (CoG 1.2). Hasil optimasi menunjukkan cadangan blok A sebesar 8.272.832 ton dengan elevasi 375–545 mdpl, sedangkan blok B sebesar 2.769.360 ton pada elevasi 293–580 mdpl. Desain ultimate pit limit disusun berdasarkan hasil optimasi dan rekomendasi geoteknik, dengan geometri lereng: lebar berm 2 m, tinggi 3 m, kemiringan single slope 55°, serta intermediate berm 4 m setiap 12 m bench. Hasil analisis ekonomi menunjukkan NPV blok A sebesar USD 32.981.987 dengan IRR 94,82%, sedangkan blok B menghasilkan NPV USD 6.336.304 dengan IRR 45,61%. Umur produksi maksimum yang diperoleh dari kedua blok mencapai 10 tahun. Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan optimasi pit mampu meningkatkan efisiensi perencanaan tambang nikel laterit sekaligus menghasilkan nilai ekonomi tinggi dengan tetap memperhatikan aspek geoteknik dan keberlanjutan.</span></p>2026-01-29T20:59:40+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3125oktadilard FULL PAPER2026-01-29T21:02:41+07:00Oktadila Rahmadanioktadilard.17@gmail.com<p>Batubara merupakan salah satu sumber energi utama yang berperan penting dalam memenuhi kebutuhan energi <br>nasional. Efisiensi operasional pada kegiatan penambangan menjadi faktor kunci untuk mencapai produktivitasoptimal, <br>khususnya pada penggunaan alat gali-muat dan alat angkut. Penelitian ini dilakukan di PT Duta Bara Utama, Kabupaten <br>Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan, dengan tujuan menganalisis produktivitasalat gali-muat dan alat angkut serta menilai <br>tingkat keserasian (match factor) antara keduanya. Berdasarkan hasil analisis, produktivitasExcavator VOLVO EC 480DL <br>sebesar 258 BCM/jam dan Excavator HITACHI ZX 870 sebesar 367 BCM/jam, sedangkan Dump truck LGMG CMT 96 <br>memiliki produktivitasrata-rata 55 BCM/jam. Nilai match factor berkisar antara 0,75–1,05 yang menunjukkan keseimbangan <br>kerja alat tergolong efisien. Secara keseluruhan, kegiatan penambangan di PT Duta Bara Utama telah berjalan efektif, namun <br>peningkatan efisiensi masih dapat dilakukan melalui perbaikan kondisi jalan tambang dan pengaturan waktu kerja alat.</p>2026-01-29T21:02:41+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3127PENDAMPINGAN MASYARAKAT DALAM PERENCANAAN KAMPUNG PERIGI DUA ULU PALEMBANG SEBAGAI KAMPUNG WISATA2026-01-29T21:04:23+07:00fuji amaliafuji.amalia1986@gmail.com<p>Kampung Perigi di Palembang memiliki potensi signifikan sebagai Kampung Wisata berkat kekayaan warisan budaya (heritage) berupa rumah-rumah tradisional (limas, kembar, gudang) berusia hingga 100 tahun dan kegiatan ekonomi lokal yang beragam, termasuk bengkel perahu tradisional, tenun songket, usaha rokok nipah, serta kerajinan aluminium. Pengembangan kawasan ini menuntut perencanaan yang terintegrasi, memastikan pelestarian bangunan <em>heritage</em> selaras dengan pengembangan ekonomi masyarakat. Kegiatan pengabdian ini merupakan inisiatif kemitraan yang melibatkan pendampingan tim kepada warga Kampung Perigi dalam mengidentifikasi potensi dan permasalahan, serta membantu penyusunan desain dan penggambaran teknis rencana kawasan. Perencanaan didasarkan sepenuhnya pada kebutuhan dan keinginan masyarakat setempat. Luaran utama dari kegiatan ini adalah gambar rencana kawasan yang berfungsi sebagai dokumen usulan untuk program pembangunan kepada pemerintah daerah, instansi terkait, atau program <em>Corporate Social Responsibility</em> (CSR). Upaya ini bertujuan untuk mengoptimalisasi pelestarian aset budaya dan mendorong pengembangan ekonomi lokal di Kampung Perigi.</p>2026-01-29T21:04:23+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3129the study of the layout of the Kedaton Muaro Jambi tmple as a Hindu influence2026-01-29T21:05:43+07:00ardi ardiansyah jusmanardiansyahst01@gmail.com<pre style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"><em><span style="font-family: 'Times New Roman','serif';">The remains of temple buildings are generally known on the island of Java, but this does not mean that there are no temple buildings outside of Java, but rather that there are still many temple buildings that have not been restored or reconstructed.The lag in temple reconstruction activities outside Java is caused not only by the fact that the conditions when they were discovered were not as complete as the sites on the island of Java, such as Borobudur and Prambanan Temples in Central Java, which at the time of discovery were in the form of complete temples from the base to the head of the temple, but also by the cost factor and the number of researchers interested in temple reconstruction. This also influences the lack of temple reconstruction activities outside Java.Sumatra Island is also home to many temple ruins, at least from the northern part of Sumatra to the southern part. One of these is the Muaro Jambi Temple Site. The site contains numerous temple complexes covering approximately 500 hectares. The largest temple complex within the site is the Kedaton Temple. The reconstruction process only affected the base of the temple, but the layout, including the gates, main fence, and the fence within the complex, provide clear clues to the building's layout.The uniqueness of the layout of the Kedaton temple is that it provides clues to the spatial pattern of Hindu architecture, while the site is known as a Buddhist temple relic. This is what needs to be studied in detail, which will reveal important information that can change the views and outline of temple research in Sumatra.</span></em></pre>2026-01-29T21:05:43+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3130the Optimasi Teknologi Pemancar FM untuk Meningkatkan Kualitas Siaran Menggunakan Algoritma Phase-Locked Loop (PLL)2026-01-29T21:09:26+07:00syafira pelisya putsyafirapelisyaputri@gmail.comDhimas Hary Mahardhikadhimashm17@gmail.comDeni Ahmad RizkiSieerizki@gmail.com<p>Penelitian ini mengkaji Optimasi teknologi pemancar FM untuk meningkatkan kualitas siaran menggunakan algoritma Phase-Locked Loop (PLL). Era digitalisasi mendorong kebutuhan peningkatan kualitas siaran radio FM yang tetap relevan sebagai media komunikasi massa. Permasalahan ketidakstabilan frekuensi pada osilator pemancar FM konvensional menyebabkan penurunan kualitas audio dan ketidakpatuhan regulasi. Tujuan penelitian adalah menganalisis penerapan PLL sebagai frequency synthesizer untuk menghasilkan sinyal pembawa RF yang stabil pada rentang 88-108 MHz. Metodologi menggunakan pendekatan mixed-method dengan simulasi MATLAB/Simulink dan implementasi hardware prototipe menggunakan IC CD4046, VCO berbasis varactor diode BBY40, dan power amplifier 2SC1971 pada daya 10-30 Watt. Parameter Optimasi meliputi kestabilan frekuensi <0.1 ppm, THD <0.3%, dan SNR >55 dB. Hasil penelitian menunjukkan PLL berhasil mengatasi fluktuasi frekuensi dan distorsi sinyal, menghasilkan output RF lebih stabil dengan peningkatan kualitas siaran yang signifikan. Implementasi PLL memungkinkan kontrol frekuensi presisi, mengurangi noise, dan meningkatkan keandalan transmisi. Kesimpulan menunjukkan teknologi PLL efektif meningkatkan performa pemancar FM dengan stabilitas frekuensi superior, kualitas audio terjaga, dan jangkauan siaran optimal.</p>2026-01-29T21:09:26+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3128Peningkatan Efisiensi Energi pada Operasional Crushing Batubara dengan Project Implementasi Bucket Crusher2026-01-29T21:10:56+07:00Erwan Abjatar Simanjuntakr1.juntak@gmail.com<p>Efisiensi energi di sektor industri pertambangan sangat penting untuk mendukung keberlanjutan dan mengurangi dampak lingkungan. PT Bukit Asam, Tbk adalah perusahaan pertambangan batubara yang setiap tahunnya mengalami peningkatan target produksi. PTBA menghadapi tantangan dalam operasional proses produksi batubara yaitu konsumsi energi cukup tinggi dan menghasilkan emisi karbon yang tinggi. Implementasi project bucket crusher yang dipasang pada alat berat Excavator menggantikan sistem produksi batubara mobile crusher dinilai lebih efisien dalam penerapan efisiensi energi di area tambang MTBU. Adapun metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Metode akan memberikan gambaran rinci tentang proses, hasil, dan dampak dari implementasi project teknologi bucket crusher pada excavator tersebut. Project bucket crusher berhasil menurunkan konsumsi energi sebesar 300,4 TOE per tahun, mengurangi emisi karbon sebesar 10.804,20 TCO2e per tahun. Selain itu, project bucket crusher juga berhasil mencapai target produksi 400.000 ton/bulan di area MTBU dengan efisiensi yang lebih baik. Implementasi project bucket crusher mendukung keberlanjutan perusahaan dan efisiensi dalam operasional pertambangan. Project ini sejalan dengan penerapan praktek keinsinyuran dan budaya perusahaan PT. Bukit Asam “AKHLAK” (Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif).</p>2026-01-29T21:10:56+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3179SISTEM PENGENALAN WAJAH CERDAS BERBASIS ESP32-CAM DAN COMPUTER VISION UNTUK OBJEK REAL-TIME2026-01-29T21:12:59+07:00Belza Zanariabelza505@gmail.comM. Haeqal Salehudinsalehudinhaeqal@gmail.com<p>Seiring meningkatnya kebutuhan akan sistem keamanan yang cerdas dan efisien, teknologi deteksi wajah menjadi solusi yang semakin relevan. Penelitian ini mengusulkan sebuah sistem deteksi wajah cerdas yang mengintegrasikan mikrokontroler hemat daya ESP32-CAM dengan algoritma <em>deep learning</em> You Only Look Once versi 8 (YOLOv8). Sistem ini dirancang untuk mendeteksi wajah secara <em>real-time</em> langsung dari perangkat, serta menampilkan hasilnya pada <em>dashboard</em> web interaktif yang mencatat setiap peristiwa deteksi. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang menggunakan metode klasik seperti <em>Haar Cascade</em> atau <em>Multi-Task Cascaded Convolutional Networks</em> (MTCNN), pendekatan ini memanfaatkan keunggulan YOLOv8 untuk mencapai kecepatan dan akurasi yang lebih tinggi dalam kondisi lingkungan yang dinamis. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah prototipe sistem keamanan yang terjangkau, efisien, dan dapat diakses dari jarak jauh, yang tidak hanya mampu melakukan deteksi wajah secara akurat tetapi juga menyajikan riwayat data secara visual untuk keperluan pemantauan. Sistem ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk pengembangan aplikasi.</p>2026-01-29T21:12:59+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3183SIGNIFIKANSI GEODIVERSITAS KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN BAGI PENGEMBANGAN GEOWISATA DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM BERBASIS EDUKASI KEBUMIAN2026-01-29T21:14:21+07:00Muhammad Aldriansyah Abellinomaldriansyahabellino@gmail.comNovita Meryananovitameryana5@gmail.comEgi Saputraegisaputra.a290@gmail.comMsy Fadhiyahfadhiyahmsy04@gmail.comIdarwatiidarwati@ft.unsri.ac.idYogie Zulkurnia Rochmanayogie.zrochmana@ft.unsri.ac.id<p>Dinamika dan evolusi geologi di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan telah menghasilkan keanekaragaman serta bentang alam geologi yang unik, meliputi Bukit Situlanglang, intrusi granit, Goa Kelambit, serta satuan batuan andesit, metamorf, dan zona kompleks <em>melange</em>. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi dan peran geodiversitas wilayah tersebut dalam mendukung pengelolaan sumber daya geologi secara berkelanjutan. Metode yang diterapkan meliputi studi literatur, survei dan observasi lapangan dalam pengamatan fitur dan aspek geologi, serta analisis petrografi untuk mengetahui keanekaragaman mineralogi pada litologi batuan daerah penelitian. Proses tektonik masa lampau menghasilkan kondisi geologi unik, dimana batuan Pra-Tersier seperti phyllite, rijang, dan andesit terbentuk pada periode Paleozoikum hingga Mesozoikum akibat aktivitas subduksi. Pada masa Kapur awal, aktivitas magmatik membentuk intrusi granit yang dikenal sebagai Formasi Granit Garba. Selain itu, keberadaan gua karst pada batuan Tersier menunjukkan potensi pengembangan geowisata berkelanjutan. Dengan demikian, keanekaragaman geologi di wilayah ini memiliki peran penting dalam mendukung sektor pariwisata, pendidikan, industri, serta pembangunan ekonomi daerah secara berkelanjutan.</p>2026-01-29T21:14:20+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3192SOSIALISASI KUALITAS AIR TANAH DANGKAL SEBAGAI PEMANFAATAN AIR KEBUTUHAN HIDUP PADA MASYARAKAT KELURAHAN NIPAH PANJANG II, KECAMATAN NIPAH PANJANG, TANJUNG JABUNG TIMUR, PROVINSI JAMBI2026-01-29T21:15:56+07:00Risnaliyah Nuriil Tadersirisnaliyahnuriil@unja.ac.idFebiyora Chandra Kirana febiyorachandrakirana@unja.ac.idAndrea Hasbullah andreahasbullah@unja.ac.idMaulina Tanjungmaulinatanjung@unja.ac.idSarwo Sucitra Aminsarwosucitra@unja.ac.idDiah Wully Agustinediahwullyagustine@unja.ac.id<p>Air tanah dangkal merupakan sumber utama air bersih bagi masyarakat pesisir di Kelurahan Nipah Panjang II, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. Kondisi geologi yang didominasi oleh endapan lempung serta topografi yang datar menyebabkan wilayah ini rentan terhadap penurunan kualitas air, baik akibat intrusi air laut maupun aktivitas domestik. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan sosialisasi dan pengenalan kualitas air tanah dangkal kepada masyarakat melalui pengukuran parameter fisika meliputi pH, TDS (Total Dissolved Solids), dan EC (Electrical Conductivity). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa sebagian besar sampel masih memenuhi baku mutu air bersih berdasarkan Permenkes RI No. 2 Tahun 2023, dengan nilai pH 5,26–6,93, TDS 66–460 ppm, dan EC 118–938 µS/cm. Namun, beberapa titik menunjukkan nilai pH rendah dan TDS relatif tinggi yang mengindikasikan potensi pengaruh intrusi air laut. Sosialisasi yang dilakukan berhasil meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap arti setiap parameter kualitas air serta pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam memanfaatkan dan melestarikan sumber daya air tanah secara berkelanjutan.</p> <p>Kata Kunci: air tanah dangkal, sosialisasi, kualitas air, intrusi air laut, Nipah Panjang</p>2026-01-29T21:15:55+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3194PENGARUH PEMAKAIAN UDARA PEMBAKARAN TERHADAP YIELD COKE DAN THERMAL EFFICIENCY PADA REGENERATOR 15-R-103/104 UNIT RESIDUE CATALYTIC CRACKER DI PT KILANG PERTAMINA INTERNASIONAL RU VI BALONGAN2026-01-29T21:17:38+07:00Muhammad Yoti Lianlesmuhammadyotilianles823@gmail.com<p class="AvoerAbstrak"><span lang="IN">Unit Residue Catalytic Cracker (RCC) di PT Kilang Pertamina Internasional RU VI Balongan berfungsi mengolah residu berat menjadi bensin LPG dan Light Cycle Oil. Selama proses perengkahan terbentuk coke pada katalis yang menurunkan aktivitas sehingga diperlukan regenerasi di regenerator dua tingkat (15-R-103/104) dengan udara pembakaran sebagai sumber oksigen. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pemakaian udara pembakaran terhadap yield coke dan efisiensi termal. Data operasi Juni 2025 berupa kapasitas umpan laju udara pembakaran komposisi flue gas dan temperatur regenerator diolah menggunakan perhitungan neraca massa dan energi. Hasil menunjukkan yield coke 8,19–9,36% dengan rata-rata 8,64% sedangkan efisiensi termal 61,70 63,15% dengan rata-rata 62,26%. Peningkatan udara pembakaran cenderung meningkatkan yield coke sekaligus mendorong efisiensi termal meskipun tidak sepenuhnya linier. Keseimbangan suplai udara pembakaran coke dan distribusi panas menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas RCC sehingga diperlukan optimasi distribusi udara dan pengendalian catalyst cooler. </span></p>2026-01-29T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3195PERANCANGAN BYPASS LINE DARI INLET OXIDIZER (103-V-505) KE DESULFIDE SEPARATOR (103-V-506) DI UNIT 103 LPG MEROX PT. KILANG PERTAMINA INTERNASIONAL RU IV CILACAP2026-01-29T21:35:22+07:00Awan Eka Putraawanekaputra.business@gmail.com<p><strong>ABSTRAK: </strong>Penelitian ini membahas perancangan <em>bypass line</em> pada unit Desulfide Separator 103-V-506 di PT Kilang Pertamina Internasional RU IV Cilacap dengan tujuan mengevaluasi kelayakan hidraulik sistem melalui perbandingan dua skenario desain, yaitu rute optimal dan rute realistis. Analisis dilakukan menggunakan metode Darcy–Weisbach untuk kerugian mayor, Crane TP 410M untuk kerugian minor, serta persamaan Colebrook–White dan Von Kármán untuk penentuan faktor gesek, validasi perhitungan manual dilakukan dengan simulasi Aspen HYSYS. Hasil menunjukkan bahwa kedua skenario memenuhi kriteria kelayakan dengan tekanan akhir di atas 4,50 kg/cm²G dan kecepatan aliran rendah sebesar 0,10 m/s. Dekomposisi kerugian tekanan memperlihatkan dominasi komponen gravitasi sebesar 98,99%, kerugian mayor dan minor secara kolektif hanya berkontribusi sekitar 1%. Validasi menghasilkan kesesuaian tinggi antara perhitungan manual dan simulasi dengan selisih 0,43%. Meskipun layak secara teknis, margin tekanan yang diperoleh tipis, yaitu sekitar 0,11 kg/cm²G, sehingga direkomendasikan penurunan set point tekanan operasi di vessel tujuan menjadi 4,40 kg/cm²G untuk meningkatkan margin keamanan menjadi 0,21 kg/cm²G tanpa menimbulkan dampak terhadap proses hilir.</p> <p>Kata Kunci: <em>Bypass line, </em>Hidraulik<em>, Pressure drop, Aspen HYSYS, </em>Perpipaan</p>2026-01-29T21:35:22+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3196PENGOLAHAN MINYAK JELANTAH MENJADI PEMBERSIH LANTAI MENGGUNAKAN PEWARNA ALAMI BUNGA TELANG DAN TEH HIJAU DI SMK NEGERI 4 PALEMBANG2026-01-29T21:37:57+07:00Audya Tuzzarah Ramadhiniaudyatz.ramadhini@gmail.com<p><strong>ABSTRAK</strong>: Minyak jelantah sangat berpotensi untuk diolah menjadi aneka produk yang bermanfaat, salah satunya adalah pembersih lantai. Keberadaan minyak jelantah cukup melimpah, mudah diperoleh dan pengolahannya yang tepat dapat memberikan keuntungan. Pengolahan minyak ini merupakan solusi tepat untuk mengurangi risiko bahaya bagi kesehatan dan masalah lingkungan akibat pembuangan minyak jelantah yang tidak memperhatikan aspek lingkungan. Kegiatan ini berlangsung di SMK Negeri 4 Palembang dengan metode penyuluhan, pelatihan dan pendampingan praktek. Praktek pembuatan produk terdiri dari tahap perlakuan awal minyak jelantah, reaksi saponifikasi, pemisahan, pencampuran bahan, pengujian pH, pemberian pewangi dan pewarna, serta pengemasan produk. Kegiatan pengabdian ini dievaluasi dengan cara memberikan kuisioner skala 1-5 kepada 30 peserta (guru dan siswa). Hasil pengolahan data menunjukkan penilaian terhadap beberapa aspek yaitu pemateri dan teknik penyajian memperoleh penilaian baik sekali dengan persentase sebesar 93%, minat peserta terhadap kegiatan dinilai baik sekali (80%) dan manfaat materi pengabdian juga memiliki penilaian sangat baik dengan persentase 97%. Dari nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan pengabdian ini mendapat respon sangat baik dan ditindak lanjuti dari pihak sekolah sebagai salah satu kegiatan P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila).</p>2026-01-29T21:37:57+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3198PERANCANGAN SISTEM KENDALI SUHU PADA MINI STIRRED TANK HEATER MENGGUNAKAN PENGENDALI PID2026-01-29T21:39:54+07:00Muhammad Nabil Al Denry4ldenr@gmail.comMuhammad Adjie NovryantoNovry201105@gmail.comFebri Mahendraxhargev45@gmail.comMuhammad Otongmuhamad.otong@untirta.ac.idMassus Subektimasus@unj.ac.idIrmawanirmawan@unsri.ac.idBhakti Yudho Supraptobhakti@ft.unsri.ac.idDjulil Amridjulilamri@ft.unsri.ac.id<p class="AvoerAbstrak">Perkembangan dunia industri saat ini semakin pesat, membutuhkan sistem kendali yang efisien dan mampu meningkatkan kualitas hasil produksi. Maka dari itu diperlukan pengembangan suatu sistem kendali yang mampu mengendalikan sistem secara otomatis dan mampu menimalisir kesalahan atau eror. Salah satu proses industri ialah sistem pemanas, sistem pemanas yang banyak digunakan pada industri adalah stirred tank heater. Pada penelitian ini akan dilakukan suatu pengujian pada <em>Stirred Tank Heater</em>. Dimana, pengujian ini dilakukan dengan cara melakukan simulasi terhadap respon sinyal keluaran suhu yang dihasilkan dari diagram blok sistem kendali suhu pada <em>Stirred Tank Heater</em> dan dengan menggunakan suatu pengendali yaitu pengendali PID serta menggunakan metode trial and eror untuk menentukan nilai parameter pengendalinya dengan diprogram melalui Arduino. Dari hasil pengujian yang dilakukan dapat diketahui bahwa untuk simulasi respon sinyal keluaran suhu yang dihasilkan dari sistem kendali suhu <em>Stirred Tank Heater</em>. Parameter yang terbaik untuk sistem pengendaliannya adalah parameter PID menggunakan metode trial and eror dengan nilai parameternya KP = 47, KI = 4, dan Kd= 0,6.