OPTIMASI PIT PENAMBANGAN NIKEL LATERIT DI PT XYZ
Abstract
Indonesia merupakan produsen nikel terbesar dunia dengan produksi 1,6 juta metrik ton pada 2022 (48,48% produksi global) dan cadangan 17,7 miliar ton bijih atau 177,8 juta ton logam. Sebagian besar nikel laterit terdapat di wilayah timur, khususnya Morowali, Sulawesi Tengah, sementara potensi greenfield tersebar di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. PT XYZ memiliki dua anak perusahaan dalam satu IUP di Desa Laroenai, Morowali, yaitu PT Cikara Bhuana (CB) dan PT Mitra Mineral Pelita (MMP). Untuk menjaga stabilitas produksi dan kualitas, PT XYZ menerapkan strategi optimasi pit guna meningkatkan efisiensi penambangan berkelanjutan. Penelitian ini melakukan perancangan ulang pit tambang terbuka nikel laterit dengan optimasi menggunakan software Geovia Whittle 4.7 pada blok A (CoG 1.1) dan B (CoG 1.2). Hasil optimasi menunjukkan cadangan blok A sebesar 8.272.832 ton dengan elevasi 375–545 mdpl, sedangkan blok B sebesar 2.769.360 ton pada elevasi 293–580 mdpl. Desain ultimate pit limit disusun berdasarkan hasil optimasi dan rekomendasi geoteknik, dengan geometri lereng: lebar berm 2 m, tinggi 3 m, kemiringan single slope 55°, serta intermediate berm 4 m setiap 12 m bench. Hasil analisis ekonomi menunjukkan NPV blok A sebesar USD 32.981.987 dengan IRR 94,82%, sedangkan blok B menghasilkan NPV USD 6.336.304 dengan IRR 45,61%. Umur produksi maksimum yang diperoleh dari kedua blok mencapai 10 tahun. Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan optimasi pit mampu meningkatkan efisiensi perencanaan tambang nikel laterit sekaligus menghasilkan nilai ekonomi tinggi dengan tetap memperhatikan aspek geoteknik dan keberlanjutan.