<br><br></p> <p class="AvoerAbstract">The development of the industrial world is currently increasingly rapid, requiring an efficient control system and able to improve the quality of production results. Therefore, it is necessary to develop a control system that is able to control the system automatically and is able to minimize errors or errors. One of the industrial processes is the heating system, the heating system that is widely used in industry is the stirred tank heater. In this final project, a test will be conducted on the Stirred Tank Heater. Where, this test is carried out by simulating the response of the temperature output signal generated from the block diagram of the temperature control system on the Stirred Tank Heater and by using a controller, namely the PID controller and using the trial and error method to determine the value of the controller parameters by programming via Arduino. From the results of the tests carried out, it can be seen that for the simulation of the response of the temperature output signal generated from the Stirred Tank Heater temperature control system. The best parameters for the control system are PID parameters using the trial and error method with parameter values of KP = 47, KI = 4, and Kd = 0.6.</p>2026-01-29T21:39:53+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3185KARAKTERISTIK BATUGAMPING BLOK BATUPUTIH DAN KESESUAIANNYA SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI2026-01-29T21:45:07+07:00Muhammad Addiansyahaddiansyah@unsri.ac.idEddy Ibrahimeddyibrahim@ft.unsri.ac.idMuhammad Azza Sujakasujaka@minevesting.coYuniar Noviantiyuniar@minevesting.co<p class="AvoerAbstrak"><span lang="EN-US">Blok Batu</span><span lang="EN-US">putih merupakan konsesi pertambangan komoditas batugamping dengan luas 92,09 Ha di Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Karakterisasi aspek geologi dan kimiawi batugamping Blok Batuputih perlu dilakukan agar dapat menentukan kesesuaiannya untuk menjadi bahan baku industri. Metode yang digunakan pada studi ini adalah pemetaan geologi, analisis petrografi, analisis <em>X-Ray Fluorescence</em> (XRF), dan komparasi terhadap 29 referensi kriteria produk industri yang menggunakan batugamping sebagai bahan bakunya. Hasil pemetaan geologi menunjukkan bahwa Blok Batuputih tersusun oleh satuan batugamping pasiran, batugamping klastik, dan batugamping kristalin. Penentuan litologi tersebut juga diperkuat dengan hasil analisis petrografi yang terdiri atas <em>crsytalline carbonate, packstone</em>, dan <em>wackestone</em>. Hasil analisis XRF terhadap 12 sampel batugamping menunjukkan </span><span lang="EN-US">kadar </span><span lang="EN-US">sejumlah senyawa mayor pada batugamping, diantaranya </span><span lang="EN-US">CaO </span><span lang="EN-US">berkisar </span><span lang="EN-US">antara 54</span><span lang="EN-US">.</span><span lang="EN-US">83</span><span lang="EN-US">-55,98%, MgO berkisar antara 0.19-0.36%, Fe<sub>2</sub>O<sub>3</sub> berkisar antara 0.01-0.25%, Al2O3 berkisar antara 0.06-0.56%, dan SiO<sub>2</sub> berkisar antara 0.09-0.80%. Guna melakukan simplifikasi pada tahap komparasi, maka dipilih sampel RSM E4 dan RSM A2 sebagai representasi batugamping berkualitas tinggi dan sampel RSM B2 dan RSM E1 sebagai representasi batugamping berkualitas lebih rendah dengan mengacu pada kadar CaO sebagai senyawa kunci. Hasil komparasi kriteria bahan baku menunjukkan bahwa batugamping berkualitas tinggi (RSM E4 dan RSM A2) dalam kondisi aslinya sesuai terhadap kriteria 20 dari 29 kriteria produk industri. Sementara batugamping berkualitas lebih rendah (RSM B2 dan RSM E1) dalam kondisi aslinya hanya sesuai terhadap kriteria 10 dari 29 referensi kriteria produk industri. Direkomendasikan untuk melakukan benefisiasi secara fisik berupa pencucian dan pengayakan, pemilahan berat jenis, maupun pemisahan magnetik untuk meminimalisasi kadar senyawa pengotor, sehingga batugamping Blok Batuputih dapat lebih banyak memenuhi kesesuaian kriteria bahan baku industri.</span></p> <p> </p>2026-01-29T21:45:07+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3176PELATIHAN PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI JALAN LOGGING DI PT MUSI HUTAN PERSADA, SUMATERA SELATAN2026-01-29T21:48:46+07:00LUTHFIYYAH ULFAHluthfiyyah.ulfah@polsri.ac.id<p>Kegiatan pelatihan perencanaan dan pelaksanaan konstruksi jalan logging di PT Musi Hutan Persada (MHP), Sumatera Selatan, dilaksanakan sebagai upaya dalam meningkatkan kompetensi teknis sumber daya manusia dalam bidang konstruksi kehutanan. Permasalahan utama yang dihadapi di lapangan adalah sering terjadi kerusakan jalan akibat tanah dasar lemah dan drainase tidak optimal. Tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai konsep dasar perencanaan, pelaksanaan pekerjaan jalan <em>logging</em>, pemeriksaan tanah dasar (dengan menggunakan tes <em>sandcone </em> dan CBR), serta penerapan material geosintetik (geotekstil dan <em>geogrid</em>) sebagai solusi perkuatan tanah. Geotekstil yang digunakan tipe MACTEX<sup>®</sup> W2, dan geogrid yang digunakan tipe MacGridTM EG S & EB. Metode pelatihan terdiri atas sesi teori di kelas dan praktik lapangan di area konstruksi aktif. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman peserta dari 60% menjadi 90%, dengan peningkatan signifikan dalam kemampuan menganalisis kondisi lapangan dan keterampilan pemasangan geosintetik. Kegiatan ini juga mendorong penerapan prinsip K3 dan memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi vokasi dan industri kehutanan. Secara keseluruhan, pelatihan ini berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pelaksanaan konstruksi jalan logging yang lebih efisien dan berkelanjutan</p>2026-01-29T21:48:46+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3104ANALYSIS OF THE INFLUENCE OF ALKALI ACTIVATOR TO-FLY ASH MASS RATIO AND Na2SiO3-TO-NaOH MASS RATIO ON THE COMPRESSIVE STRENGTH OF FLY ASH BASED GEOPOLYMER MORTAR FORM SOUTH SUMATERA2026-01-29T21:51:30+07:00Hadi Winatawinatahadi2003@gmail.com<p>Geopolymer mortar is an environmentally friendly material innovation with the potential <br>to replace conventional mortar, as it does not use cement as a binder but instead utilizes <br>industrial waste such as fly ash. This study aims to analyze the effects of varying the mass <br>ratio of alkali activator to fly ash (AA:FA) and the mass ratio of sodium silicate to sodium <br>hydroxide (Na₂SiO₃/NaOH) on the compressive strength of geopolymer mortar using fly <br>ash from two sources in South Sumatra: PT Pupuk Sriwidjaja (PUSRI) and PT Bukit Asam <br>Tbk (PTBA). Compressive strength tests were conducted at 3, 7, and 28 days of curing. <br>Additionally, the characteristics of the fly ash were evaluated using X-ray Fluorescence <br>(XRF), X-ray Diffraction (XRD), and Scanning Electron Microscopy (SEM) to determine <br>its chemical composition, reactivity, and particle morphology. The results indicate that <br>both the AA:FA and Na₂SiO₃/NaOH ratios significantly affect the compressive strength of <br>the mortar. The optimum compressive strength was achieved at an AA:FA ratio of 0.6, <br>resulting in 47.25 MPa for fly ash from PUSRI, and at an AA:FA ratio of 1.3 with 7.28 <br>MPa for fly ash from PTBA. Regarding the Na₂SiO₃/NaOH ratio, the optimal value was <br>found at 2.5:1 for both fly ash sources, producing a compressive strength of 43.28 MPa for <br>mortar with PUSRI fly ash and 6.02 MPa for mortar with PTBA fly ash. </p>2026-01-29T21:51:30+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2942Analisis Pengaruh Daya Dukung Tanah Terhadap Pemilihan Alat Mekanis Pada Penambangan Batubara Di Area Alam 8-9 PT Muara Alam Sejahtera2026-01-30T13:50:28+07:00Toyib Aprio Armandatoyibaprioarmanda@gmail.com<p>ABSTRACT: This study aims to analyze the soil bearing capacity and its effect on the selection of mechanical equipment in coal mining at Area Alam 8-9 PT Muara Alam Sejahtera. The <em>dynamic cone penetrometer</em> (DCP) test was applied to obtain the <em>california bearing ratio</em> (CBR), which was then converted into soil bearing capacity. In addition, <em>ground pressure</em> (GP) analysis of the mechanical equipment was conducted. The results show that the average soil bearing capacity values for the three segments were 7,61 kg/cm² (pit road), 5,26 kg/cm² (disposal area), and 5,13 kg/cm² (original soil). The highest GP value was recorded for the <em>heavy dump truc</em>k CMT 106 at 6,54 kg/cm². The comparison between DDT and GP indicates that the pit road segment was adequate to support all equipment, while the disposal and original soil segments are not recommended for HD CMT 106 and CMT 96 due to potential failure. This study highlights the need for road improvement in low bearing capacity areas to ensure safer and more efficient operations.</p> <p>Keywords: <em>soil bearing capacity</em>, CBR, <em>ground pressure</em>, mechanical equipment, coal mining.</p>2026-01-30T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2944Sintesis Kitosan dari Cangkang Kepiting Sebagai Bio-Adsorben Pada Proses Pengolahan Limbah Cair Tahu2026-01-30T13:51:49+07:00Euis - Kusniawatieuis@pap.ac.id<p><strong>ABSTRAK</strong>: Limbah cangkang kepiting yang melimpah dapat dimanfaatkan sebagai sumber kitosan yang berpotensi digunakan sebagai bio-adsorben ramah lingkungan dalam pengolahan limbah cair. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis kitosan dari cangkang kepiting dan mengaplikasikannya dalam pengolahan limbah tahu dengan parameter analisis pH, <em>Total Suspended Solid</em> (TSS), <em>Total Dissolved Solid</em> (TDS), dan Asam Asetat. Proses sintesis dilakukan melalui tiga tahapan utama, yaitu demineralisasi menggunakan HCl 2M, deproteinasi dengan NaOH 4%, dan deasetilasi menggunakan NaOH 65%. Kitosan yang dihasilkan menunjukkan rendemen 25%, kadar air 2%, dan kelarutan 91%, memenuhi standar mutu SNI. Pengujian aplikasi bio-adsorben menunjukkan bahwa penambahan kitosan 2 gram dan waktu perendaman 90 menit dapat meningkatkan pH limbah dari 4,8 menjadi 8,4, menurunkan TSS dari 589 mg/L menjadi 35 mg/L (penurunan 94%), TDS dari 1076 mg/L menjadi 671 mg/L (penurunan 37%), dan asam asetat dari 2430 mg/L menjadi 138 mg/L (penurunan 94%). Hasil ini membuktikan bahwa kitosan dari limbah cangkang kepiting efektif digunakan sebagai bio-adsorben untuk pengolahan limbah tahu.</p>2026-01-30T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2946ANALYSIS OF GROUNDWATER TABLE FLUCTUATION IMPACT ON THE SLOPE STABILITY DESIGN OF DISPOSAL XYZ AT PT. BUKIT ASAM TBK. WITH MORGENSTERN-PRICE METHOD2026-01-30T13:52:56+07:00M Agil Almunawaragilalmunawar4617@gmail.com<p><em>Disposal areas are crucial in open-pit mining as locations for overburden material dumping. However, the stability of disposal slopes is highly influenced by the geotechnical properties of the material and groundwater table (GWT) fluctuations. This study was conducted at Disposal XYZ of PT Bukit Asam Tbk. with the objectives of analyzing the geotechnical conditions of the material and GWT elevation, assessing the effect of GWT fluctuations on slope safety factors, and providing technical recommendations to maintain slope stability. The research method utilized secondary data such as topographic maps and material mechanical properties, as well as primary data obtained from monitoring wells. The analysis was carried out using GeoStudio software (Seep/W and Slope/W) with the Morgenstern-Price method, Mohr-Coulomb failure criteria, steady-state seepage analysis, and from-parent condition analysis. The results showed that rising GWT levels decrease the slope safety factor (SF). Under low GWT conditions, SF values are greater than 1.3 (safe), while under saturated conditions, the SF decreases to approximately 1.1 (critical). The proposed technical recommendations include the construction of surface and subsurface drainage systems, groundwater monitoring with automatic water level recorders, and revegetation.</em></p>2026-01-30T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2945ECONOMIC STUDY OF THE REDISTURB PLAN FOR THE BRAZIL DUMP PIT BENDILI PRIMA DEPARTMENT BINTANG PT KALTIM PRIMA COAL2026-01-30T13:38:19+07:00M. Rajendra De' Nirosrajen123934@gmail.com<p>This study is based on the objective of optimizing operational cost efficiency and reducing hauling distances compared to the currently used J Void Dump location. The research aims to evaluate the economic feasibility of the redisturbance plan (reuse) of the Brazil Dump area as an alternative dumping point for overburden material at PT Kaltim Prima Coal (KPC). The methodology includes an analysis of the geometric design of Brazil Dump, calculation of the rehabilitated area affected by the redisturbance, and an evaluation of operational costs and the economic benefit of redisturbing the site. The results show that Brazil Dump is technically capable of accommodating approximately 13.4 million BCM of overburden with a tiered design ranging from elevation +50 to +150. However, the redisturbance process would affect 82.26 hectares of previously reclaimed land, with a total economic value of approximately USD 12.23 million. Despite an operational cost efficiency of USD 7.7 million, the analysis of economic benefit reveals a deficit of USD 4.53 million, indicating that from a direct cost-benefit perspective, the redisturbance plan does not provide a net economic gain when compared to the value of disturbed reclamation. Recommendations for future research include identifying alternative dumping sites that are closer to the active pit, minimizing the extent of redisturbance, and carefully considering reclamation costs and the economic value of impacted land.</p>2026-01-30T13:37:31+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2947OPTIMISATION OF BROKEN RECOVERY IN THE JAGUAR PIT PANEL OF THE SOUTH DEPARTMENT OF JUPITER AT PT KALTIM PRIMA COAL2026-01-30T13:48:04+07:00Alam Alamanda Danendra Canalamdanendracan@gmail.com<p><em>PT Kaltim Prima Coal (KPC) is one of the largest coal mining companies in Indonesia, operating in East Kutai, East Kalimantan. One of its operational areas, the Jaguar Panel in Pit Pinang South, was selected as the focus of this study with the main objective of optimizing broken recovery, defined as the percentage of blasted material successfully hauled. Based on field data from January–February 2025, the broken recovery rate was only 86% of the total blasted volume of 798,980 bcm, leaving 112,065 bcm of broken left material. The study employed Root Cause Analysis, Why-Why Analysis, and Priority Matrix to identify the main factors and determine corrective actions. The results indicated that a mismatch between blast hole depth and the optimum digging height of the Liebherr R996 excavator (4.2 m/pass) was the dominant cause of low recovery. The solution implemented was the 812 system, a combination of 8 m and 12 m blast hole depths adjusted to field elevation. After applying the 812 system, the broken recovery rate increased significantly to 95.8%, along with improvements in digging rate, excavation time, and overall excavator productivity. This study concludes that the 812 system is an effective and efficient technical strategy to enhance operational efficiency without modifying burden, spacing, or powder factor</em></p>2026-01-30T13:47:14+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3047PENGARUH KECEPATAN DUMP TRUCK TERHADAP PRODUKTIVITAS DI PIT UTARA BARAT, SITE TAMBANG AIR LAYA, PT BUKIT ASAM Tbk2026-01-30T14:01:52+07:00M Farhan2000faan@gmail.comFarros Fadhlurrohmanfarros4567@gmail.comLusitanialusitania@ft.unsri.ac.id<p><strong>ABSTRAK: </strong>Produktivitas alat angkut batubara di <em>pit </em>Utara Barat, <em>site</em> Tambang Air Laya, PT Bukit Asam Tbk., membutuhkan <em>management fleet</em> yang baik agar target produktivitas dapat tercapai sesuai dengan rencana kerja. Sementara itu, kecepatan alat angkut (<em>dump truck)</em> merupakan bagian yang penting dari ketercapaian produktivitas dalam kegiatan pengangkutan batubara, sehingga kegiatan tersebut harus sesuai standar yang berlaku (KEPMEN ESDM No.1827 tahun 2018). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penyebab ketidaktercapaian produktivitas <em>dump truck</em>, yang menggunakan metode kuantitatif dengan data primer berupa waktu edar, kecepatan, faktor pengisian, dan jumlah unit <em>dump truck </em>yang beroperasi. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa nilai produktivitas aktual dari <em>dump truck Mercedes-benz arocs 4845k </em>memiliki <em>range</em> sebesar 206,201 - 256,019 ton/jam., sedangkan target produktivitas perusahaan sebesar 250 ton/jam. Hal ini menunjukan bahwasanya terjadinya ketidaktercapaian produktivitas antara kondisi aktual dengan target yang direncanakan. Penyebabnya dipengaruhi oleh kecepatan <em>dump truck </em>yang tidak optimal (kurang dari 30 km/jam), jalan <em>hauling </em>yang memiliki kemiringan lebih dari 12% (tidak sesuai standar), dan kondisi material. </p> <p>Kata Kunci: <em>dump truck</em>, produktivitas, kecepatan, batubara, dan kemiringan jalan</p>2026-01-30T14:01:10+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3058Pengaruh Variasi Molaritas Naoh Terhadap Sifat Mekanis, Porositas, Dan Permeabilitas Pada Beton Porous Geopolimer2026-01-30T14:18:26+07:00Muhammad Ridho Alpajriridhoalpajri3@gmail.comBimo Brata Adhityabimo@unsri.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi molaritas NaOH (13M, 14M, 15M, 16M, 17M) terhadap sifat mekanik, porositas, dan permeabilitas beton porous geopolimer berbasis <em>fly ash</em>. Metode eksperimental melibatkan pengecoran sampel silinder (Ø10 cm × 20 cm) menggunakan agregat kasar (9,5–12,5 mm), rasio aktivator alkali/<em>fly ash</em> 0,45, dan pengawetan oven pada suhu 80°C selama 24 jam. Hasil menunjukkan bahwa 15M NaOH menghasilkan kekuatan tekan optimal 9,10 MPa (28 hari) dan kekuatan tarik belah 3,60 MPa (28 hari), dengan porositas 28.0340% dan permeabilitas 1.4147 cm/s. Peningkatan molaritas NaOH meningkatkan kepadatan matriks geopolimer karena peningkatan reaktivitas silika (SiO₂) dan alumina (Al₂O₃) dalam <em>fly ash</em>. Namun, molaritas >15M mengurangi kekuatan tekan karena pemisahan alkali. Nilai permeabilitas memenuhi standar ACI 522R-10 (0,14–1,22 cm/s), sementara porositas tetap dalam kisaran yang dapat diterima (15–35%). Studi ini merekomendasikan 15M NaOH untuk aplikasi beton porous geopolimer yang berkelanjutan dalam infrastruktur.</p>2026-01-30T14:17:39+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3076EVALUASI PERBANDINGAN KUAT TEKAN DAN BERAT JENIS BETON RINGAN MENGGUNAKAN AGREGAT BUATAN BERBASIS FLY-ASH EPOXY SEBAGAI SUBSTITUSI AGREGAT NORMAL2026-01-30T14:32:23+07:00Muhammad Farhanmuh.farhan.9h@gmail.com<p>Beton konvensional dengan berat jenis 2.400 kg/m3 mempengaruhi massa gedung cukup signifikan, sehingga mendorong pengembangan beton ringan sebagai material alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perbandingan kuat tekan dan berat jenis antara beton normal (BN) dan beton ringan (BR) yang menggunakan agregat buatan berbasis <em>fly ash</em> dan resin epoksi sebagai substitusi agregat kasar. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental di laboratorium dengan membuat benda uji silinder Ø150 x 300 mm, dengan target kuat tekan rencana <em>f'c</em> = 20 MPa. Pengujian utama meliputi pengukuran densitas dan uji kuat tekan pada umur 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan agregat buatan berhasil menurunkan densitas rata-rata beton secara signifikan dari 2385 kg/m³ pada BN menjadi 2035 kg/m³ pada BR. Penurunan berat ini dicapai tanpa mengurangi performa mekanik, dimana kuat tekan rata-rata BR pada umur 28 hari mencapai 20,26 MPa, nilai yang sangat kompetitif dan hampir setara dengan kuat tekan rata-rata BN sebesar 20,35 MPa. Temuan ini mengindikasikan bahwa agregat buatan dari <em>fly ash-epoxy</em> memiliki potensi besar untuk diaplikasikan pada elemen struktural yang memerlukan reduksi beban mati tanpa kehilangan kapasitas mekanik secara signifikan.</p>2026-01-30T14:31:39+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2969PENINGKATAN KREATIVITAS ANAK PANTI ASUHAN MELALUI PEMBUATAN KRAYON RAMAH LINGKUNGAN2026-01-30T14:58:50+07:00Edwin Permanaedwinpermana86@unja.ac.idMartina Asti Rahayumartinaasti@unja.ac.idNurul Pratiwinurulpratiwi@unja.ac.idDhian Eka Wijayadhianekawijaya@unja.ac.idDhian Eka Wijayadhianekawijaya@unja.ac.idKhairul Alimkhairulalim@unja.ac.idMuh Rizalmuh.rizal@unja.ac.idRizkal Fadlirizkalfadli@unja.ac.idVebria Ardinavebriaardina@unja.ac.idVebria Ardinavebriaardina@unja.ac.idArifin Aulia Siregararifinauliasiregar@gmail.comPrasetio Adi Nugrohotiosaputra555666@gmail.comWahyu Rahmat Setiawanwahyurahmatsetiawan26@gmail.com<p>Program pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Panti Asuhan Aisyiyah Muhammadiyah Kuala Tungkal yang membina 43 anak yatim, piatu, dan dhuafa. Permasalahan utama mitra adalah rendahnya kreativitas anak-anak dalam memanfaatkan potensi lingkungan dan kurangnya kesadaran terhadap isu lingkungan, terutama pengelolaan minyak jelantah. Limbah tersebut berpotensi mencemari lingkungan, padahal dapat diolah menjadi produk bernilai guna. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kreativitas dan kepedulian lingkungan melalui edukasi prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) serta pelatihan pembuatan krayon ramah lingkungan berbasis minyak jelantah. Metode pelaksanaan meliputi survei kebutuhan, penyuluhan, pelatihan teknis, pendampingan praktik, serta evaluasi hasil kegiatan. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan anak-anak tentang prinsip 3R dan keterampilan dalam mengolah minyak jelantah menjadi krayon yang dapat digunakan untuk kegiatan belajar. Kegiatan ini berkontribusi terhadap pemberdayaan anak-anak panti asuhan dan mendukung pencapaian indikator kinerja utama perguruan tinggi di bidang pengabdian kepada masyarakat.</p>2026-01-30T14:57:45+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2970PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM RANGKA PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN DI RT 14 PURI MASURAI 1, MENDALO INDAH, KABUPATEN MUARO JAMBI2026-01-30T15:06:58+07:00Revis Asrarevisasra@unja.ac.idEdwin Permanaedwinpermana86@unja.ac.id<p class="AvoerAbstrak" style="margin-bottom: 0cm; line-height: normal;"><span lang="IN">Lingkungan RT 12 dan RT 14 Puri Masurai 1 didominasi oleh mahasiswa kos dan warga dengan pekarangan yang tidak terawat serta kurangnya kesadaran terhadap kebersihan dan pengelolaan lingkungan. Padahal, lahan tersebut berpotensi mendukung ketahanan pangan melalui urban farming. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan pekarangan, mendukung ketahanan pangan keluarga dengan tanaman cepat panen, menciptakan lingkungan bersih dan hijau, serta menumbuhkan budaya bercocok tanam di kalangan anak kos dan warga. Permasalahan utama meliputi pekarangan yang tidak produktif, rendahnya kepedulian lingkungan, dan kurangnya pelatihan. Solusi dilakukan melalui penyediaan bibit hortikultura, pelatihan vertikultur, serta kegiatan kolektif warga. Program dilaksanakan selama tiga bulan (Juni–Oktober 2025) melalui tahapan survei, penyediaan media pembelajaran, sosialisasi, dan praktik lapangan. Hasilnya, warga aktif bergotong royong membersihkan lahan, menanam bibit sayuran dan buah, serta mengembangkan keterampilan bercocok tanam. Lingkungan menjadi lebih bersih, hijau, dan produktif, sekaligus membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga.</span></p>2026-01-30T15:06:11+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3149Integrasi Teknologi Membran Ultrafiltrasi dan Adsorben Kulit Manggis terhadap Kualitas TDS, pH, Dan EC Limbah Industri Tahu2026-01-30T15:24:22+07:00Afriza Citra Rahmadhiniarsipcitra28@gmail.com<p><strong>ABSTRAK: </strong>Industri tahu di Indonesia berkembang pesat dan berperan penting dalam ketahanan pangan. Namun, proses produksinya menghasilkan limbah cair dengan kandungan TDS dan EC sangat tinggi serta pH asam yang sering kali dibuang langsung ke lingkungan tanpa pengolahan. Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan teknologi pengolahan limbah cair industri tahu melalui membran ultrafiltrasi dan adsorben alami berbasis kulit manggis. Urgensi penelitian terletak pada kebutuhan solusi inovatif yang tidak hanya mampu menurunkan kadar BOD, COD, dan menstabilkan pH limbah, tetapi juga memanfaatkan limbah kulit manggis sebagai material bernilai tambah. Kebaruan penelitian terletak pada penggunaan metode adsorpsi kulit manggis yang diaktivasi secara kimia, dipadukan dengan membran ultrafiltrasi untuk meningkatkan efisiensi penghilangan polutan organik. Variabel penelitian meliputi variasi massa adsorben kulit manggis saat adsorpsi (140, 120, 100, 80, 60 gram) dan laju alir membran ultrafiltrasi (3, 5, 7 LPM). Estimasi hasil penelitian menunjukkan peningkatan massa adsorben kulit manggis menurunkan kadar TDS dan EC serta meningkatkan pH limbah. Penurunan laju alir membran ultrafiltrasi meningkatkan waktu kontak untuk efisiensi reduksi sehingga limbah cair tahu diperkirakan dapat memenuhi baku mutu. Penelitian ini diharapkan dapat membantu pengolahan limbah cair tahu serta mendukung terlaksananya tujuan pembangunan global pada SDGs ke-6 tentang penyediaan air bersih dan sanitasi yang baik.</p> <p>Kata Kunci: Membran Ultrafiltrasi; Limbah cair tahu; Adsorben kulit manggis; Laju alir; Massa adsorben</p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>The tofu industry in Indonesia has grown rapidly and plays a vital role in food security. However, the production process generates wastewater with high TDS and EC levels and acidic pH, often discharged directly into environment without treatment. This study aims to develop wastewater treatment technology for tofu industry using ultrafiltration membranes and natural adsorbents from mangosteen peel. The urgency of this research lies in the need for innovative solutions capable of reducing TDS and EC levels and stabilizing pH, while also utilizing mangosteen peel waste as a natural adsorbent. The novelty of this research lies in combining an adsorption method using chemically activated mangosteen peel with ultrafiltration membranes, expected to enhance organic pollutant removal efficiency. The research variables include variations in the mass of mangosteen peel adsorbent (140, 120, 100, 80, 60 grams) and flow rate of the ultrafiltration membrane (3, 5, 7 LPM). The estimated results show that increasing the mass of mangosteen peel adsorbent reduces TDS and EC and increases wastewater pH. A decrease in ultrafiltration membrane flow rate increases contact time for reduction efficiency so tofu wastewater is expected to meet quality standards. This research is expected to support SDG 6 on clean water and sanitation.</p> <p><em>Keywords: Ultrafiltration ; Tofu Wastewater; Mangosteen Peel Adsorbent; Flow Rate; Adsorbent Mass</em></p>2026-01-30T15:23:47+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3204ANALISIS RISIKO DOMINAN PROYEK KPBU PRESERVASI JALAN NASIONAL LINTAS TIMUR SUMATERA SELATAN DENGAN METODE PROBABILITY IMPACT MATRIX 2026-01-30T15:38:07+07:00Balqis Fataya Saidbalqis.said20@gmail.comMuhammar Rizka Fadli Wibowofadliwibowo028@gmail.comLindawatilindaunbara@gmail.com<p><span lang="IN">Upaya untuk mencapai kemantapan jalan nasional sebesar 100%, Pemerintah Indonesia melakukan preservasi salah satu infrastruktur jalan, yaitu Jalan nasional lintas timur di Provinsi Sumatera Selatan (Jalintim Sumsel). Kegiatan preservasi dilakukan berdasarkan data kondisi eksisting yang menunjukkan bahwa Jalintim Sumsel perlu dilakukannya preservasi jalan. Adanya gap antara ketersediaan dana pemerintah (APBN) dan kebutuhan infrastruktur yang tercantum pada RPJMN membuat pembiayaan preservasi Jalintim Sumsel dapat dilakukan dengan menggunakan alternatif pembiayaan lain, yaitu skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) dengan pembayaran ketersediaan layanan. Skema KPBU membutuhkan manajemen risiko agar risiko-risiko yang sulit untuk dipenuhi dapat diperkirakan cara memitigasinya yang tentunya perlu dianalisis terlebih dahulu mengenai risiko dominan yang terjadi baik pada pihak Penanggung Jawab Proyek Kerjasama (PJPK) dan pihak Badan Usaha Pelaksana (BUP). Tujuan penelitian untuk mengetahui setiap risiko dominan yang dihadapi oleh masing-masing pihak dengan melalui identifikasi risiko, perhitungan risiko, informasi mengenai risiko yang terjadi pada setiap tahapan KPBU, serta penentuan risiko dominan. Identifikasi risiko proyek dilakukan melalui studi literatur yang kemudian keabsahan risiko akan dikonfirmasi melalui masing-masing pihak (PJPK dan BUP) melalui wawancara. Perhitungan tingkat risiko dilakukan dengan metode <em>Probability Impact Matrix</em>. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 7 risiko dominan menurut persepsi PJPK dan 4 risiko dominan menurut persepsi BUP.</span></p>2026-01-30T15:37:30+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3177PEMERIKSAAN KUAT TEKAN FOAM CONCRETE MENGGUNAKAN RASIO SEMEN DAN AGREGAT2026-01-30T15:42:20+07:00Fatimah Nadiafatimahnadia202@gmail.com<p class="AvoerAbstrak"><span lang="SV">ABSTRAK: <em>Foam concrete</em> dikembangkan sebagai material beton ringan dengan kekuatan memadai untuk konstruksi modern. Tantangan utama material ini adalah mencapai keseimbangan antara berat jenis rendah dan kuat tekan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi rasio semen dan agregat serta penggunaan <em>Expanded Polystyrene</em> (EPS) sebagai pengganti sebagian agregat halus terhadap sifat fisik dan mekanik <em>foam concrete</em>. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan variasi rasio semen dan agregat 1:2,75; 1:3; dan 1:3,25, serta penambahan EPS sebesar 20% volume agregat halus. Pengujian meliputi <em>slump flow</em>, <em>setting time</em>, berat jenis, dan kuat tekan pada umur 28 hari dengan <em>curing</em> karung basah. Terjadi peningkatan hasil kuat tekan dan berat jenis dengan perbedaan rasio semen dan agregat. Berat jenis benda uji FC 1, FC 2 dan FC 3 adalah 1222 kg/m<sup>3</sup>, 1222 kg/m<sup>3</sup> dan 1437 kg/m<sup>3</sup> dengan hasil kuat tekan masing-masing 1,99 MPa, 1,17 MPa dan 3,20 MPa. Berat jenis benda uji FC-EPS 1, FC-EPS 2 dan FC-EPS 3 adalah 1038 kg/m<sup>3</sup>, 1083 kg/m<sup>3</sup> dan 1106 kg/m<sup>3</sup> dengan hasil kuat tekan masing-masing 1,16 MPa, 1,49 MPa dan 1,62 MPa. Berdasarkan hasil kajian bahwa rasio semen dan agregat memiliki peran penting dalam menentukan performa <em>foam concrete</em> dan dapat dioptimalkan untuk kebutuhan struktural ringan.</span></p>2026-01-30T15:41:42+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3160PENGARUH VARIASI KECEPATAN PENGADUKAN DAN RASIO MINYAK DENGAN LARUTAN NATRIUM HIDROKSIDA TERHADAP VOLUME DAN SIFAT FISIKOKIMIA PRODUK PEMBERSIH LANTAI 2026-01-30T15:59:26+07:00Audya Tuzzarah Ramadhiniaudyatz.ramadhini@gmail.com<p><strong>ABSTRAK: </strong>Peningkatan konsumsi minyak goreng di Indonesia menyebabkan bertambahnya limbah minyak jelantah atau <em>Used Cooking Oil </em>(UCO) yang berpotensi mencemari lingkungan, sehingga diperlukan inovasi pemanfaatannya menjadi produk bernilai guna seperti pembersih lantai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi kecepatan pengadukan dan rasio minyak jelantah dengan larutan natrium hidroksida (NaOH) terhadap volume dan karakteristik fisikokimia produk pembersih lantai dengan pewarna alami bunga telang (<em>Clitoria ternatea L.</em>). Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan metode kuantitatif dengan variasi rasio minyak dan larutan alkali 80:120; 90:110; 100:100; 110:90; dan 120:80 pada kecepatan pengadukan 300 rpm dan 400 rpm. Parameter yang dianalisis meliputi pH, <em>specific gravity</em>, dan volume produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kecepatan pengadukan dan rasio larutan alkali yang lebih tinggi meningkatkan <em>specific gravity </em>serta volume produk. Sedangkan, kecepatan pengadukan yang lebih rendah dan rasio larutan alkali yang lebih banyak menghasilkan pH yang lebih tinggi. Volume produk pembersih lantai tertinggi diperoleh pada rasio 80:120 dengan kecepatan pengadukan 400 rpm sebanyak 3010,286 mL dengan <em>specific gravity </em>tertinggi sebesar 1,00470, sedangkan pH tertinggi sebesar 8,9 diperoleh pada rasio 80:120 dengan kecepatan pengadukan 300 rpm. Produk yang dihasilkan telah memenuhi SNI 1842:2019 dengan rentang <em>specific gravity</em> 1,00088–1,00470 dan pH 6,6–8,9.</p>2026-01-30T15:58:50+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3064PENGARUH CAMPURAN VARIASI PERSENTASE FLY ASH SEBAGAI SUBSTITUSI SEMEN TERHADAP SIFAT MEKANIK, PERMEABILITAS, DAN POROSITAS PADA BETON POROUS (PERVIOUS CONCRETE)2026-01-30T16:08:33+07:00Berliana Ramadaniberlinramadani26@gmail.comBimo Brata Adhityaberlinramadani26@gmail.comFitria Putri Lintang Sariberlinramadani26@gmail.com<p>Indonesia, khususnya Kota Palembang, rentan terhadap banjir akibat kondisi geografis dan curah hujan tinggi. Oleh karena itu, penggunaan beton berpori dapat menjadi solusi sebagai beton yang dapat mengendalikan limpasan air. Penelitian ini mengkaji pengembangan beton berpori yang berkelanjutan dengan pemanfaatan <em>fly ash</em> sebagai pengganti Sebagian semen. Bahan penyusun beton berpori terdiri dari semen, agregat, air, dan <em>admixture </em>seperti Sikament LN yang dapat mengurangi air dan meningkatkan kekuatan tekan. Metode eksperimental pada penelitian ini untuk menganalisis pengaruh variasi <em>fly ash</em> terhadap sifat mekanik (kuat tekan, kuat tarik), permeabilitas, dan porositas beton berpori. Secara keseluruhan, berbagai percobaan disiapkan dengan mengganti sebagian semen menggunakan <em>fly ash</em> hingga 30% dalam tingkat 15%. Ukuran agregat yang digunakan yaitu 12,5 mmsebagai tambahan untuk mengidentifikasi signifikansinya. Temuan eksperimental mengungkapkan bahwa sifat mekanik beton berpori meningkat dengan 25% <em>fly ash</em> sebesar 10,43 MPa untuk umur 28 hari. Setelah 28 hari perawatan, penambahan proporsi <em>fly ash</em> yang lebih tinggi (30%) mengakibatkan penurunan kekuatan tekan. Pengamatan penting lainnya adalah penurunan porositas dan permeabilitas akibat peningkatan kadar persentase <em>fly ash</em>.</p>2026-01-30T16:07:53+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3006PERANCANGAN DESAIN LAHAN BASAH BUATAN TIPE FREE WATER SURFACE UNTUK PENGOLAHAN AIR SUNGAI PENJEMURAN2026-01-30T16:14:51+07:00Puteri Kusuma Wardhaniputerikusumawardhani@unsri.ac.idFebrian Hadinatafebrian.hadinata@yahoo.co.idNyimas Septi Rika Putrinyimasseptirika@ft.unsri.ac.idRizki Hafizhancapadamat@gmail.com<p class="s15"><span class="s13">ABSTRAK</span><span class="s13">:</span> <span class="s9">Sungai Penjemuran di Kota Palembang mengalami pencemaran akibat </span><span class="s9">limpasan air lindi</span><span class="s9"> dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) </span><span class="s9">Sukawinatan</span><span class="s9"> yang </span><span class="s9">dekat</span><span class="s9"> dengan aliran sungai.</span><span class="s9"> Kondisi ini menyebabkan penurunan kualitas air secara signifikan, ditandai dengan nilai kadar BOD, COD, dan amonia yang berada di atas baku mutu air kelas II untuk peruntukan budidaya perairan.</span><span class="s9"> Penelitian ini bertujuan untuk </span><span class="s9">merancang dan menguji sistem lahan basah buatan (</span><span class="s14">constructed</span> <span class="s14">wetland</span><span class="s9">) tipe </span><span class="s14">Free</span><span class="s14"> Water </span><span class="s14">Surface</span><span class="s9"> (FWS) sebagai alternatif teknologi pengolahan air sungai tercemar, yang dikembangkan dari skala laboratorium yang kemudian diadaptasi untuk skala lapangan. </span><span class="s9">Penelitian ini mengkaji pengaruh </span><span class="s9">variasi waktu tinggal</span><span class="s9"> hidrolik</span><span class="s9"> (12, 24, 48, dan 72 jam)</span><span class="s9"> terhadap efisiensi</span><span class="s9"> penyisihan BOD, COD, TSS, amonia, dan </span><span class="s9">pH</span><span class="s9">. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu tinggal 72 jam memberikan hasil terbaik </span><span class="s9">dengan efisiensi penyisihan sebesar 86% untuk BOD, 66,5% untuk COD</span><span class="s9">,</span><span class="s9"> 88% untuk TSS dan 47% untuk amonia.</span> <span class="s9">Peningkatan BOD dan COD </span><span class="s9">pada waktu tinggal 48 jam </span><span class="s9">disebabkan oleh proses</span><span class="s9"> dekomposisi</span><span class="s9"> bahan organik</span><span class="s9"> sebelum sistem mencapai kondisi stabil</span><span class="s9">. </span><span class="s9">S</span><span class="s9">istem FWS skala lapangan</span><span class="s9"> juga</span><span class="s9"> dirancang </span><span class="s9">dengan unit</span><span class="s9"> filtrasi, sedimentasi, dan aerasi, dengan estimasi biaya pembangunan sebesar Rp. 29.000.000.</span> <span class="s9">Hasi</span><span class="s9">; p</span><span class="s9">enelitian ini </span><span class="s9">mendukung penerapan lahan basah buatan tipe FWS sebagai solusi berkelanjutan untuk pengolahan air sungai tercemar</span><span class="s9">.</span></p> <p class="s15"><span class="s16">A</span><span class="s16">BSTRACT</span><span class="s16">: </span><span class="s11">The Penjemuran </span><span class="s11">River</span><span class="s11"> in Palembang has </span><span class="s11">been</span> <span class="s11">polluted</span> <span class="s11">by</span> <span class="s11">leachate</span> <span class="s11">runoff</span> <span class="s11">from</span> <span class="s11">Sukawinatan</span> <span class="s11">Landfill</span><span class="s11">, </span><span class="s11">which</span><span class="s11">flow</span><span class="s11">s</span> <span class="s11">directly</span> <span class="s11">into</span> <span class="s11">the</span> <span class="s11">river</span> <span class="s11">channel</span><span class="s11">.</span> <span class="s11">This</span> <span class="s11">condition</span><span class="s11"> has </span><span class="s11">caused</span><span class="s11"> a </span><span class="s11">significant</span> <span class="s11">decline</span><span class="s11"> in </span><span class="s11">water</span> <span class="s11">quality</span><span class="s11">, </span><span class="s11">with</span><span class="s11"> BOD, COD, </span><span class="s11">and</span><span class="s11">ammonia</span> <span class="s11">exceeding</span> <span class="s11">the</span> <span class="s11">Class</span><span class="s11"> II </span><span class="s11">water</span> <span class="s11">quality</span> <span class="s11">standards</span> <span class="s11">for</span> <span class="s11">aquaculture</span><span class="s11">. </span><span class="s11">This</span><span class="s11"> study </span><span class="s11">aims</span> <span class="s11">to</span> <span class="s11">design</span> <span class="s11">and</span> <span class="s11">evaluate</span><span class="s11"> a </span><span class="s11">Free</span><span class="s11">Water </span><span class="s11">Surface</span><span class="s11"> (FWS) </span><span class="s11">constructed</span> <span class="s11">wetland</span> <span class="s11">system</span><span class="s11"> as </span><span class="s11">an</span> <span class="s11">alternative</span> <span class="s11">treatment</span> <span class="s11">technology</span> <span class="s11">for</span> <span class="s11">contaminated</span> <span class="s11">river</span> <span class="s11">water</span><span class="s11">, </span><span class="s11">developed</span> <span class="s11">from</span><span class="s11"> a </span><span class="s11">laboratory-scale</span> <span class="s11">experiment</span> <span class="s11">and</span> <span class="s11">later</span> <span class="s11">adapted</span> <span class="s11">for</span> <span class="s11">field-scale</span> <span class="s11">application</span><span class="s11">. </span><span class="s11">The study </span><span class="s11">investigated</span> <span class="s11">the</span><span class="s11">effect</span> <span class="s11">of</span> <span class="s11">varying</span> <span class="s11">hydraulic</span> <span class="s11">retention</span> <span class="s11">time</span><span class="s11"> (12, 24, 48, </span><span class="s11">and</span><span class="s11"> 72 </span><span class="s11">hours</span><span class="s11">) </span><span class="s11">on</span> <span class="s11">the</span> <span class="s11">removal</span> <span class="s11">efficiency</span> <span class="s11">of</span><span class="s11"> BOD, COD, TSS, </span><span class="s11">ammonia</span><span class="s11">, </span><span class="s11">and</span> <span class="s11">pH</span><span class="s11">. The </span><span class="s11">results</span> <span class="s11">showed</span> <span class="s11">that</span><span class="s11"> a 72-hour </span><span class="s11">retention</span> <span class="s11">time</span> <span class="s11">achieved</span> <span class="s11">the</span> <span class="s11">highest</span> <span class="s11">overall</span> <span class="s11">performance</span><span class="s11">, </span><span class="s11">with</span> <span class="s11">removal</span><span class="s11">efficiency</span> <span class="s11">of</span><span class="s11"> 86% </span><span class="s11">for</span><span class="s11"> BOD, 66.5% </span><span class="s11">for</span><span class="s11"> COD, 88% </span><span class="s11">for</span><span class="s11"> TSS, </span><span class="s11">and</span><span class="s11"> 47% </span><span class="s11">for</span> <span class="s11">ammonia</span><span class="s11">. An </span><span class="s11">increase</span> <span class="s11">in </span><span class="s11">BOD </span><span class="s11">and</span><span class="s11"> COD</span> <span class="s11">was</span><span class="s11">observed</span> <span class="s11">after</span><span class="s11"> 48 </span><span class="s11">hours</span><span class="s11">, </span><span class="s11">which</span> <span class="s11">was</span> <span class="s11">attribut</span><span class="s11">ed</span> <span class="s11">to</span> <span class="s11">the</span> <span class="s11">decomposition</span> <span class="s11">of</span> <span class="s11">organic</span> <span class="s11">matter</span> <span class="s11">before</span> <span class="s11">system</span> <span class="s11">stabilization</span><span class="s11">. A </span><span class="s11">field-scale</span> <span class="s11">FWS </span><span class="s11">system</span> <span class="s11">was</span> <span class="s11">also</span> <span class="s11">designed</span><span class="s11">, </span><span class="s11">incorporating</span> <span class="s11">filtration</span><span class="s11">, </span><span class="s11">sedimentation</span><span class="s11">, </span><span class="s11">and</span> <span class="s11">aeration</span> <span class="s11">units</span><span class="s11">, </span><span class="s11">with</span> <span class="s11">an</span> <span class="s11">estimated</span><span class="s11">construction</span> <span class="s11">cost</span> <span class="s11">of</span><span class="s11"> IDR 29,000,000. </span><span class="s11">The </span><span class="s11">results</span> <span class="s11">support</span> <span class="s11">the</span> <span class="s11">use</span> <span class="s11">of</span><span class="s11"> FWS </span><span class="s11">constructed</span> <span class="s11">wetland</span><span class="s11"> as a </span><span class="s11">sustainable</span> <span class="s11">solution</span> <span class="s11">for</span><span class="s11">river</span> <span class="s11">water</span> <span class="s11">treatment</span><span class="s11">.</span></p>2026-01-30T16:14:05+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3060Processing and Separation The Effect of Air Flow Rate on the Separation Efficiency of Cassiterite Tin Ore (SnO2) Using an Air Table2026-01-30T16:22:33+07:00Taufik Arieftaufikarief@unsri.ac.id<p><strong>ABSTRAK:</strong> Penelitian ini mengkaji pengaruh variabel operasi terhadap kadar dan perolehan konsentrat mineral kasiterit (SnO₂) dari sampel bijih timah asal penambangan laut (offshore) menggunakan alat <em>air table</em> hasil rancangan skala laboratorium. Pemisahan dilakukan dengan media udara yang dihembuskan blower melalui lubang berpori pada permukaan meja (<em>deck</em>) untuk memisahkan kasiterit dari mineral pengotor berdasarkan perbedaan densitas. Variabel yang diuji meliputi kemiringan meja (<em>slope of deck</em>), laju alir udara, dan ukuran butir sampel, sedangkan waktu pengolahan dan berat umpan dijaga tetap. Alat digerakkan oleh motor dengan panjang pukulan 120 PP/menit, diameter lubang 8 mm sebanyak 200 lubang berpola <em>staggered</em>, dan laju alir udara maksimum 22 m³/detik pada 80% bukaan. Eksperimen dilakukan sebanyak 27 kali dengan kombinasi tiga variabel. Hasil menunjukkan perolehan tertinggi 63,55% pada kemiringan 5,60° dan laju udara 60,95%, serta perolehan terendah 7,6% pada kemiringan 5,20° dan laju udara 30%. Variabel kemiringan meja, laju udara, dan ukuran butir terbukti berpengaruh signifikan terhadap kadar dan perolehan kasiterit.</p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong> bijih timah offshore, kasiterit, air table<em>, </em>laju udara<em>, </em>slope of deck.</p>2026-01-30T16:21:59+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3017ANALISIS GEOMORFOLOGI BERBASIS DEMNAS DAN MORFOGENESA DAERAH PULAU BERINGIN DAN SEKITARNYA, KABUPATEN LAHAT, SUMATERA SELATAN2026-01-30T21:36:28+07:00Muhammad Aghil Ikhwanulsyah03071382025050@student.unsri.ac.idYogie Zulkurnia Rochmanayogie.zrochmana@ft.unsri.ac.id<p>Penelitian ini dilakukan di daerah Pulau Beringin dan sekitarnya, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Kenampakan suatu bentuk lahan yang beragam merupakan sebuah jejak nyata dari proses geologi yang telah berlangsung dalam kurun waktu yang panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik bentuk lahan melalui pendekatan geomorfologi guna memahami dinamika pembentukan lanskap secara menyeluruh. Metode penelitian yang digunakan yaitu observasi lapangan dan analisis data DEMNas yang difokuskan pada aspek morfometri, morfografi, dan morfogenesa. Daerah Pulau Beringin terbagi menjadi lima bentuk lahan yaitu Perbukitan Denudasional, Perbukitan Tinggi Denudasional, Dataran Banjir, <em>Channel Bar</em>, dan <em>Channel Irregular Meander</em>. Proses pembentukan bentuk lahan tersebut dipengaruhi oleh aktivitas tektonik, variasi litologi, serta faktor perusak seperti pelapukan dan erosi. Daerah penelitian didominasi oleh bentuk lahan denudasional yang menunjukkan bahwa daerah ini telah mengalami degradasi yang cukup signifikan dan ditandai dengan ditemukannya fenomena longsoran. Melalui pemahaman terhadap evolusi bentuk lahan, penelitian ini memberikan kontribusi dalam mendukung perencanaan wilayah dan strategi mitigasi bencana.</p>2026-01-30T21:32:10+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3019Karakteristik Geomorfologi Daerah Sukamakmur dan Sekitarnya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat2026-01-30T21:45:29+07:00Nadya Annisa AzzaraNadyazaraa@gmail.comYogie Zulkurnia Rochmanayogie.zrochmana@ft.unsri.ac.idYogie Zulkurnia Rochmanayogie.zrochmana@ft.unsri.ac.id<p>Daerah Sukamakmur dan Sekitarnya yang berada di daerah Kabupaten Bogor memiliki bentuk lahan serta bentang alam beragam karena adanya proses geologi yang terjadi. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis dan mengamati karakteristik geomorfologi serta satuan geomorfik daerah penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi lapangan meliputi pengamatan bentang alam dan bentuk lahan lokasi penelitian, serta analisis Model Elevation Digital Nasional (DEMNas). Satuan geomorfik daerah Sukamakmur tersusun dari Perbukitan Rendah Denudasional yang menempati sekitar 8% dari luasan daerah penelitian dengan kemiringan lereng landai (8%-14%) hingga agak curam (15%-20%), Perbukitan Denudasional menempati 50% dari luasan penelitian dengan kemiringan lereng agak curam (15%-20%) hingga curam (21%-55%), Perbukitan Tinggi Denudasional menempati 10% dari luasan daerah penenlitian dengan kemiringan lereng curam (21%-55%), Perbukitan karst menempati 20% daerah penelitian dengan kemiringan agak curam (15%-20%) hingga curam (21%-55%), dan Perbukitan Zona Sesar menempati 12% luasan daerah penelitian. Penelitian ini memberikan klasifikasi yang detail dari satuan bentuk lahan, termasuk perbukitan denudasional, struktural, dan karst, yang berimplikasi pada penilaian bahaya dan perencanaan tata guna lahan berkelanjutan.</p>2026-01-30T21:41:00+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3156KAJIAN KARAKTERISASI KANDUNGAN MAGNETIT (Fe) PADA NIKEL RED LIMONIT PT ANEKA TAMBANG TBK UBPN MALUKU UTARA SEBAGAI MEDIA DENSE MEDIUM SEPARATOR2026-01-30T22:09:03+07:00Marshanda Nabilla FarezaFarezabilla@gmail.com<p><strong>ABSTRAK: </strong>PT Aneka Tambang Tbk. Unit Bisnis Pertambangan Nikel site harmoni pakal, Maluku Utara merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang ekplorasi, penambangan, pengolahan. Untuk saat ini PT Aneka Tambang baru menjual produk saprolite atau nikel berkadar Ni tinggi dengan kandungan Fe yang rendah, sementara untuk nikel berkadar Fe tinggi seperti red limonit dipasarkan dengan menjual mineral berdasarkan kandungan kobaltnya dan belum dimanfaatkan secara optimal dan masih dianggap sebagai tailing dari hasil penambangan. Berdasarkan Permen ESDM No.1 tahun 2014 tentang peningkatan nilai tambah mineral melalui pengolahan dan pemurnian mineral dalam negeri dan Permen ESDM No. 5 tahun 2017 tentang peningkatan nilai tambah mineral melalui pengolahan dan pemurnian (nikel dengan kadar Permendag No. 01/M- DAG/PER/1/2017 tentang ketentuan ekspor produk pertambangan hasil pengolahan dan pemurnian (Nikel dengan kadar <1,7%)). Dengan dilakukannya eksperimentasi diharapkan dapat memanfaatkan mineral nikel limonit secara optimal dan menambah nilai jual dari mineral limonit itu sendiri. Pada eksperimentasi ini diawali dengan tahapan preparasi sampel, seperti pengeringan sampel, penggerusan sampel, pengayakkan,analisa XRF, analisa mikrostruktur, hingga analisa pemisahan menggunakan magnetik separator dengan data perbandingan menggunakan British Coal Mining Industry (BCMIS). Perolehan optimal grinding menggunakan kecepatan 40 Rpm dengan waktu 120 menit. Pengoptimalan grinding dilakukan dengan 2x penggilingan untuk mencapai ukuran fraksi 200#. Perolehan pemisahan magnetik separator secara optimal dengan jarak umpan 10 cm menggunakan kecepatan 12 rpm yang memperoleh hasil sebesar 59,50%. Dalam penelitian ini belum memenuhi kriteria standar BCMIS dikarenakan keterbatasan alat yang tersedia dan yang digunakan selama penelitian. Untuk dapat memenuhi kriteria standar BCMIS diharapkan penelitian berikutnya menggunakan alat yang lebih memadai seperti pada saat pemisahan menggunakan magnetik separator, diharapkan menggunakan magnetik separator dengan intensitas magnet tinggi, sehingga pemisahan dapat dilakukan secara optimal. Serta pemilihan alat penggerus yang lebih sesuai agar waktu saat penggilingan lebih efisien.</p> <p> </p> <p>Kata Kunci: Limonit, Karakteristik Nikel, <em>Grinding,</em> <em>Magnetic Separator</em>, <em>Red Limonit</em>.</p> <p> </p> <p><strong><em>ABSTRACT: </em></strong><em>PT Aneka Tambang Tbk. Nickel Mining Business Unit harmoni pakal site, North Maluku is a State-Owned Enterprise (SOE) engaged in exploration, mining, processing. Currently, PT Aneka Tambang only sells saprolite or high Ni content nickel products with low Fe content, while high Fe content nickel such as red limonite is marketed by selling minerals based on their cobalt content and has not been optimally utilized and is still considered as tailings from mining results. Based on Permen of ESDM No.1 of 2014 concerning increasing the added value of minerals through domestic mineral processing and refining and Permen of ESDM No. 5 of 2017 concerning increasing the added value of minerals through processing and refining (nickel with levels Permendag No. 01/M- DAG/PER/1/2017 concerning export provisions for mining products from processing and refining (Nickel with levels <1.7%)). Through experimentation, it is hoped that limonite nickel minerals can be utilized optimally and increase the selling value of limonite minerals themselves. This experimentation began with sample preparation stages, such as sample drying, sample grinding, sieving, XRF analysis, microstructure analysis, and separation analysis using a magnetic separator with comparative data from the British Coal Mining Industry (BCMIS).The optimal grinding speed was 40 Rpm with a time of 120 minutes. Grinding optimization is carried out with 2x grinding to achieve a fraction size of 200#. Optimal magnetic separator separation with a feed distance of 10 cm using a speed of 12 rpm which obtained a result of 59.50%. This study did not meet the BCMIS standard criteria due to the limitations of the tools available and used during the study. To meet the BCMIS standard criteria, it is hoped that future studies will use more adequate tools, such as high-intensity magnetic separators for separation, so that separation can be carried out optimally. As well as selecting more suitable grinding tools to make the grinding process more efficient.</em></p> <p><em> </em></p> <p><em>Keywords: Limonite, Characteristic Nickel, Grinding, Magnetic Separator, Red Limonit</em></p>Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3155ANALISIS KARAKTERISTIK ALTERASI PADA BATUAN ANDESIT ANGGOTA INSU FORMASI GARBA, DAERAH LUBAR, OGAN KOMERING ULU SELATAN, SUMATERA SELATAN 2026-01-30T22:18:35+07:00Muhammad Aldriansyah Abellinomaldriansyahabellino@gmail.comRobby Nugraharobbynugraha534@gmail.comAfrizya Ade Alya Sandyafrizya0611@gmail.comAdinda Ayu Souqiyahadindaayusouqiyah@gmail.comNurlita AndiniNurlita.andini12@gmail.comAthaya Nailahathayanailah2005@gmail.comAnanda Putri Maharanianandaaputri2005@gmail.comBenedikto Ansel Praditamaanselbenedikto@gmail.comKhoirunnisa Alfawaini Siregar khoirunnisaalfawaini@gmail.comKhafiza Novrianikhafiza.nov@gmail.comIdarwatiidarwati@ft.unsri.ac.idM Alfath Salvano Salnimuhammadalfathsalvanosalni@ft.unsri.ac.id<p>Kompleks Garba merupakan bagian dari <em>basement </em>di Cekungan Sumatera Selatan yang tersusun atas batuan pra-Tersier hasil koalisi antara <em>Woyla Arc</em> dan <em>West Sumatera Block</em> yang menutup Samudra <em>Meso-Tethys</em> pada kala Mesozoikum. Aktivitas tektonik ini memicu munculnya intrusi granit Formasi Garba yang menghasilkan fluida hidrotermal dan menyebabkan terjadinya alterasi pada batuan beku di sekitarnya. Penelitian ini difokuskan pada satuan andesit Anggota Insu Formasi Garba yang tersingkap di daerah Lubar, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik mineral alterasi dan menentukan tipe alterasi yang berkembang pada batuan andesit tersebut. Metode yang digunakan meliputi observasi lapangan dan analisis petrografi terhadap sayatan tipis batuan berdasarkan variasi warna dan tekstur fisik. Hasil analisis petrografi menunjukkan adanya perubahan mineral primer menjadi mineral sekunder berupa klorit, kalsit, epidot, dan serisit yang terbentuk pada suhu relatif rendah. Berdasarkan kehadiran mineral-mineral tersebut, zona alterasi yang berkembang termasuk dalam fasies propilitik dengan intensitas alterasi rendah hingga sedang. Hasil ini menunjukkan bahwa batuan andesit Formasi Garba telah mengalami pengaruh fluida hidrotermal dari intrusi granit di sekitarnya yang menyebabkan terbentuknya alterasi tipe propilitik.</p>2026-01-30T22:17:03+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3157Analisis Performa Reaktor Konversi Amonia Ditinjau Dari Rasio H₂:N₂ Terhadap Persen Mol Nh₃ Outlet Melalui Simulasi Aspen Hysys V142026-01-30T22:51:28+07:00M Haikal Oktariadi Putrahaikaloktariadi@gmail.comRahmat Shirlyrahmatsly1007@gmail.comBazlina Dawami Afrahbazlina.afrah@ft.unsri.ac.id<p>Kinerja reaktor konversi merupakan faktor kritis dalam menentukan efisiensi produksi amonia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis performa reaktor konversi amonia dengan mengevaluasi pengaruh rasio H₂:N₂ terhadap persen mol NH₃ pada outlet serta konversi reaktan H₂ dan N₂. Analisis dilakukan dengan membandingkan data desain dengan data aktual selama 12 minggu menggunakan simulasi Aspen Hysys V14. Hasil simulasi menunjukkan bahwa konversi aktual N₂ dan H₂ serta persen mol NH<sub>3</sub> secara keseluruhan lebih rendah dibandingkan data desain. Konversi N₂ aktual berkisar antara 23,28% – 32,06% (rata-rata 27,65%), sedangkan desain sebesar 31,27%. Konversi H₂ aktual berada pada kisaran 26,85% – 29,73% (rata-rata 28,31%), lebih rendah dari desain 31,12%. Persen mol NH<sub>3</sub> aktual berkisar antara 15,41% – 17,16% (rata-rata 16,08%), sedangkan desain sebesar 17,78%. Rasio H₂:N₂ aktual juga bervariasi berkisar diantara 2,38 – 3,58 dan sering menyimpang dari rasio stoikiometri ideal 3:1, yang mempengaruhi efisiensi konversi. Pencapaian konversi dan produksi NH₃ yang maksimal memerlukan pengendalian ketat terhadap rasio H₂:N₂ yang ideal, yaitu sekitar 3:1.</p>2026-01-30T22:39:45+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3143TRANSFORMASI DAN PERAN HISTORIS TAMAN KAMBANG IWAK DALAM PERKEMBANGAN KOTA PALEMBANG2026-01-30T22:54:18+07:00Sri Lilianti Komariahsrililianti@gmail.com<p>Taman Kambang Iwak merupakan salah satu ruang publik tertua dan paling ikonik di Kota Palembang, yang mencerminkan perjalanan sejarah kota dari masa kolonial hingga era modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan, perubahan fungsi, serta strategi keberlanjutan Taman Kambang Iwak. Pendekatan penelitian dilakukan secara kualitatif melalui metode observasi lapangan, studi literatur, dan analisis dokumentasi sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Taman Kambang Iwak telah mengalami transformasi signifikan dalam aspek sosial, ekologis, dan spasial. Pada masa kolonial, taman ini berfungsi sebagai ruang rekreasi eksklusif bagi warga Belanda, dengan kolam ikan buatan sebagai elemen estetika utama. Setelah kemerdekaan, taman berubah menjadi ruang publik inklusif yang terbuka bagi masyarakat luas, dengan berbagai tambahan fasilitas rekreasi keluarga, fungsi sosial dan kulturalnya sebagai pusat kegiatan komunitas, serta beradaptasi dengan kemajuan teknologi melalui digitalisasi fasilitas, dan penguatan peran ekonomi kreatif. Studi ini menyimpulkan bahwa keberlangsungan Taman Kambang Iwak ditopang oleh enam aspek utama: nilai historis, fungsi sosial, ekologi perkotaan, infrastruktur adaptif, partisipasi masyarakat, dan inovasi digital. Strategi keberlanjutan ruang publik seperti pelestarian warisan budaya, integrasi fungsi ekologis, dan partisipasi komunitas perlu terus dikembangkan untuk menjaga keseimbangan antara nilai historis dan kebutuhan masyarakat modern. Temuan ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi perencanaan dan pengelolaan ruang publik.</p>2026-01-30T22:53:07+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3159STUDI EKSPERIMENTAL PENDINGINAN PANEL SURYA TIPE POLIKRISTALIN 8 WP MENGGUNAKAN PELAT BERLUBANG2026-01-30T23:36:27+07:00Permata Subingpermatasubing0@gmail.com<p>Menghadapi tantangan energi global dan perubahan iklim, pengembangan energi surya menjadi krusial, terutama di Indonesia yang beriklim tropis. Namun, radiasi matahari tinggi meningkatkan temperatur operasional panel surya PV, yang dapat menurunkan efisiensi hingga 0,5% per kenaikan 1C di atas temperatur standar. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas sistem pendinginan pasif menggunakan pelat aluminium berlubang untuk menurunkan temperatur serta meningkatkan dua panel polikristalin 8 WP, satu sebagai kontrol tanpa pendingin dan satu dipasangi pelat aluminium berlubang berdimensi 380mm 180mm 17mm dengan tebal 1,5 mm. Dua variasi desain pelat diuji, pola lubang inline yang memiliki 2.499 lubang dan pola staggered dengan 2.635 lubang. Pengujian dilakukan di Palembang dengan kemiringan panel 15 menghadap utara. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan pelat berlubang efektif meningkatkan performa panel. Pola staggered memberikan penurunan temperatur rata-rata tertinggi sebesar 1,87C, menurunkan suhu dari 51,58C menjadi 49,71C, dan menghasilkan peningkatan efisiensi rata-rata tertinggi 0,31%. Pola inline mencapai penurunan temperatur rata-rata 1,51C, menurunkan suhu dari 46,85C menjadi 45,34C, dengan peningkatan efisiensi rata-rata 0,27%. Analisis kesetimbangan energi memvalidasi kemampuan pelat membuang kerugian energi kalor secara efektif. Disimpulkan, pendingin pasif pelat berlubang efektif untuk menjaga temperatur operasional panel surya untuk meningkatkan daya keluaran dan efisiensi.</p>2026-01-30T23:33:01+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3164ANALISIS FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN DARI PENGGUNAAN PROJECT MANAGEMENT INFORMATION SYSTEM (PMIS) UNTUK PENGENDALIAN DAN PELAKSANAAN PROYEK 2026-01-30T23:44:49+07:00Ibnu Alyzhafiraly@gmail.comHeni Fitrianiheni.fitriani@unsri.ac.idIka Juliantinaikajuliantina@ft.unsri.ac.id<p><strong>ABSTRAK: </strong>Penggunaan <em>Project Management Information System</em> (PMIS) dalam proyek konstruksi dapat membantu dalam meningkatkan efektivitas dalam pengendalian dan pelaksanaan proyek. Peningkatan tersebut meliputi penyelarasan informasi, penghematan waktu, serta pengambilan keputusan yang tepat. Akan tetapi, tingkat keberhasilan dalam menerapkan PMIS dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan penggunaan PMIS serta menyusun strategi penerapannya dalam Proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan mengirimkan kuesioner kepada 15 orang responden dari PT Hutama Karya (Persero) yang terlibat dalam penerapan PMIS pada proyek JTTS. Data dianalisis secara kuantitatif deskriptif dengan metode uji validitas, reliabilitas, dan analisis kecenderungan data untuk menentukan faktor yang paling dominan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti keamanan dan otentikasi, kemudahan penggunaan, efisiensi sistem, reliabilitas, integrasi sistem, serta daya guna dari PMIS menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan penerapan PMIS, dengan faktor keamanan dan otentikasi memperoleh nilai rata-rata tertinggi yaitu 4,93 atau sebesar 98.67% dari total responden. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa keberhasilan penggunaan PMIS bergantung pada kesiapan teknologi dan kemampuan pengguna untuk menghasilkan penerapan sistem informasi proyek yang efektif dan fleksibel.</p> <p>Kata Kunci: PMIS, faktor, keberhasilan, strategi, proyek</p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong><em>: The implementation of the Project Management Information System (PMIS) can help in improving the effectiveness of project control and execution. These improvements include better information alignment, time efficiency, and decision-making accuracy. However, its success largely depends on several factors. This study aims to identify the key factors affecting the success of PMIS and to formul approach by distributing questionnaires to 15 respondents from PT Hutama Karya (Persero) who were directly involved in PMIS in the JTTS project. The data were analyzed quantitatively and descriptively using validity and reliability tests, as well as data tendency analysis to identify the most dominant factors. The results show that factors such as security and authentication, ease of use, system efficiency, reliability, system integration, and usability of PMIS are the main determinants of successful implementation, with security and authentication obtaining the highest average score of 4.93 or 98.67% of total respondents. It can be concluded that the success of PMIS implementation depends on technological readiness and user capability in achieving an effective and flexible project information system.</em></p> <p>Keywords: PMIS, factors, success, strategy, project</p>2026-01-30T23:43:27+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3141IMPLEMENTASI ALGORITMA PARTICLE SWARM OPTIMIZATION (PSO) UNTUK OPTIMASI PARAMETER PENGENDALI PROPORTIONAL INTEGRAL DERIVATIVE (PID) PADA PENGENDALIAN STIR OTOMATIS 2026-01-31T00:03:34+07:00Fathi Muhammad0124.fathi@gmail.comAhmad Hatta Noveraahmadhn231104@gmail.comHari Handika Setiawanhari.setiawan@gmail.comSuci Dwijayantisucidwijayanti@ft.unsri.ac.idZainuddin Nawawizainuddinnawawi@unsri.ac.idDjulil Amridjulilamri@ft.unsri.ac.idBhakti Yudho Supraptobhakti@ft.unsri.ac.id<p><strong>ABSTRAK: </strong>Kemajuan yang terus meningkat di bidang teknologi menyebabkan perkembangan teknologi <em>autonomous vehicle</em> semakin meningkat. Salah satu komponen penting pada <em>Autonomous vehicle </em>adalah <em>control steering</em> untuk mengendalikan gerakannya. Dalam proses pengontrolan kemudi terdapat banyak gangguan dan ketidakpastian sehingga berbagai metode dalam pengontrolan kemudi telah banyak dilakukan oleh peneliti. Salah satu metode pengontrolan yang paling populer saat ini adalah dengan metode pengontrolan Proportional Integral Derivative (PID). Namun, terdapat permasalahan utama dalam kontrol PID yaitu penyesuaian parameter yang harus cepat dan akurat untuk mendapatkan kontrol yang diinginkan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dikembangkan suatu metode untuk optimisasi nilai parameter yang dikenal dengan Particle Swarm Optimization (PSO). Berdasarkan penelitian yang dilakukan, nilai kontrol PID didapat dengan metode Ziegler-Nichols dan metode algoritma PSO. Metode Ziegler-Nichols mendapat nilai Kp = 4,842, Ki = 8,327, dan Kd = 0,704. Nilai rise time 0,162 detik dan settling time yang didapat sebesar 1,2 detik. Sistem juga mencapai keadaan steady state pada waktu 2 detik. Metode PSO mendapat nilai Kp = 7,0339, Ki = 20,0074, dan Kd = 0,6734. Nilai rise time 0,0925 detik dan settling time yang didapat 0,148 detik. Sistem juga mencapai keadaan steady state pada waktu 0,7 detik. Hasil ini menunjukkan bahwa metode PSO lebih baik dibanding metode Ziegler-Nichols.</p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>Progress in the field of technology has led to the increasing development of autonomous vehicle technology. One of the important components in an autonomous vehicle is the control steering to manage its movement. During the steering control process, there are many disturbances and uncertainties, so various methods of steering control have been widely studied by researchers. One of the control methods is the Proportional Integral Derivative (PID) control. However, the main problem in PID control is the adjustment of parameters that must be fast and accurate to achieve the desired control. To address this problem, a method for optimizing parameter values was developed, known as Particle Swarm Optimization (PSO). Based on the research conducted, PID control values were compared with the Ziegler-Nichols method and the PSO algorithm method. The Ziegler-Nichols method yielded Kp = 4.842, Ki = 8.327, Kd = 0.704, 0.162 seconds for the rise time, and the settling time was 1.2 seconds. The system also reached steady state at 2 seconds. The PSO method obtained Kp = 7.0339, Ki = 20.0074, and Kd = 0.6734; the rise time value was 0.0925 seconds, and the settling time was 0.148 seconds, steady state at 0.7 seconds. These results show that the PSO method is better compared to the Ziegler-Nichols method.</p>Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3165Optimalisasi Tata Ruang Kelenteng Hok Tjing Bio: Solusi Pengaturan Jumlah Jemaat untuk Kenyamanan Beribadah.2026-01-31T00:17:52+07:00Sri Lilianti Komariahsrililianti@gmail.comListen Primalistenprima@ft.unsri.ac.id<p>Optimalisasi fungsional Kelenteng Hok Tjing Bio di Pulau Kemaro sebagai destinasi wisata religi, terutama saat perayaan Imlek, menghadapi tantangan krusial berupa lonjakan masif pengunjung (<em>overcrowding</em>) yang secara signifikan mereduksi kenyamanan dan kekhusyukan umat Tri Dharma dalam menjalankan ritual ibadah. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini difokuskan untuk merumuskan rekomendasi intervensi arsitektur manajerial yang spesifik, yaitu melalui pembatasan jumlah pengunjung, yang bertujuan ganda: menunjang efisiensi ritual dan melestarikan nilai cagar budaya. Metodologi yang diaplikasikan adalah pendekatan kualitatif studi kasus, mengombinasikan observasi lapangan non-partisipatif selama hari puncak festival dan wawancara semi-terstruktur dengan pengelola. Temuan analisis mengindikasikan bahwa kapasitas kelenteng sering melampaui batas optimal, yang memicu disrupsi dalam prosesi ibadah. Rekomendasi strategis yang dihasilkan mencakup implementasi sistem kuota pengunjung terstruktur, pembagian waktu kunjungan berdasarkan klasifikasi tujuan (wisata dan ibadah), dan optimalisasi sirkulasi melalui pengaturan jalur masuk dan keluar. Lebih lanjut, diusulkan integrasi teknologi seperti pendaftaran daring (reservasi <em>online</em>) dan sistem antrean kloter untuk memitigasi kepadatan. Penerapan strategi ini diharapkan mampu menciptakan keseimbangan spasial yang esensial, sehingga dapat meningkatkan kualitas pengalaman beribadah umat Tri Dharma tanpa mengeliminasi nilai historis dan tradisi perayaan Imlek di Kelenteng Hok Tjing Bio.</p>2026-01-31T00:17:00+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3166riaistavia Full Paper2026-01-31T00:29:57+07:00Ria Istavia Sa’biriaa.istviaa@gmail.com<p>PT Semen Padang, produsen semen pertama di Indonesia yang melakukan penambangan batu kapur melalui tahap pembersihan lahan, pemboran-peledakan, pemuatan, dan pengangkutan ke <em>Limestone Crusher</em> VI. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi kerja dan produktivitas alat mekanis utama, yaitu bor Furukawa HCR 1500-D20II, <em>excavator</em> PC850, dan <em>dump truck</em> Scania P460 serta menentukan kesesuaian kera antar alat (<em>match factor</em>). Hasil analisis menunjukkan efisiensi kerja alat bor sebesar 88,5%, alat gali-muat 91,1%, dan alat angkut 93,3%. Target plan perusahaan yaitu 30 m/jam untuk alat bor dan 500 ton/jam untuk alat muat, produktivitas aktual masih di bawah target: alat bor 22,2 m/jam (379,62 m³/jam), <em>excavator</em> PC850 masing-masing 433,02 ton/jam (<em>Front</em> B) dan 342,87 ton/jam (PLB), serta <em>dump truck</em> Scania P460 sebesar 289,78 ton/jam. Nilai <em>fill factor</em> 66,6% dan <em>swell factor</em> 60,4% menandakan kapasitas muat belum optimal, sementara <em>match factor</em> 1,2 menunjukkan ketidakseimbangan alat muat–angkut yang menyebabkan waktu tunggu pada alat angkut</p>2026-01-31T00:29:11+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3167PENGARUH WAKTU EKSTRAKSI TERHADAP YIELD DAN VISUAL MINYAK ATSIRI EUCALYPTUS PELLITA2026-01-31T00:39:22+07:00Kemas Muhammad Baguskmsm.bagus43@gmail.comMiftha Choiri Luthfiahmifthachoiri@gmail.comMuhammad Rifqi Syaghafmrsyaghaf@gmail.comAngelica Gloria Stevannyangelicags1045@gmail.comLia Cundariliacundari@ft.unsri.ac.id<p><strong>ABSTRAK: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh waktu ekstraksi terhadap yield dan karakteristik visual minyak atsiri dari daun <em>Eucalyptus pellita</em> menggunakan metode hidrodistilasi. Proses dilakukan dengan rasio bahan dan pelarut 1:8 pada suhu 350°C serta kecepatan pengadukan 900 rpm dengan variasi waktu 3, 4, 5, 12, dan 24 jam. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan waktu ekstraksi hingga 5 jam meningkatkan yield minyak atsiri secara signifikan, sedangkan pada 12 jam terjadi penurunan akibat degradasi termal dan oksidasi senyawa volatil. Pada 24 jam yield meningkat kembali karena pelepasan komponen bertitik didih tinggi, namun disertai penurunan kejernihan dan perubahan warna menjadi lebih gelap. Kondisi optimum diperoleh pada durasi 4–5 jam dengan minyak berwarna kuning muda dan jernih, menunjukkan keseimbangan antara kuantitas dan kualitas. Dengan demikian, waktu ekstraksi 5 jam direkomendasikan sebagai durasi paling efektif untuk menghasilkan minyak atsiri <em>Eucalyptus pellita</em> dengan yield dan kualitas visual terbaik.</p>2026-01-31T00:38:39+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3172ANALISIS SEKUEN STRATIGRAFI FORMASI PENOSOGAN PADA DESA KALIGENDING, KEC. KARANGSAMBUNG, KAB. KEBUMEN, JAWA TENGAH2026-01-31T01:05:36+07:00Rizqi Wahyu Pratamarizqijr196@gmail.com<p class="AvoerAbstrak"><span lang="IN"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Salah satu cabang utama pada ilmu geologi adalah stratigrafi yaitu studi mengenai sejarah, komposisi, dan umur relatif serta distribusi perlapisan tanah dan interpretasi lapisan-lapisan batuan untuk menjelaskan sejarah Bumi. Stratigrafi ini mencakup asal-usul, komposisi, umur, sejarah, hubungan dengan evolusi organik, dan fenomena strata batuan lainnya. Lokasi penelitian kali ini berada di Desa Kaligending, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah yang terbentuk ketika kerak bumi yang berbeda bergerak dan menghasilkan yang menyebabkan blok-blok batuan runtuh dan tercampur aduk. Penelitian kali ini difokuskan untuk meneliti sekuen stratigrafi di daerah Karangsambung, serta menginterpretasikan sejarah geologi daerah tersebut melalui kajian lapisan-lapisan batuan yang ada pada daerah penelitian. Metode yang dipakai dalam penelitian ini yaitu studi pustaka geologi regional, penampang stratigrafi diukur ( </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">measurement section</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> ), interpretasi dan korelasi sekuen stratigrafi. Berdasarkan hasil interpretasi dan korelasi sikuen stratigrafi yang telah dilakukan, terdapat 1 SB ( </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Sequence Boundary</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> ) dan diantaranya terdapat TS ( </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Transgressive Surface</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> ) dan MFS ( </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Maximum Flooding Surface</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> ) pada masing-masing sikuen sehingga diperoleh 1 sekuen stratigrafi yang dimana pada sekuen tersebut terdapat LST ( </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Lowstand System Track</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> ), TST ( </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Transgressive System Track</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> ) dan HST ( </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Highstand System Track</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> ). HST terdiri dari material sedimen kasar - halus, sedangkan LST didominasi oleh material sedimen kasar & TST didominasi oleh material sedimen halus ( </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">lumpur</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> ).</span></span></span></p>2026-01-31T01:03:23+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3170PERANCANGAN SISTEM DETEKSI DAN PELACAKAN BOLA MENGGUNAKAN OPENCV PADA ROBOT PENJAGA GAWANG2026-01-31T01:13:01+07:00Felix Marcello Vioneidyfelixmarcello333@gmail.comOcsa Bimantaraocsab.plop@gmail.comTeuku Ahmad Rizal Hekmatyarteukuahmadrizalhekmatyar@gmail.comSuci Dwijayantisucidwijayanti@ft.unsri.ac.idDjulil Amridjulilamri@ft.unsri.ac.idDwirina Yuniartidwirina@unsri.ac.idBhakti Yudho Supraptobhakti@ft.unsri.ac.id<p><strong>ABSTRAK: </strong>Pengontrolan robot tidak lepas dari suatu sistem kendali yang dapat mengolah sinyal yang diterima agar sebuah robot dapat bekerja dengen baik, hal ini tentunya di dukung oleh kemampuan komunikasi atara sebuah kamera yang mampu mengambil gambar dengan jernih (noisless) dengan mikrokontroler robot. Agar mikrokontroler dapat mengenali informasi yang di dapat oleh kamera, di gunakanlah Python untuk mengolah informasi yang di dapatkan olah kamera agar dapat di digunakan oleh mikrokontroler pada robot. Library OpenCV digunakan untuk meningkatkan efisiensi komputasi serta fokus terhadap aplikasi secara realtime. Image Processing tak hanya di aplikasikan untuk industry semata, namun bisa juga di gunakan pada hal lain dalam kehidupan sehari hari.</p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>Robot control cannot be separated from a control system that can process the received signals so that a robot can work well, this is certainly supported by the communication capability between a camera that is capable of taking clear (noiseless) images with the robot microcontroller. So that the microcontroller can recognize the information obtained by the camera, Python is used to process the information obtained by the camera so that it can be used by the microcontroller on the robot. The OpenCV library is used to increase computational efficiency and focus on real-time applications. Image Processing is not only applied to industry alone, but can also be used in other things in everyday life.</p>2026-01-31T01:11:23+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3178PENGARUH PENGGUNAAN BATU KAPUR TANJUNG BARU BATURAJA DAN PASIR LEMATANG MUARA ENIM PADA CAMPURAN LAPIS ASPHALT CONCRETE – WEARING COURSE (AC – WC)2026-01-31T01:33:51+07:00Ahmad Rosihanrosihanahmad3@gmail.com<p>ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai stabilitas maksimum pada campuran Asphalt Concrete–Wearing Course (AC-WC) yang memanfaatkan batu kapur Tanjung Baru Baturaja dan pasir Lematang Muara Enim, serta menentukan kadar aspal optimum yang menghasilkan kinerja terbaik. Data penelitian diperoleh melalui pengujian langsung terhadap karakteristik material dan uji Marshall yang dilaksanakan di Laboratorium Teknik Sipil Politeknik Negeri Sriwijaya. Berdasarkan hasil pengujian, variasi penambahan batu kapur sebagai agregat halus sebesar 0%, 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100% terhadap berat pasir memberikan pengaruh signifikan terhadap parameter Marshall. Nilai stabilitas tertinggi sebesar 2935,48 kg diperoleh pada kadar batu kapur 80%, sedangkan nilai flow tertinggi sebesar 4,23 mm juga tercapai pada kadar yang sama. Nilai rongga udara (VIM) tertinggi sebesar 4,65% dan nilai rongga dalam agregat (VMA) sebesar 15,55% diperoleh pada kadar 100%, sementara nilai rongga terisi aspal (VFA) tertinggi sebesar 77,89% terjadi pada kadar 20%. Selain itu, nilai Marshall Quotient meningkat hingga 949,02 kg/mm pada kadar batu kapur 100%, yang menunjukkan peningkatan stabilitas dan kekuatan campuran perkerasan jalan.</p> <p> </p>2026-01-31T01:32:07+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3134SMART FIRE PREDICTION SYSTEM: MENGGUNAKAN ALGORITMA EXPONENTIAL SMOOTHING2026-01-31T01:54:38+07:00Belza Zanariabelza505@gmail.com<p>Kebakaran merupakan salah satu bencana yang dapat menimbulkan kerugian material maupun korban jiwa. Sistem deteksi kebakaran konvensional masih bersifat reaktif dan sering terlambat dalam memberikan peringatan dini. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem prediksi kebakaran cerdas berbasis <em>Internet of Things</em> (IoT) dengan mengintegrasikan sensor suhu dan kelembapan DHT22, mikrokontroler ESP32, serta protokol komunikasi ESP-NOW. Metode <em>Exponential Smoothing</em> digunakan untuk menganalisis tren data sensor secara <em>real-time</em> sehingga mampu memperkirakan potensi terjadinya kebakaran lebih awal dibandingkan sistem berbasis ambang batas statis. Implementasi dilakukan melalui dua node ESP32, yaitu node sensor dan node aktuator dengan <em>buzzer</em>, yang berkomunikasi secara nirkabel. Hasil pengujian menunjukkan bahwa algoritma Exponential Smoothing mampu meningkatkan akurasi prediksi tren kenaikan suhu, dengan latensi komunikasi rata-rata di bawah 200 ms. Sistem ini terbukti lebih proaktif dalam memberikan peringatan dini, sehingga waktu evakuasi dan pencegahan dapat diperpanjang. Dengan demikian, integrasi IoT dan <em>Exponential Smoothing</em> dapat menjadi solusi efektif dalam pengembangan sistem prediksi kebakaran yang handal, cepat, dan hemat sumber daya.</p>2026-01-31T01:48:48+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3099MELALUI PROSES TERPADU MIKROFILTRASI MEMBRAN KERAMIK MENGUBAH AIR SUNGAI MENJADI AIR BERSIH 2026-02-01T14:51:09+07:00Yogi Astradayougie.astrada@gmail.com<p class="AvoerAbstract"><span lang="IN">The availability of clean water poses a pressing global challenge, particularly in regions relying on surface water sources such as rivers, which are often contaminated with physical, chemical, and biological pollutants exceeding quality standards. This research aims to evaluate the efficacy of an integrated water treatment system—comprising microfiltration–adsorption–ceramic membrane—for transforming river water into safe and environmentally compliant clean water. This configuration was specifically designed to mitigate membrane fouling and enhance pollutant removal efficiency. The methodology involved the fabrication of ceramic membranes from a composite mixture of clay, palm empty fruit bunch (PEFB) activated carbon, and iron powder. The system's performance was subsequently tested using raw water samples from the Kelekar River, Prabumulih. The results demonstrate that the integrated process achieves significant reductions in water quality parameters. Final effluent concentrations show Total Suspended Solid (TSS) reduced to $0.23 \text{ mg/L}$ and Total Coliform dramatically decreased from 1500 /100 mL to 21 /100 mL. These values successfully meet the regulatory standards for clean and potable water quality. Consequently, the implementation of this integrated process is confirmed as an effective and potentially sustainable solution for river water treatment.</span></p>2026-02-01T14:50:29+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3097PETROGENESA BATUAN VULKANIK PADA FORMASI KIKIM, DAERAH PENDOPO DAN SEKITARNYA, KABUPATEN EMPAT LAWANG, PROVINSI SUMATERA SELATAN2026-02-01T14:55:36+07:00Try Dyah Puspitatrydyahpuspita@gmail.comIdarwati Idarwatiidarwati@ft.unsri.ac.id<p>Formasi Kikim merupakan Formasi yang terendapkan setelah <em>basement </em>cekungan Sumatera Selatan, namun dimana untuk penelitian ini dikhususkan pada Formasi Kikim daerah Pendopo dan Sekitarnya, Kabupaten Empat Lawang, Provinsi Sumatera Selatan. Pada Formasi Kikim yang tersusun oleh litologi batuan vulkanik sehingga penelitian ini membahas tentang karakteristik dan proses terbentuknya. Batuan vulkanik yang tersusun pada Formasi Kikim yaitu batuan Lava Andesit dan batuan piroklastik Tuff. Untuk menganalisis karakteristik dan proses terbentuknya batuan vulkanik tersebut menggunakan analisis petrografi kemudian diidentifikasi tekstur khusus dan karakteristik batuan vulkanik daerah penelitian. Selain analisis petrografi dilanjutkan dengan mengidentifikasi asal terbentuknya batuan dan asal fasies gunung api dengan menggunakan analisis DEM. Pada sayatan tipis Lava Andesit terdapat tekstur khusus berupa tekstur porfiritik, tekstur glomerocyrst, sedangkan batuan Tuff didapatkan tidak terdapat tekstur. Dari analisis DEM didapatkan bahwa daerah penelitian termasuk ke dalam fasies proximal. Dari tekstur analisis petrografi dan analisis DEM menunjukkan bahwa pengendapan Lava Andesit terendapkan lebih dahulu dan dilanjutkan pengendapan batuan piroklastik berupa Tuff dan terjadi pada fasies proximal.</p>2026-02-01T14:55:03+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3092Geologi Daerah Tahunan Dan Sekitarnya Kabupaten Rembang Provinsi Jawa Tengah 2026-02-01T14:59:08+07:00Fitra Syazilifitrasyazili49@gmail.com<p>Pemetaan geologi dilakukan di Daerah Tahunan dan sekitarnya, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa tengah, dengan luas area sekitar 81 km² pada skala 1:25.000. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi kondisi geologi lokal yang meliputi aspek geomorfologi, stratigrafi, dan struktur geologi melalui observasi lapangan, analisis laboratorium (petrografi dan paleontologi), serta analisis studio. Berdasarkan hasil analisis geomorfologi, daerah penelitian dapat dibagi menjadi dua satuan morfologiPerbukitan Karst (K2), Perbukitan Lipatan., . Daerah penelitian tersusun atas Formasi Tawun Anggota Ngrayong, Formasi Bulu, Formasi Wonocolo, Formasi Ledok, Formasi Paciran dan Formasi Mundu. Sejarah geologi dimulai pada Miosen Awal dimana terendapkannya Formasi Tawun Anggota Ngrayong pada saat fase transgresi berlangsung. Selanjutnya pada kala Miosen Tengah terendapkan Formasi Bulu secara selaras pada fase regresi terjadi secara meluas. Kemudian Formasi Wonocolo terendapkan secara selaras diatas Formasi Bulu. Formasi ini terbentuk pada saat fase transgresi berlangsung. Pada kala Miosen Akhir, terendapkan Formasi Ledok saat fase regresi. Pada kala Pliosen Awal, terendapkan Formasi Paciran dan Formasi Mundu secara bersamaan saat fase transgresi. Antiklin Pekel berorientasi Timur Laut–Barat Daya (NE–SW).</p>2026-02-01T14:59:08+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3094GEOLOGI DAERAH TANJUNG LENGKAYAP DAN SEKITARNYA, KABUPATEN OGAN KOMERING ULU, SUMATERA SELATAN2026-02-01T15:01:21+07:00Rezi Mirza Trimahendrirezirezimirza@gmail.comIdarwati Idarwatiidarwati@ft.unsri.ac.id<p>Lokasi penelitian terletak di daerah Tanjung Lengkayap dan Sekitarnya, Kecamatan Lengkiti, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera selatan dengan luas wilayah 81 km². Bentuk kenampakan permukaan bumi merupakan hasil dari bukti proses-proses geologi yang sudah berlangsung saat lamanya dalam kurun waktu geologi kemudian menyebabkan adanya penyebaran litologi batuan serta mekanisme pembentukan bentuk lahan. Pola pengaliran sungai pada daerah penelitian yaitu pola pengaliran dendritik . Geomorfologi daerah penelitian dibagi menjadi 4 (empat) satuan geomorfologi, yaitu Perbukitan Rendah, Perbukitan Denudasional, Bentuk lahan Channel Irregular Meander, dan Dataran Aluvial. Berdasarkan analisis DEM (Digital Elevation Model), arah kelurusan berarah barat laut – tenggara. Urutan stratigrafi daerah penelitian terbagi atas 3 formasi, dari tua ke muda ialah Formasi Kikim (Tpok), Formasi Talang akar (Tomt), Formasi Baturaja (Tmb). Struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian menunjukkan adanya pengaruh kuat dari aktivitas tektonik. Struktur utama yang terbentuk berupa sesar mendatar kiri dan sesar turun yang dikontrol oleh gaya tektonik pada fase kompresional ketiga, dengan arah tegasan utama timur laut – barat daya. Sejarah geologi daerah penelitian menunjukkan runtutan kronologi waktu pembentukan formasi batuan dari zaman Tersier hingga Resen.</p> <p> </p>2026-02-01T15:00:47+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3093Perencanaan Desain Lereng Timbunan Pada Desain Life of Mine (LOM) di PIT X PT Bukit Asam Tbk2026-02-01T15:04:27+07:00Dwi Astrina Putridwiastrinaputri@gmail.com<p>PT Bukit Asam Tbk Unit Pertambangan Ombilin berencana membuka kembali kegiatan pertambangan di kawasan Langkok, Sawahlunto, Sumatera Barat. Pada tahap persiapan penambangan (mine development), diperlukan perencanaan desain lereng timbunan yang aman dan efisien sebagai bagian dari desain Life of Mine (LOM). Simulasi lereng tunggal dilakukan untuk menganalisis geometri lereng dengan kondisi yang paling aman dan optimal berdasarkan nilai faktor keamanan. Analisis kestabilan lereng dilakukan dengan perhitungan Morgenstern Price, tipe keruntuhan Mohr-Coulomb, dan dengan menggunakan bantuan Software Geostudio Slope/W 2024. Analisis dilakukan pada dua section yaitu penampang A-A’ dan B-B’ yang disimulasikan pada dua kondisi air tanah yaitu kondisi air tanah kedalaman 16 meter dari permukaan lereng dan kondisi full saturated (muka air tanah sejajar dengan permukaan). Stabilitas overall slope area highwall pada penampang A-A’ termasuk dalam kondisi stabil sedangkan penampang B-B’ termasuk dalam kategori stabil hingga kritis dengan nilai Faktor Keamanan (FK) antara 0,837 sampai 1,563. Desain rekomendasi overall slope dirancang mengacu pada Kepmen ESDM No. 1827K Tahun 2018 sehingga diperoleh kondisi lereng yang stabil pada keadaan jenuh dengan nilai Faktor Keamanan(FK) sebesar 1,501.</p>2026-02-01T15:03:40+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3085ANALISIS DAN PERBAIKAN GEARBOX PADA POMPA SENTRIFUGAL UNTUK SISTEM PENDINGIN INDUSTRI2026-02-01T15:07:11+07:00Venty Lestariventylestari@unsri.ac.id<p><strong>ABSTRAK: </strong>Salah satu komponen utama dalam sistem utilitas industri, khususnya pada sistem pendingin yaitu pompa sentrifugal yang mempunyai fungsi untuk menjaga kestabilan suhu operasi. Dalam sistem pompa, <em>gearbox</em> berperan sebagai komponen transmisi daya yang memiliki peran penting dalam menyesuaikan kecepatan putaran motor terhadap kebutuhan operasional pompa. Kerusakan pada <em>gearbox</em> sering ditandai dengan peningkatan vibrasi dan kebisingan, yang jika tidak terdeteksi secara dini dapat menimbulkan gangguan operasi serius. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebab kerusakan <em>gearbox</em> pompa sentrifugal berdasarkan hasil pengukuran vibrasi serta untuk mengevaluasi efektivitas tindakan perbaikan melalui penerapan <em>predictive maintenance</em>. Data diperoleh melalui pengukuran amplitudo vibrasi, pemeriksaan <em>clearance</em> pada <em>sleeve bearing</em>, pengukuran <em>backlash</em> gear, serta pengujian ulang pasca perbaikan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa <em>sleeve bearing</em> mengalami <em>over clearance</em> sebesar 0,30 mm (melebihi batas 0,25 mm) dan <em>backlash</em> <em>gear</em> mencapai 0,50 mm (melampaui batas 0,40 mm), sehingga amplitudo vibrasi meningkat hingga 10,5 mm/s. Setelah penggantian <em>bearing</em> dan <em>gear</em>, nilai vibrasi turun menjadi 4,4 mm/s, menandakan keberhasilan tindakan perbaikan. Penelitian ini membuktikan bahwa analisis vibrasi efektif sebagai metode untuk mendeteksi dini kerusakan <em>gearbox</em> serta dapat digunakan sebagai dasar implementasi <em>predictive maintenance</em> pada sistem pompa industri.</p> <p>Kata Kunci: Pompa sentrifugal, <em>gearbox</em>, vibrasi, <em>predictive maintenance</em>.</p> <p> </p>2026-02-01T15:06:36+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3044GEOLOGI DAERAH KARANGKEMOJING DAN SEKITARNYA, KABUPATEN DAN SEKITARNYA, KABUPATEN BANYUMAS, PROVINSI JAWA TENGAH2026-02-01T15:09:43+07:00Given Corinthian Panjaitanotandolphino48@gmail.comEdy Sutriyonoedy_sutriyono@unsri.ac.idUgi Gustiugikurnia@unsri.ac.id<p>Penelitian dilakukan pada Daerah Karangkemojing dan sekitarnya, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi keadaan geologi mulai dari aspek geomorfologi, stratigrafi, dan struktur geologi. Hasil analisis kemudian direkonstruksi menjadi sebuah model sejarah geologi dengan menggunakan metode observasi lapangan, analisis laboratorium, analisis studio, dan kartografi. Daerah penelitian terbagi menjadi delapan bentuk lahan, Punggungan Lipatan, Punggungan Sinklin, Lembah Antiklin, Lembah Sinklin, Dataran Denudasional Struktur Patahan, Perbukitan Denudasional Erosi Tinggi, Perbukitan Tinggi Denudasional Erosi Tinggi, dan <em>Channel Irregular Meander</em>. Stratigrafi daerah penelitian dengan urutan tua ke muda tersusun oleh Formasi Rambatan, Formasi Halang, Formasi Kumbang, Formasi Tapak, Anggota Batugamping Formasi Tapak dan Kuarter Aluvium. Struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian yaitu Sesar Karangkemojing I, Sesar Karangkemojing II, Sesar Tipar Kidul, Antiklin Karangkemojing, Antiklin Canduk, Sinklin Canduk, dan Sinklin Cirahab. Sejarah geologi dibagi berdasarkan urutan waktu meliputi, Miosen Tengah terendapkan Formasi Rambatan. Selanjutnya pada Miosen Akhir terendapkan secara menjari Formasi Halang dan Formasi Kumbang. Kemudian pada Pliosen Awal terendapkan Formasi Tapak hingga Pliosen Akhir terendapkan Anggota Batugamping Formasi Tapak. Pada Akhir Pliosen Akhir terjadi deformasi tektonik orde dua yang membentuk rangkaian struktur lipatan dan sesar. Terakhir pada Resen terendapkan Kuarter Aluvium dan terjadi proses denudasional yang berlangsung hingga saat ini.</p>2026-02-01T15:08:38+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3037GEOLOGI DAERAH KEDUNGJATI DAN SEKITARNYA, KABUPATEN GROBOGAN, JAWA TENGAH_RIZKY RACHMADI PRATOMO_030712821260252026-02-01T15:11:42+07:00Rizky Rachmadi Pratomo03071282126025@student.unsri.ac.idEdy Sutriyonoedy_sutriyono@unsri.ac.idUgi Gustiugikurnia@unsri.ac.id<p>Daerah Kedungjati di Zona Kendeng memiliki sejarah geologi kompleks yang diakibatkan oleh adanya proses tektonik dan sedimentasi laut dalam yang membentuk variasi geomorfologi, stratigrafi, dan struktur geologi. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi kondisi geologi dan memahami evolusi pengendapan dari Miosen hingga Pliosen. Metode penelitian ini meliputi pengamatan langsung di lapangan, pengamatan geomorfologi, pengamatan singkapan batuan, pengukuran struktur, pengukuran penampang stratigrafi, serta pengambilan conto batuan. Analisis laboratorium yang dilakukan yakni analisis petrografi berupan sayatan tipis batuan dan analisis mikropaleontologi untuk menentukan umur dan lingkungan pengendapansuatu batuan. Hasil penelitian menunjukkan enam satuan geomorfik utama: Punggungan Antiklin, Punggungan Sinklin, Perbukitan Rendah Denudasional Tererosi Lemah, Perbukitan Rendah Denudasional Tererosi Sedang, <em>Point Bar</em>, dan <em>Channel Irregular Meandering</em>; dan terdapat tiga formasi batuan (Formasi Kerek, Anggota Banyak Formasi Kalibeng, dan Formasi Kalibeng). Analisis fosil planktonik dan bentonik mengindikasikan rentang umur Miosen Tengah hingga Pliosen Akhir yang menunjukkan umur dan lingkungan pengendapan batuan di daerah penelitian. Struktur geologi di daerah penelitian, yakni berupa lipatan dan sesar berarah NE–SW menunjukkan pengaruh tektonik kompresional yang kuat. Oleh karena itu, pengamatan di lapangan dan interpretasi bawah permukaan bertujuan mengungkap evolusi geologi daerah penelitian dan dapat juga memberikan dasar penting untuk mitigasi bencana serta potensi geologi daerah penelitan dan sekitarnya.</p>2026-02-01T15:11:05+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3038Geologi Daerah Gununglarang dan Sekitarnya, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat2026-02-01T15:14:13+07:00Dhiya Ulhaqdhiyaulhaq7178@gmail.comEdy Sutriyonoedy_sutriyono@unsri.ac.idUgi Gustiugikurnia@unsri.ac.id<p class="AvoerAbstrak" style="line-height: 115%;">Pemetaan geologi dilakukan di Daerah Gununglarang dan sekitarnya, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat, berdasarkan Peta Geologi Regional Arjawinangun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi, serta merekonstruksi sejarah geologi daerah penelitian. Metode penelitian meliputi studi literatur, pengamatan lapangan, analisis laboratorium, interpretasi data, dan penyusunan peta geologi. Bentuk lahan utama terdiri atas Punggungan Antiklin, Punggungan Sinklin, Lembah Antiklin, Perbukitan Zona Sesar, Perbukitan Denudasi Tererosi Kuat, Bukit Intrusi, Dataran Banjir, <em>Point Bar</em>, dan <em>Channel Irregular Meander</em>. Stratigrafi daerah penelitian tersusun atas Formasi Cinambo Bagian Bawah (Tomcl) berumur Miosen Awal - Miosen Tengah yang diendapkan pada lingkungan <em>marine lower fan</em> melalui arus turbidit, Formasi Cinambo Atas (Tomcu) berumur Miosen Tengah pada lingkungan <em>marine middle fan</em>, Formasi Halang (Tmhl) berumur Miosen Akhir - Pliosen Tengah pada lingkungan <em>marine upper fan</em>, serta Formasi Citalang (Tpc) berumur Pliosen Tengah - Akhir berupa batupasir tufan pengisi <em>pull-apart basin</em>. Selain itu terdapat Andesit (Ha) hasil intrusi dan Endapan Gunungapi Tua (Qvu) hasil aktivitas vulkanik. Struktur geologi yang berkembang meliputi Antiklin Cibodas, Sinklin Cengal, Antiklin Cimanintin, Sesar Babakanjawa, dan Sesar Cimanintin.</p>2026-02-01T15:13:13+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3043Geologi Daerah Desa Prigi dan Sekitarnya, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah2026-02-01T15:16:18+07:00Fairuz Muhamad Adhafairuzadha08@gmail.comEdy Sutriyonoedy_sutriyono@unsri.ac.idUgi Gustiugikurnia@unsri.ac.id<p>Pemetaan geologi dilakukan di daerah Prigi dan sekitarnya, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian dimaksudkan untuk mengidentifikasi lokasi penelitian dengan luas 9 x 9 km dengan skala 1 : 25.000. Kegiatan penelitian ini dilakukan dengan tahapan survei lokasi penelitian, kemudian melakukan identifikasi dengan tujuannya adalah untuk mengidentifikasi berbagai aspek geologi, seperti struktur geologi, sedimentologi, stratigrafi, petrologi, dan geomorfologi. Hasil penelitian ini akan digunakan untuk merekonstruksi dan memodelkan sejarah geologi di daerah tersebut. Daerah penelitian memiliki enam satuan geomorfik, berupa Perbukitan Tinggi Denudasional Tererosi Lemah, Perbukitan Tinggi Denudasional Tererosi Sedang, Punggungan Antiklin, Punggungan Sinklin, Channel Irregular Meander dan Point Bar. Stratigrafi daerah penelitian terdiri dari tiga formasi, dengan Formasi Kerek sebagai formasi paling tua dengan umur Miosen Tengah – Miosen Akhir dan diatasnya terendapkan secara selaras Formasi Kalibeng yang menjari dengan Anggota Banyak Formasi Kalibeng dengan umur Miosen Akhir – Pliosen Akhir. Ketiga formasi ini terendapkan di lingkungan laut dalam dan lebih tepatnya di bagian submarine fan. Struktur yang berkembang pada daerah penelitian berupa sesar dan lipatan, antara lain Sinklin Candirejo I, Antiklin Candirejo I, Sinklin Candirejo II, Antiklin Candirejo II, Sinklin Kedungjati, Antiklin Kedungjati, Sinklin Prigi, Antiklin Prigi, Sesar Candirejo I, dan Sesar Candirejo II. Struktur tersebut dipengaruhi oleh aktivitas subduksi lempeng dari arah selatan pulau jawa dengan gaya kompresi dominan berarah Barat Daya – Timur Laut.</p>2026-02-01T15:15:38+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3041GEOLOGI DAERAH CISAMPIH DAN SEKITARNYA, KECAMATAN JATIGEDE, KABUPATEN SUMEDANG, PROVINSI JAWA BARAT2026-02-01T15:19:16+07:00Ahmad Thoriq Rabbani Al Ulabramastathoriq@gmail.comEdy Sutriyonoedy_sutriyono@unsri.ac.idUgi Gustiugikurnia@unsri.ac.id<p>Pemetaan Geologi pada daerah Cisampih dan sekitarnya, Kecamatan Jatigede Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Bertujuan untuk memperoleh informasi geologi pada daerah dan menggambarkan kondisi geologi di daerah yang di teliti, yang meliputi geologi struktur, geomorfologi, serta stratigrafi. Data yang dihasilkan melalui metode seperti pengumpulan data lapangan, studi pustaka serta penentuan lokasi,observasi geomorfik, setelah itu dilakukan analisa studio, analisa struktur geologi menggunakan streonet. Berdasarkan observasi lapangan di dapatkan satuan geomorfik daerah penelitian yaitu Perbukitan Denudasional, <em>Triangular facet</em>, Punggungan Antiklin, Punggungan Sinklin, <em>Point bar</em>, Bukit Intrusi, dan <em>CIM</em>. Kondisi Stratigrafi daerah penelitian terdiri dari formasi yang diurutkan dari paling tua ke tua yaitu Formasi Cinambo Anggota batupasir (Tomcl) yang berumur Miosen Awal – Tengah, terendapkan pada bagian <em>lower fan.</em> Formasi Cinambo Anggota batuserpih (Tomcu) yang berumur Miosen Tengah, terendapkan pada bagian <em>middle fan.</em> Formasi Halang Anggota Bawah (Tmhl) yang berumur Miosen Akhir – Pliocene, terendapkan pada <em>upper fan</em>. Formasi Citalang (Tpc) yang berumur pliosen awal, lalu terjadi aktivitas vulkanik berupa intrusi <em>dike</em> dan membentuk intrusi (Ha). Dan di dapat Struktur Geologi pada daerah penelitian terdiri dari Antiklin Cimanintin A, Antiklin Cimanintin B,Antiklin Cimanintin C, Sinklin Cimanintin, Sinklin Cimanintin B, dan Sinklin, Sesar Turun Babakanjawa, Sesar mendatar Cisampih dan Sesar mendatar Ciranggem.</p>2026-02-01T15:18:00+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3042Geologi Daerah Srimenanti dan Sekitarnya, Kabupaten OKU Selatan, Provinsi Sumatera Selatan2026-02-01T15:21:27+07:00Muhammad Zhafranmzhafran146@gmail.comEdy Sutriyonoedy_sutriyono@unsri.ac.idUgi Gustiugikurnia@unsri.ac.id<p>Pemetaan geologi dilakukan di Daerah Srimenanti dan sekitarnya, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Provinsi Sumatera Selatan, dengan luas daerah pemetaan 81 km². Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi, serta merekonstruksi sejarah geologi daerah penelitian. Metode penelitian meliputi studi literatur, observasi lapangan, analisis laboratorium, interpretasi data, dan penyusunan laporan. Stratigrafi daerah penelitian terdiri atas tiga formasi utama, yaitu Formasi Hulusimpang (Tomh) yang terdiri dari andesit, breksi gunung api, dan tuff berumur Oligosen Akhir – Miosen Awal dengan lingkungan pengendapan <em>volcanic</em> – <em>alluvial fan</em>, Formasi Seblat (Toms) yang terdiri dari atas batupasir, batulempung, dan batugamping kristalin berumur Oligosen Akhir –Miosen Tengah dengan lingkungan <em>alluvial fan</em> – <em>shallow marine</em>, serta Formasi Granodiorit (Tmgd) yang terdiri dari granit dan granodiorit yang mengintrusi saat Miosen Tengah. Struktur geologi yang berkembang berupa Antiklin Srimenanti, Sesar Pagar Agung, Sesar Pematang Obar, dan Sesar Srimenanti. Sejarah geologinya menunjukkan pengendapan secara berurutan dari Formasi Hulusimpang diikuti Formasi Seblat, kemudian diintrusi oleh Formasi Granodiorit, dan pada kala Resen berlangsung proses erosi yang memengaruhi morfologi akibat aktivitas alam dan antropogenik.</p>2026-02-01T15:20:46+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3039GEOLOGI DAERAH BODEH DAN SEKITARNYA, KABUPATEN PEMALANG, PROVINSI JAWA TENGAH2026-02-01T15:24:46+07:00Gina Ayasiginaayss12@gmail.comEdy Sutriyonoedy_sutriyono@unsri.ac.idUgi Gustiugikurnia@unsri.ac.id<p class="AvoerAbstrak"><span lang="IN">Penelitian ini membahas kondisi geologi di daerah Bodeh dan sekitarnya, yang berada di Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah. Wilayah tersebut masuk ke dalam Zona Pegunungan Serayu Utara. Masalah utama yang dibahas adalah kurangnya informasi yang jelas mengenai hubungan antara aspek geomorfologi, stratigrafi, dan struktur geologi di daerah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi satuan geomorfologi, urutan stratigrafi, serta struktur geologi yang ada, agar dapat merekonstruksi sejarah geologi daerah penelitian. Untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti menggunakan beberapa metode seperti pemetaan geologi di permukaan, analisis petrografi dan paleontologi di laboratorium, serta interpretasi data struktur geologi dengan bantuan perangkat lunak geologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa urutan batuan terdiri dari Formasi Rambatan (Tmr), Intrusi Diorit (Tmi(d)), dan Formasi Halang (Tmph). Batuan-batuan ini terbentuk dalam lingkungan <em>submarine fan</em> yang disebabkan oleh proses turbidit laut dalam. Struktur geologi utama yang ditemukan adalah sesar dan lipatan yang berarah timur laut hingga barat daya, yang terbentuk akibat gaya kompresi pada masa Pliosen hingga Plistosen. Dari hasil interpretasi, diketahui bahwa evolusi geologi daerah ini dimulai dengan pengendapan sedimen laut dalam pada masa Miosen Tengah, kemudian diikuti oleh intrusi magmatik dan deformasi tektonik yang membentuk morfologi perbukitan yang ada saat ini.</span></p>2026-02-01T15:23:49+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3035STUDI GEOMORFOLOGI DAERAH BELIK DAN SEKITARNYA, KABUPATEN PEMALANG, JAWA TENGAH2026-02-01T15:26:56+07:00Muhammad Alif Setiawanmuhammadalifs549@gmail.comYogie Zulkurnia Rochmanayogie.zrochmana@ft.unsri.ac.id<p>Daerah Belik dan sekitarnya di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, merupakan bagian dari Zona Serayu Utara yang memiliki kondisi geomorfologi kompleks akibat interaksi antara aktivitas tektonik dan vulkanik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuklahan serta menganalisis proses geomorfik yang berperan dalam pembentukan geomorfologi daerah penelitian. Metode yang digunakan meliputi analisis morfografi, morfometri, dan morfogenesa berdasarkan interpretasi data topografi, citra DEM, serta observasi lapangan. Hasil studi menunjukkan bahwa daerah Belik terbagi ke dalam delapan satuan geomorfik utama: Perbukitan Zona Sesar, Punggungan Sinklin, Lembah Antiklin, Perbukitan Denudasional Tererosi Lemah hingga Kuat, Pegunungan Denudasional, Bukit Intrusi, dan Dataran Aliran Lava. Morfologi daerah dikontrol oleh sesar dan lipatan berarah tenggara - barat laut, intrusi diorit, serta aktivitas vulkanik Gunung Slamet pada kala Holosen. Proses geomorfik yang dominan mencakup denudasi, fluvial, dan vulkanik dengan tingkat erosi bervariasi dari lemah hingga kuat. Hasil penelitian ini memberikan gambaran mengenai dinamika pembentukan bentuklahan di daerah Belik yang dipengaruhi oleh kombinasi aktivitas tektonik, erosi, dan vulkanisme.</p>2026-02-01T15:26:24+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2991The EVALUASI TIMBULAN DAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH DI UNIVERSITAS SRIWIJAYA MENUJU KONSEP “GREEN CAMPUS”2026-02-01T15:29:02+07:00NYIMAS SEPTI RIKA PUTRInyimasseptirika@ft.unsri.ac.id<p><strong>ABSTRAK: </strong>Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi eksisting dan merumuskan strategi pengelolaan sampah menuju <em>green campus</em> di Universitas Sriwijaya (UNSRI). Penelitian dilakukan melalui survei lapangan, observasi fasilitas, dan estimasi timbulan sampah berdasarkan jumlah civitas akademika di setiap fakultas. Hasil analisis menunjukkan bahwa total timbulan sampah UNSRI mencapai sekitar 0,064 kg/orang/hari atau 1,76 m³/hari, dengan komposisi dominan organik (48%), plastik (28%), dan kertas (15%). Sistem pengumpulan dan pengangkutan masih belum memenuhi standar SNI 19-3964-1994, terutama karena keterbatasan fasilitas pemilahan di sumber, frekuensi pengangkutan yang rendah, dan belum adanya kelembagaan pengelola sampah kampus. Rekomendasi strategi pengelolaan mencakup penerapan pemilahan di sumber, pembangunan <em>waste station</em> terintegrasi, pengolahan kompos dan daur ulang plastik, pembentukan Unit Pengelola Sampah (UPS), serta integrasi edukasi lingkungan dalam kegiatan akademik. Implementasi peta jalan pengelolaan ini diharapkan dapat menurunkan volume sampah tercampur hingga 50% pada tahun 2030 dan mendukung pencapaian indikator <em>waste management</em> dalam UI GreenMetric, sehingga UNSRI dapat menjadi percontohan kampus berkelanjutan di Sumatera Selatan.</p> <p>Kata Kunci: pengelolaan sampah, green campus, timbulan sampah, Universitas Sriwijaya, UI GreenMetric</p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>This study aims to evaluate the existing solid waste management system and formulate strategic recommendations toward a green campus at Universitas Sriwijaya (UNSRI). Field surveys, facility observations, and waste generation estimations based on the number of academic community members were conducted. The results indicate that the total waste generation at UNSRI is approximately 0.064 kg/person/day or 1.76 m³/day, consisting mainly of organic waste (48%), plastic (28%), and paper (15%). The current collection and transportation systems do not yet comply with SNI 19-3964-1994, due to limited source separation facilities, low collection frequency, and the absence of an institutional waste management unit. The proposed strategies include implementing waste segregation at the source, developing integrated waste stations, promoting composting and plastic recycling, establishing a University Waste Management Unit (UPSK), and integrating environmental education into academic activities. The implementation roadmap is expected to reduce mixed waste volume by up to 50% by 2030 and strengthen UNSRI’s performance in the waste management indicator of the UI GreenMetric framework, positioning the university as a model of sustainable campus development in South Sumatra.</p> <p>Keywords: waste management, green campus, waste generation, Universitas Sriwijaya, UI GreenMetric</p>2026-02-01T15:28:20+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3030VISUALISASI SOUNDSCAPE LINGKUNGAN MELALUI SUSUNAN BUKU: INTEGRASI GEOMETRI ARSITEKTUR DAN IDENTITAS RUANG2026-02-01T15:31:10+07:00Nur Hadiyatun Nabawinhnabawi@unsri.ac.id<p style="margin: 0cm; text-align: justify;"><span style="font-size: 10.0pt;">Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan proses eksplorasi penerapan elemen <em>soundscape</em> sebagai representasi visual dalam konteks arsitektur melalui media susunan buku. Eksplorasi ini berangkat dari gagasan bahwa gelombang suara lingkungan dapat diinterpretasikan ke dalam bentuk spasial yang bersifat nyata (<em>tangible</em>), sehingga memperluas pemahaman mengenai hubungan antara bunyi dan ruang. Proyek <em>The Soundwave</em> karya Penda (2015) dijadikan studi acuan dalam merumuskan pendekatan metodologis penelitian ini. Melalui serangkaian tahapan eksperimental, bunyi-bunyi dari beberapa area rumah—seperti teras, garasi, ruang tamu, dapur, dan ruang keluarga—direkam, dianalisis bentuk gelombangnya, kemudian diterjemahkan ke dalam konfigurasi susunan buku dengan variasi ukuran yang merepresentasikan intensitas serta karakter bunyi. Hasil eksplorasi menunjukkan bahwa representasi visual dari gelombang suara dapat berfungsi sebagai medium untuk memahami karakter akustik lingkungan binaan sekaligus mengungkap identitas ruang melalui pengalaman audial manusia. Dengan demikian, penelitian ini menawarkan pendekatan kreatif yang mengintegrasikan dimensi lingkungan akustik dan nilai-nilai humaniora dalam kajian geometri arsitektur.</span></p>2026-02-01T15:30:39+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3026SIMULASI DURABILITAS BETON NORMAL TERHADAP PENGARUH SUHU TINGGI AKIBAT PROSES PEMBAKARAN2026-02-01T15:33:22+07:00Ramlan Rammadonramlanrammadon10@gmail.comIndra Syahrul Fuadindrasf@univ-tridinanti.ac.idYules Pramona Zulkarnainjules.praz23@gmail.comAde Dharma Wiranataindrasf@univ-tridinanti.ac.idIrwandra Septiadiirwandra1990@univ-tridinanti.ac.idEdlin Al Khuzaifah Hasbiedlinakhasbi1107@univ-tridinanti.ac.idAmmar AsyrafAmmarasyraf0507@univ-tridinanti.ac.id<p>Concrete is one of the most commonly used construction materials due to its high compressive strength and durability under various environmental conditions. However, exposure to elevated temperatures, such as during fire incidents, can significantly reduce its mechanical performance. This study investigates the effect of heating duration on the mechanical properties of concrete through compressive strength, flexural strength, and hammer test analyses. Three concrete grades, f’c 25 MPa, 30 MPa, and 35 MPa, were used to evaluate the influence of initial strength on mechanical degradation after high-temperature exposure. The specimens were prepared following standard procedures and tested at 28 days of curing. Heating was carried out in a furnace for 1, 2, and 3 hours, followed by cooling before testing. The results indicated a substantial decrease in compressive strength with longer heating durations, with the highest reduction of 54.22% observed in 35 MPa after 180 minutes. Similarly, flexural strength decreased most significantly in 35 MPa by 64.58%, while 25 MPa showed the smallest decline of 10.67%. Hammer test results revealed that 30 MPa and 35 MPa concretes exhibited rebound values higher than their design strengths. Overall, the duration of heating significantly affects the mechanical strength and stability of concrete.</p>2026-02-01T15:32:41+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3022MODIFIKASI PENAMBAHAN SYSTEM WATER SPARATOR SEBAGAI SOLUSI REDUCE BREAKDOWN PROBLEM FUEL SYSTEM PADA UNIT HEAVY DUMP TRUCK MODEL TL8592026-02-01T15:35:26+07:00And Ismantoandhi.ismanto@gmail.com<p><strong>ABSTRAK:</strong></p> <p>PT Global Makara Teknik merupakan kontraktor pertambangan batu bara swasta yang menggunakan alat angkut <em>heavy dump truck</em> model TL859 sebagai alat untuk pengangkutan <em>overbuden</em> (OB). Penggunaan bahan bakar biodiesel B40 (40% bahan bakar nabati dan 60% solar) diperusahaan pertambangan indonesia diatur dalam serangakaian kebijakan pemerintah yaitu UU No 22 tahun 2001 tantang minyak dan bumi, peraturan presiden no 191 tahun 2014, peraturan mentri ESDM no 4 tahun 2025 tentang pengusahaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati. Berdasarkan regulasi tersebut perusahaan pertambangan diwajibkan menggunakan B40 untuk operasional unit yang menggunakan mesin diesel. Aplikasi bahan bakar biodiesel B40 di PT Global Makara Teknik belum berjalan dengan baik untuk <em>engine</em> dengan system <em>common rail</em> yaitu unit model TL859, masalah yang terjadi unit mengalami <em>low power</em> dan asap hitam, sehingga dengan masalah tersebut konsumsi penggunaan <em>injector</em> meningkat, PA (<em>physical availability</em>) unit menurun. Metode penelitian ini yaitu menggunakan data kuantitatif dan eksperimen, tujuan penelitian ini adalah untuk menjaga <em>lifetime injector</em> yaitu dengan cara menambahkan proses filtrasi pada <em>fuel</em> dengan pemasangan <em>water sparator</em> tambahan, didapatkan data unit yang telah dipasangkan water <em>sparator</em> sebanyak 46 data dengan hasil<em> lifetime</em> rata-rata yaitu 125 jam, dengan <em>lifetime</em> <em>injector</em> mencapai rata-rata 300 jam, PA unit meningkat menjadi 83.9% dan konsumsi <em>injector</em> dapat di reduce sebesar 48%. Penggunaan solar biodiesel B40 dapat di aplikasikan secara efektif di unit <em>heavy dump truck</em> model TL859 dengan cara penambahan <em>water sparator</em> sehingga proses filtrasi <em>fuel</em> dapat maksimal dan <em>fuel</em> masuk ke ruang bakar secara efektif.</p> <p>Kata Kunci: <em>Common rail, water separator, injector, physical availability</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>PT Global Makara Teknik is a private coal mining contractor that uses heavy dump trucks model TL859 as a means of transporting overburden (OB). The use of B40 biodiesel fuel (40% biofuel and 60% diesel) in Indonesian mining companies is regulated in a series of government policies, namely Law No. 22 of 2001 concerning oil and gas, Presidential Regulation No. 191 of 2014, Minister of Energy and Mineral Resources Regulation No. 4 of 2025 concerning the business and utilization of biofuels. Based on the regulation, mining companies are required to use B40 for the operation of units that use diesel engines. </em><em>The application of B40 biodiesel fuel at PT Global Makara Teknik has not been running well for engines with a common rail system, namely the TL859 model unit, the problem that occurs is that the unit experiences low power and black smoke, so that with these problems the consumption of injector usage increases, the PA (physical availability) of the unit decreases. This research method uses quantitative and experimental data, the purpose of this study is to maintain the lifetime of the injector by adding a filtration process to the fuel with the installation of an additional water separator, obtained data from units that have been installed with a water separator as many as 46 data with an average lifetime result of 125 hours, with an injector lifetime reaching an average of 600 hours, the unit PA increased to 83.9% and injector consumption can be reduced by 30%. The use of B40 biodiesel diesel can be applied effectively in the TL859 model heavy dump truck unit by adding a water separator so that the fuel filtration process can be maximized and the fuel enters the combustion chamber effectively</em></p> <p><em>Keywords: Common rail, water separator, injector, physical availability</em></p>2026-02-01T15:34:55+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3098Pengelolaan endapan lumpur tambang dari hasil pemompaan air asam tambang terhadap produktivity dan ramah lingkungan2026-02-01T15:37:15+07:00Eka PambudiEKAPAMBUDIH@GMAIL.COM<p><strong>ABSTRAK: </strong>Endapan lumpur hasil sedimentasi aktivitas penambangan merupakan salah satu tantangan operasional sekaligus lingkungan dalam kegiatan tambang terbuka. Pada tambang batubara, lumpur tersebut cenderung bersifat asam akibat terkontaminasi air asam tambang. Manajemen pengelolaan air asam tambang dan lumpur menjadi aspek penting karena berhubungan dengan keberlanjutan aktivitas penambangan yang harus diimbangi dengan pengelolaan terhadap lingkungan. Metode konvensional umumnya membutuhkan waktu relatif lama, area <em>disposal </em>khusus<em>, </em>serta metode khusus untuk penimbunan material lumpur. <em>slurry pump </em>dan mesin <em>filter</em> <em>press</em> dapat menjadi metode efektif dalam meningkatkan produktivitas pengelolaan lumpur. Alternatif yang lebih efisien adalah penggunaan mesin <em>filter press</em>, yang terbukti mampu meningkatkan produktivitas pengelolaan lumpur hingga 13% dibandingkan metode konvensional. Mesin ini memisahkan lumpur cair menjadi <em>mud cake</em> dan air. <em>Mud cake</em> akan diakumulasikan pada area tertentu sebelum di-<em>dumping</em> ke area <em>disposal</em> tanpa area <em>disposal</em> khusus. Air yang masuk ke mesin <em>filter press</em> telah dikelola terlebih dahulu menggunakan bahan kimia agar didapatkan nilai <em>total suspended solid</em> dan pH air sesuai baku mutu, sehingga air dapat digunakan kembali sebagai air bersih maupun dialirkan ke sungai. Dengan demikian, penerapan teknologi <em>filter press </em>tidak hanya meningkatkan efisiensi pengelolaan lumpur, tetapi juga mendukung kontinuitas penambangan serta penerapan prinsip keberlanjutan lingkungan pada industri pertambangan batubara.</p> <p>Kata Kunci: efektif, <em>filter press</em>, kontinuitas penambangan, lingkungan, lumpur</p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>Mud deposits resulting from sedimentation caused by mining activities are one of the operational and environmental challenges in open pit mining. In coal mines, the sludge tends to be acidic due to contamination from mine water. The management of mine water and sludge is an important aspect because it is related to the sustainability of mining activities, which must be balanced with environmental management. Conventional methods generally require a relatively long time, a special disposal area, and special methods for storing sludge material. Slurry pump and Filter press machines can be an effective method for increasing sludge management productivity. A more efficient alternative is the use of filter press machines, which have been proven to increase sludge management productivity by up to 13% compared to conventional methods. These machines separate liquid sludge into mud cake and water. The mud cake is accumulated in a specific area before being dumped into a disposal area without a special disposal area. The water entering the filter press machine has been pre-treated using chemicals to achieve total suspended solids and pH levels that meet quality standards, so that the water can be reused as clean water of discharged into rivers. Thus, the application of filter press technology not only improves the efficiency of sludge management, but also supports the continuity of mining and the application of environmental sustainability principles in the coal mining industry.</p> <p>Keywords: effective, filter press, mining continuity, environment, sludge</p>2026-02-01T15:36:42+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3075EVALUASI KINERJA FURNACE F-14-001 DI HIGH VACUUM UNIT (HVU) II PT PERTAMINA INTERNASIONAL REFINERY UNIT III2026-02-03T11:58:06+07:00Andania Putri Zahrazzahradania@gmail.comEnggal Nurismanenggalnurisman@ft.unsri.ac.id<p><strong>ABSTRAK: </strong>PT. Kilang Pertamina Internasional RU III Plaju adalah salah satu bagian dari enam Refinery Unit yang terdiri dari dua proses utama berupa Primary Process dan Secondary Process. Pada prinsipnya proses pengolahan HVU II di PT. Kilang Pertamina Internasional RU III dilakukan dengan cara memisahkan fraksi-fraksi atas dasar perbedaan titik didih dan pada tekanan vakum. Di Unit HVU II tersebut terdapat furnace yang digunakan dalam proses pemisahan fraksi–fraksi minyak. Berdasarkan analisis perhitungan neraca massa dan panas terhadap data operasi yang diamati dari tanggal 27 Agustus – 15 Oktober 2024, nilai efisiensi termal yang didapatkan rata rata sebesar 81.97%. Efisiensi terendah pada periode 78.96%, dan paling tinggi adalah 84.06%, sedangkan nilai efisiensi termal furnace F-14-001 pada data desain sebesar 85%. Nilai dari efisiensi furnace dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kadar O<sub>2</sub> excess, laju alir feed, dan heat loss yang dihasilkan. Heat loss yang besar disebabkan oleh banyaknya panas yang hilang terbawa flue gas ke lingkungan dan berdampak menurunkan efisiensi termal furnace. Oleh sebab itu diperlukan pengecekan dan pemeliharaan untuk memastikan APH (Air Pre Heater) masih berkerja dengan baik, serta mempertimbangkan rasio udara dan bahan bakar agar proses pembakaran lebih optimal.</p> <p>Kata Kunci: Furnace, Heat loss, Air Pre Heater, O<sub>2</sub> excess, Efisiensi Termal</p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>PT. Kilang Pertamina Internasional RU III Plaju is one of the 6 Refinery Units consisting of two main processes, namely the Primary Process and the Secondary Process. In principle, the HVU II processing process at PT. Kilang Pertamina Internasional RU III is carried out by separating fractions based on differences in boiling points and at vacuum pressure. In the HVU II Unit, there is a furnace used in the process of separating oil fractions. Based on the analysis of mass and heat balance calculations on operational data observed from August 27 - October 15, 2024, the average thermal efficiency value obtained was 81.97%. The lowest efficiency was in the period of 78.96%, and the highest was 84.06%, while the thermal efficiency value of the F-14-001 furnace in the design data was 85%. The value of furnace efficiency is influenced by several factors, including the level of excess O2, feed flow rate, and heat loss produced. Large heat losses are caused by the large amount of heat lost to the flue gas and the environment, reducing the furnace's thermal efficiency. Therefore, inspections and maintenance are necessary to ensure the Air Preheater (APH) is still functioning properly, as well as to consider the air-to-fuel ratio for optimal combustion..</p> <p>Keywords: Furnace, Heat loss, Air Pre Heater, O<sub>2</sub> excess, Thermal Efficiency</p>2026-02-02T09:30:21+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3074ANALISIS LINGKUNGAN PENGENDAPAN BERDASARKAN METODE GRANULOMETRI DI SUNGAI RAMBANGNIA, DESA BUNGIN CAMPANG, SUMATERA SELATAN2026-02-02T09:33:08+07:00Febi Annisafebyannisa456@gmail.comRahma Prastika Hayatirahmahprastika92@gmail.comNi Nyoman Adis Dinataadisdinataninyoman@gmail.comMuhammad Ridho Islamical Toriqridhotoriq74@gmail.comYogie Zulkurnia Rochmanayogie.zrochmana@ft.unsri.ac.id<p>Pemahaman terhadap lingkungan pengendapan sedimen di suatu daerah sangat penting untuk merekonstruksi sejarah geologi, menafsirkan dinamika fluida pengendap, serta menilai potensi sumber daya geologi setempat. Namun, hingga kini, informasi mengenai karakteristik sedimen dan lingkungan pengendapan di Desa Bungin Campang, Sumatera Selatan, masih terbatas dan belum dianalisis secara kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menafsirkan lingkungan pengendapan sedimen di daerah tersebut berdasarkan analisis granulometri. Metode yang digunakan berupa analisis granulometri dengan pengambilan sampel di dua titik pengamatan pada sungai Rambangnia, kemudian dilakukan analisis berupa ukuran butir, sortasi<em>, skewness</em>, kurtosis, serta morfologi butir. Analisis granulometri dilakukan dengan menggunakan metode grafis dan metode statistik. Metode statistik menggunakan pendekatan metode Inman, metode Inman modified dan metode Folk & Ward dengan parameter <em>mean</em>, standar deviasi, <em>skewness</em>, <em>kurtosis</em> dan Mcd (<em>Minimum Covariance Determinant</em>). Hasil perhitungan menggunakan metode Inman pada sampel 1 didapatkan masing-masing parameter yakni, 2.30, 0.81, 0.17, 0.65, 0.0039, sedangkan pada sampel 2 didapatkan masing-masing 1.84, 1.1, -0.34, 0.33, hasil perhitungan menggunakan metode Inman (mod) pada sampel 1 didapatkan nilai <em>skewness </em>0.28 , sedangkan pada sampel 2 didapatkan nilai <em>skewness</em> 0.027, hasil perhitungan menggunakan metode Folk & Ward pada sampel 1 didapatkan masing-masing 2.41, 0.8, 0.22, 1.81, 0.008, sedangkan pada sampel 2 didapatkan masing-masing 1.45, 0.99, -0.009, 2,327. Sehingga hasil analisis granulometri didapatkan lingkungan pengendapan yang terjadi pada material yang berada di Desa Bungin Campang yaitu lingkungan Fluvial atau Sungai.</p>2026-02-02T09:32:40+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3068This OPTIMASI KOROSI PADA KOMPOSIT ALUMUNIUM FLY-ASH YANG DIPERKUAT MELALUI HEAT TREATMENT DENGAN MENGGUNAKAN METODE TAGUCHI” 2026-02-02T09:39:40+07:00Qomarul Hadiqoma2007@unsri.ac.id<p><strong>: </strong>Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan ketahanan korosi komposit aluminium yang diperkuat fly ash melalui tanpa peralakuam, perlakuan panas solution treatment dan agingenggunakan metode Taguchi. Variabel yang dikaji meliputi suhu dan waktu penahanan pada tahap solution (510°C, 520, 530°C; 2,3 dam 4 jam) serta aging (150°C,175 dan 200), Waktu tahan (1.2 dam 3 jam) dengan rancangan ortogonal L9 (3⁴). Uji korosi dilakukan menggunakan immersion test dalam larutan NaCl 5%.selama 7 hari Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu aging dan suhu solution treatment paling berpengaruh terhadap ketahanan korosi. Kondisi optimal dicapai pada solution treatment 520°C selama 3 jam dan aging 175°C selama 2 jam, menghasilkan laju korosi minimum 0,00166 mm/year. Analisis S/N dan ANOVA menunjukkan kontribusi terbesar berasal dari suhu aging (57,24%), diikuti suhu solution (1,66%), waktu aging (27,24%), dan waktu solution (7,95%). Metode Taguchi terbukti efektif menentukan parameter perlakuan panas optimal untuk meningkatkan ketahanan korosi dan memperbaiki mikrostruktur komposi</p>2026-02-02T09:35:25+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3061ANALISIS FASIES DAN INTERPRETASI LINGKUNGAN PENGENDAPAN BERDASARKAN PENDEKATAN MEASURED SECTION DI LINTASAN SUNGAI KALISOKA, KEBUMEN, JAWA TENGAH2026-02-02T09:43:28+07:00Andri Usmi Pratamaandriusmipratama@gmail.comHanisa Dean Syaputrihanisadeans@gmail.comAhmad Hafiz Nurmansyahnurmansyah1406@gmail.comPutri Natasya Salsabilanatasyaputrisalsa14@gmail.comYogie Zulkurnia Rochmanayogie.zrochmana@ft.unsri.ac.id<p>Sungai Kalisoka yang terletak di Daerah Kalijaya, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, merupakan salah satu lokasi penting untuk memahami evolusi sedimentasi Formasi Penosogan yang tersusun oleh endapan batulempung, batulanau, dan batupasir bersifat karbonatan. Formasi ini secara regional merekam aktivitas pengendapan turbidit yang berkembang pada tatanan kipas bawah laut (<em>submarine fan system</em>). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakter fasies dan menafsirkan lingkungan pengendapan daerah Kalijaya. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan <em>measured section</em> pada beberapa lintasan yang mewakili variasi litologi Formasi Penosogan. Setiap satuan diukur dan dideskripsikan berdasarkan ciri megaskopis seperti warna, ukuran dan sortasi butir, struktur sedimen, serta hubungan antar lapisan. Hasil pengamatan menunjukkan urutan vertikal dari batulempung berstruktur masif menuju batupasir dengan laminasi sejajar dan bersilang-siur, yang mengindikasikan urutan pengendapan turbidit sesuai model Bouma. Berdasarkan asosiasi fasies, lingkungan pengendapan diinterpretasikan sebagai bagian <em>distal fan</em> dari sistem kipas bawah laut. Pola <em>fining upward</em> yang berkembang menggambarkan penurunan energi arus sedimen ke arah laut. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman proses sedimentasi turbidit karbonatan serta evolusi stratigrafi Formasi Penosogan di Karangsambung.</p>2026-02-02T09:42:52+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3063IDENTIFIKASI MORFOLOGI FOSIL FORAMINIFERA PADA FORMASI HALANG, DAERAH JALATRANG, KABUPATEN KUNINGAN, JAWA BARAT2026-02-02T09:47:02+07:00Nadila Zaharanadilazra22@gmail.comVeri Apriansaveriapriansyah2002@gmail.comBening Alya Khatulistiwabeningalyaaa@gmail.comIdarwatiidarwati@ft.unsri.ac.idYogie Zulkurnia Rochmanayogie.zrochmana@ft.unsri.ac.id<p>Aktivitas pertambangan batubara di Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera Selatan, memberikan kontribusi besar terhadap menunjang Pembangunan dan pertumbuhan ekonomi lokal. Namun, eksploitasi yang berlangsung tanpa rehabilitasi menimbulkan dampak ekologis serius, seperti kerusakan lahan, penurunan kesuburan tanah, hingga degradasi hidrologi. Oleh karena itu, rehabilitasi lahan pasca tambang menjadi isu penting yang memerlukan keterlibatan berbagai pihak, terutama masyarakat termasuk siswa sebagai generasi masa depan. Kegiatan edukasi dilaksanakan pada salah satu Sekolah Menengah Atas di Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan, dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswa terhadap pentingnya pemulihan lingkungan pasca tambang. Evaluasi dilakukan melalui <em>pre-test</em> dan <em>post-test</em> untuk mengukur tingkat efektivitas edukasi. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan kesadaran peserta setelah kegiatan berlangsung. Faktor pendukung keberhasilan meliputi penyampaian materi yang jelas dan dukungan aktif dari pihak sekolah, sedangkan keterbatasan partisipasi masyarakat menjadi salah satu hambatan dalam proses rehabilitasi lahan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi lingkungan memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran ekologis di kalangan remaja yang tinggal di wilayah terdampak pertambangan.</p>2026-02-02T09:46:19+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3057ANALISIS TEKNIS KONSTRUKSI UNIT TRAIN LOADING STATION 103 (TLS103) BANKO BARAT2026-02-02T09:51:06+07:00Praja Dilla Atosatosprajadilla@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk melakukan technical assessment terhadap konstruksi dan pondasi Train Loading Station 103 (TLS103) di Banko Barat, Tanjung Enim. TLS103 merupakan fasilitas pemuatan batubara yang beroperasi sejak 1997 dengan kapasitas 26.065 ton per hari atau 8,76 juta ton per tahun. Metode penelitian meliputi penggambaran ulang (re-drawing), pengukuran geometri, simulasi pembebanan statis, pengujian material dengan metode non-destructive testing (NDT), hammer test beton, analisis umur lelah (fatigue life), dan evaluasi fitness for service. Hasil penelitian menunjukkan struktur silo dan pondasi masih dalam kondisi aman dengan tegangan von Mises 141 MPa (< yield strength material). Analisis fatigue memperkirakan sisa umur operasi ±17,45 tahun. Rekomendasi mencakup perbaikan pondasi, mitigasi korosi, inspeksi berkala, dan pengawasan beam load cell.</p>2026-02-02T09:50:41+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2967ANALISIS MUKA AIR TANAH MENGGUNAKAN DRONE PADA TIMBUNAN LAMA PT. BUKIT ASAM TBK., MUARA ENIM, SUMATERA SELATAN2026-02-02T09:56:47+07:00Annisa Maharani03071282025034@student.unsri.ac.id<p>Air tanah merupakan salah satu sumberdaya yang memiliki peran penting bagi lingkungan dan masyarakat, pemantauan kondisi muka air tanah pada timbunan lama tambang umumnya sangat diperlukan sebagai aspek pendukung untuk memastikan kondisi stabilitas timbunan serta mencegah adanya kerusakan lingkungan. Penelitian ini memanfaatkan teknologi drone multispektral dengan data penginderaan jarak jauh sebagai salah satu aspek pendukung dalam memperkirakan kondisi muka air tanah pada area penelitian yang kemudian membahas tahapan mulai dari pengambilan, pengolahan data, analisis statistik, hingga interpretasi hasil. Analisis indeks vegetasi pada lokasi penelitian menunjukkan bahwa daerah tersebut didominasi oleh indeks vegetasi sedang hingga tinggi mengindikasikan potensi kondisi air tanah yang baik, klasifikasi kejenuhan air tanah didominasi kategori agak jenuh cukup jenuh dan tidak ditemukan area dengan kondisi kering, dengan adanya dukungan teknologi drone ini terbukti mampu dalam melakukan survey kondisi tutupan lahan pada area yang sulit dijangkau dengan lebih efisien. Pengolahan data drone dengan menggunakan band reflektansi yang menghasilkan dua indeks vegetasi yaitu Indeks <em>Normalized Difference Vegetation Index</em> (NDVI) dan <em>Optimized Soil Adjusted Vegetation Index</em> (OSAVI) hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kelembaban pada area penelitian cenderung agak jenuh (53,85%).</p> <p><em>Groundwater is an essential resource for both the environment and society. Monitoring groundwater levels in old mine dumps is generally necessary as a supporting factor to ensure the stability of the dumps and prevent environmental damage. This study utilizes multispectral drone technology with remote sensing data as one of the supporting aspects in estimating groundwater conditions in the study area, which then discusses the stages from data collection, processing, statistical analysis, to interpretation of results. Analysis of the vegetation index at the research site shows that the area is dominated by a moderate to high vegetation index, indicating the potential for good groundwater conditions. The classification of groundwater saturation is dominated by the moderately saturated and sufficiently saturated categories, and no areas with dry conditions were found. With the support of drone technology, it has been proven to be capable of surveying land cover conditions in areas that are difficult to reach more efficiently. Drone data processing using reflectance bands produced two vegetation indices, namely the Normalized Difference Vegetation Index</em> (NDVI) <em>and Optimized Soil Adjusted Vegetation Index (OSAVI). Study results indicate that the moisture conditions in the study area tended to be moderately saturated (53.85%).</em></p>2026-02-02T09:55:05+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3050KAJIAN GEOMORFOLOGI DAERAH COGREG DAN SEKITARNYA, KABUPATEN TASIKMALAYA, JAWA BARAT2026-02-02T10:03:27+07:00Putri Caswikacaswikaputri@gmail.comYogie Zulkurnia Rochmanayogie.zrochmana@ft.unsri.ac.id<p>Penelitian dilaksanakan di Daerah Cogreg, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Daerah Cogreg mempunyai relief yang menarik dan morfologi beragam. Kenampakan morfologi yang beragam ini menunjukkan bahwa Daerah Cogreg mengalami proses geologi. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui karakteristik geomorfologi beserta aspek-aspek yang terdapat di dalamnya dan faktor yang mempengaruhinya. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan sistematis untuk memahami bentuk lahan (landform) serta proses geologi yang mempengaruhi pembentukannya, dengan bantuan pengolahan data DEMNas. Metode ini terdiri dari tiga tahap utama, yaitu studi literatur, observasi lapangan, dan analisis studio. Analisis geomorfologi dilakukan dengan pendekatan berdasarkan aspek-aspek geomorfologi, yaitu morfografi (bentuk laham dan pola pengaliran), morfometri (kemiringan lereng), dan morfogenentik (proses endogen dan eksogen). Hasil satuan geomorfik daerah penelitian dibagi menjadi Perbukitan rendah denudasional tererosi sedang (PRDTS) mencakup 45% daerah penelitian, Perbukitan denudasional tererosi kuat (PDTK) mencakupi 7% daerah penelitian, Perbukitan karst (PK) mencakup 48% daerah penelitian, <em>Channel irregular meander </em>(CIM).</p>2026-02-02T10:02:57+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3049STUDI GEOMORFOLOGI DAERAH KALIBUNDER DAN SEKITARNYA, KABUPATEN SUKABUMI, JAWA BARAT2026-02-02T10:07:56+07:00M Rafli Halomoan Siregar03071382126056@student.unsri.ac.idYogie Zulkurnia Rochmanayogie.zrochmana@ft.unsri.ac.id<p class="AvoerAbstrak"><span lang="IN">Daerah Kalibunder dan sekitarnya di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, termasuk dalam Zona Bogor yang memiliki kondisi geomorfologi kompleks akibat interaksi antara aktivitas tektonik, vulkanik, dan proses denudasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi satuan bentuklahan serta menganalisis proses geomorfik yang berperan dalam pembentukan morfologi daerah penelitian. Metode yang digunakan meliputi analisis morfografi, morfometri, dan morfogenesa berdasarkan interpretasi data topografi, citra DEM, serta observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah Kalibunder terbagi atas dua satuan geomorfik utama, yaitu Perbukitan Karst (PK) dan Perbukitan Denudasional Tererosi Sedang (PDTS). Satuan PK dikontrol oleh litologi batugamping Formasi Cibodas dengan proses pelarutan dominan, sedangkan PDTS dikontrol oleh litologi breksi dan batupasir tufan dengan proses dominan berupa erosi dan pelapukan. Aktivitas tektonik sesar Mekarwangi turut mempengaruhi pembentukan topografi dan pola aliran sungai di daerah penelitian.</span></p>2026-02-02T10:06:40+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3048ANALISIS MIKROPALEONTOLOGI FOSIL FORAMINIFERA PLANKTONIK DAN BENTONIK FORMASI GUMAI DAN FORMASI BATURAJA, DAERAH MEHANGGIN DAN SEKITARNYA, KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN, SUMATERA SELATAN2026-02-02T10:11:40+07:00Ananda Giselle Putri Ianuaranandagiselleputri@gmail.comIdarwatiidarwati@ft.unsri.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk menentukan umur relatif dan lingkungan pengendapan Formasi Baturaja serta Formasi Gumai di daerah Mehanggin dan sekitarnya, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan. Analisis dilakukan melalui metode paleontologi dan petrografi terhadap tiga sampel batugamping dan batupasir karbonatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Formasi Baturaja memiliki umur relatif N8–N14 (Miosen Awal–Tengah) dengan lingkungan pengendapan Neritik Tepi hingga Neritik Tengah. Formasi Gumai memiliki umur relatif N8–N9 (Miosen Awal–Tengah) dengan lingkungan pengendapan yang sama, ditandai oleh dominasi spesies foraminifera planktonik beriklim hangat dan foraminifera bentonik khas laut dangkal. Kesamaan umur, lingkungan batimetri, serta karakter litologi antara kedua formasi menunjukkan adanya hubungan fasies menjari yang mencerminkan transisi lateral dari endapan karbonat laut dangkal menuju endapan klastik halus. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman hubungan stratigrafi dan dinamika pengendapan Formasi Baturaja dan Formasi Gumai di Cekungan Sumatera Selatan.</p>2026-02-02T10:10:58+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://www.ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3046Geologi Daerah Kinal dan Sekitarnya, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu2026-02-02T10:15:14+07:00Alfaris Hadi Pramanafarizzzpramana@gmail.comEdy Sutriyonoedy_sutriyono@unsri.ac.idUgi Gustiugikurnia@unsri.ac.id<p>Pemetaan geologi dilakukan di Daerah Kinal dan sekitarnya, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, dengan luas area 81 km² dan skala 1:25.000. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi kondisi geologi lokal, mencakup aspek geomorfologi, stratigrafi, dan struktur geologi melalui observasi lapangan, analisis laboratorium (petrografi, paleontologi), dan analisis studio. Berdasarkan analisis geomorfologi, daerah penelitian terbagi menjadi enam satuan, yaitu <em>Channel Bar</em> (CB), Dataran Alluvial (DA), Punggungan Zona Sesar (PZS), Perbukitan Karst (PK), Perbukitan Denudasional Erosi Lemah (PDEL), dan Perbukitan Denudasional Erosi Kuat (PDEK). Stratigrafi daerah terdiri dari dua formasi utama dan endapan Kuarter. Formasi Lemau (Miosen Tengah – Akhir) dengan litologi batupasir, breksi, batugamping, dan batulempung. Formasi Simpangaur (Miosen Akhir – Pliosen Awal) yang didominasi batupasir moluska, batupasir tuffan, batulempung tuffan, dan konglomerat. Struktur geologi yang terbentuk adalah tiga sesar turun yang terjadi pada Miosen Akhir hingga Pliosen Awal. Sesar Manau IX dan Lungkangkule berorientasi Timur Laut–Barat Daya (NE–SW), sementara Sesar Padangmanis berorientasi Barat Laut–Tenggara (NW–SE). Sejarah geologi dimulai pada Miosen Tengah dengan pengendapan Formasi Lemau, diikuti Formasi Simpangaur, dan diakhiri dengan pembentukan struktur sesar serta proses geomorfologi permukaan pada Kuarter.</p>2026-02-02T10:14:45+07:00Copyright (c) 2026 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)